Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pati

Hadiri Peringatan Waisak, Bupati: Kita Harus Bersatu Saling Mengasihi

09 Mei 2019, 10: 09: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

RAYAKAN PERBEDAAN: Bupati Pati menghadiri peringatan Waisak 2563 BE yang dihadiri umat Budha dari Pati, Kudus, Jepara di Vihara Bodhi Kalola, Desa Karangsari, Cluwak, belum lama ini.

RAYAKAN PERBEDAAN: Bupati Pati menghadiri peringatan Waisak 2563 BE yang dihadiri umat Budha dari Pati, Kudus, Jepara di Vihara Bodhi Kalola, Desa Karangsari, Cluwak, belum lama ini. (HUMAS PATI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

CLUWAK – Ribuan umat Budha menghadiri menghadiri peringatan Waisak 2563 BE (Buddhis Era) yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) Kabupaten Pati di Vihara Bodhi Kaloka, Desa Karangsari, Kecamatan Cluwak pada Minggu (5/5) lalu. Bupati Pati Haryanto juga terlihat hadir dalam acara tersebut.  

Ribuan umat Buddha itu berasal Pati, Kudus, dan Jepara. Haryanto mengucapkan selamat kepada warga Buddha yang memperingati Trisuci Waisak.

Orang nomor satu di Pati itu mengapresiasi tema yang diusung KBI dalam perayaan Waisak tahun ini, yakni "Mencintai Tanah Air Indonesia".

Membahas tema tersebut, Bupati Haryanto mengaitkannya dengan pelaksanaan pesta demokrasi dan upaya menjaga kebersamaan sebagai wujud cinta tanah air. ”Sebagaimana tema yang diusung, dengan kondisi di mana kita seringkali dipertemukan dengan pesta demokrasi, mulai pilkades, pilkada, pileg, hingga pilpres, seringkali kita seakan-akan dipisahkan antara satu dengan yang lain,” katanya.

Namun, lanjut dia, dengan kedewasaan bapak ibu sekalian, kita patut bersyukur, yang ramai hanya di media sosial. Di kehidupan nyata kita lebih dewasa. Sebab, setiap kali memperingati hari besar keagamaan, kita tidak pernah mengajarkan untuk berseteru.

Haryanto berharap, peringatan Waisak dapat memberi semangat dan inspirasi agar bangsa Indonesia tidak mudah terpecah belah, lebih-lebih karena perbedaan keyakinan.

”Kita harus bersatu agar saling mengasihi, tidak bercerai berai. Semangat cinta tanah air harus dimulai dari kita yang ada di bawah,” tandasnya.

Menurut Haryanto, peringatan hari besar keagamaan antara lain dilakukan untuk meneladani nilai kebersamaan dan semangat guyub rukun yang dicontohkan para pendahulu dan para pemuka agama.

”Semua agama tidak ada yang memberi ajaran yang tidak baik, misalnya memusuhi negara dan mencerai-berai masyarakat. Kalau ada yang seperti itu, dia hanya oknum yang ingin membuat suasana tidak damai. Oleh karena itu, jangan ada anggapan bahwa yang mayoritas menang-menangan dan yang minoritas merasa tertekan. Kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup damai di negara ini,” tegasnya.

(ks/him/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia