alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Ciri Orang yang Dicintai Allah

07 Mei 2019, 07: 16: 40 WIB | editor : Ali Mustofa

Abdul Haris Naim; Wakil Dekan I Fak. Syari’ah IAIN Kudus

Abdul Haris Naim; Wakil Dekan I Fak. Syari’ah IAIN Kudus (dok pribadi)

Share this      

AL-HAKIM dalam kitab al Mustadrak menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”.

Ciri-ciri orang yang dicintai Allah adalah: Pertama, dia dibimbing oleh Allah. Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka hamba tersebut akan berada dalam tuntunan Allah. Allah Arahkan dia dalam kebaikan. Allah tidak rida langkahnya menuju hal yang dibenci Allah. Allah tidak Rida matanya melihat apa yang dibenci oleh Allah. Allah tidak Rida pendengarannya mendengar apa yang dibenci Allah. Dia akan dibimbing oleh Allah untuk mudah sadar dan kembali kepada-Nya dengan bertobat. Misalnya bagaimana Allah menjaga sahabat Ma’iz, sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW. Ia mengatakan, “Ya Rasulullah sucikan aku!” Maka Rasulullah SAW menanyakan kepada para sahabat apakah sahabat Maiz sudah gila? Para sahabat mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia dalam keadaan waras.” Ma’iz disuruh pulang, namun hari berikutnya datang kembali kepada Rasulullah seraya mengatakan “Ya Rasulullah, sucikan aku.” Ia berkata begitu karena telah melakukan perbuatan zina. Setelah tiga kali datang dan dipastikan, maka Ma’iz dihukum rajam. Setelah kematiannya, Rasulullah SAW bersabda: “Maiz betul-betul telah bertaubat yang sempurna. Seandainya taubat Maiz dapat dibagi-bagikan di tengah-tengah ummat niscaya mencukupi buat mereka”.

Kedua, Allah akan mengumpulkannya dengan orang yang mencintai dirinya karena Allah dan dia mencintai mereka karena Allah. Cinta karena Allah adalah faktor yang menyebabkan kecintaan Allah kepada seseorang. Oleh karena itu hati yang dipadu cinta bersama saudaranya karena Allah, akan mudah melekat. Seiring dengan berjalannya waktu dia akan tetap melekat. berbeda dengan kecintaan yang dibangun bukan atas dasar Allah. Contohnya adalah Saad bin Muadz. Ibnu Al Jauzi mengisahkan ketika Saad bin Muadz sedang menderita sakit, maka beliau menangis karena melihat banyak temannya yang dekat dengan dirinya tidak menjenguk, sehingga kemudian dia bertanya kepada pembantunya, “Ada apa dengan teman-temanku? kenapa mereka tidak menjengukku?” Maka pembantunya diminta untuk mencari sebabnya. Kemudian diketahui bahwa mereka tidak menjenguk Saad bin Muadz Karena mereka malu akibat memiliki hutang kepadanya. Maka Saad bin Muadz mengatakan, “Sungguh dunia telah memisahkan antara diriku dan para sahabatku yang membangun cinta karena Allah.” Saad kemudian memerintahkan pembantunya untuk mengumpulkan kantong sebanyak orang yang berhutang kepadanya, kemudian kantong itu diisi dinar dan dirham. Kantong-kantong itu kemudian dibagikan kepada orang yang berhutang kepadanya dan dia mengatakan semua utang mereka bebas karena Allah.

Ketiga, diberi ujian oleh Allah. Jangan memandang ujian sebagai hal yang negatif, karena ada di antara ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya itu baik untuk dirinya. Ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya merupakan bagian dari cara Allah menunjukkan rasa cintanya. Oleh karena itu Ibnu Qayyim menyebutkan sesungguhnya dari sifat Allah adalah cinta dan cemburu. Allah cemburu jika hambanya sibuk dengan dunia sehingga fokusnya hanya pada dunia saja, dan lupa kepada Allah. Kecemburuan Allah ini ditunjukkan dengan Allah memberikan ujian kepada-Nya, agar dia tahu ke mana dia pulang. Dalam hal ini, para Nabi adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah karena mereka diberikan banyak ujian oleh Allah. Nabi Muhammad SAW telah menyatakan kepada para sahabat bahwa beliau adalah orang yang paling besar ujiannya di antara mereka. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia