Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Marhaban Ya Ramadan

06 Mei 2019, 09: 03: 07 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

HALL Radar Kudus Building yang biasanya sepi Jumat lalu berubah menjadi religius. Karyawan termasuk para wartawan menggelar doa bersama untuk menyambut Ramadan. Ustad Ali Mustofa memimpin doa bersama memohon pengampunan. Dia seorang disainer halaman Jawa Pos Radar Kudus dan redaktur on line.

Setiap kali ada acara, apalagi keagamaan, dialah yang didapuk menjadi imam doa. Dia pula yang memimpin tarawih dan witir berjamaah di Radar Kudus yang biasanya juga dilakukan di musala kantor.

Saya mengikuti ritual menjelang Ramadan tahun ini dua kali. Di Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Kudus. Kedua perusahaan yang sama-sama saya pimpin. Bagi saya ritual keagamaan itu penting. Untuk keseimbangan. Lahir dan batin. Sebab, setiap hari karyawan sudah dituntut untuk bekerja keras menghadapi persoalan keduniawian.

Bagi karyawan Radar Semarang dan Radar Kudus, ritual menjelang Ramadan itu asing. Baru kali ini dilaksanakan. Padahal, di masyarakat sudah membudaya. Ada yang menyebut ruwahan (konon ruwah berasal dari kata arwah. Bulan Ruwah berarti penghormatan untuk arwah).

Di banyak masjid digelar doa bersama. Bahkan ada yang lebih dramatik. Dari pagi ada pembacaan surat Alfatekhah untuk orang yang sudah meninggal. Disebutkan namanya satu per satu. Tak pelak sampai malam. Ini juga mengikuti budaya ruwahan.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian selatan, orang ramai melakukan nyadran. Ke makam mendoakan sanak keluarga yang sudah meninggal. Ada yang menyebut nyekar. Ke makamnya dengan membawa bunga. Kemarin saya juga melakukannya ke makam istri. Agak terlambat. Hampir maghrib. Bersama tiga anak saya yang semuanya laki-laki.

Perwujudan tradisi nyadran juga bermacam-macam. Yang lengkap didahului membersihkan makam, berdoa untuk para arwah, dan diikuti selamatan. Tetapi, ada yang  melakukannya sebagian.

Ada yang menyebut tradisi menjelang Ramadan itu megengan. Artinya menahan diri. Yaitu persiapan untuk menjalankan ibadah puasa. Perwujudannya juga macam-macam. Ada yang dengan selamatan. Di rumah nyaris setiap hari pada pekan terakhir bulan Sya’ban ada orang yang mengantar makanan. Kemarin malam ketika masuk rumah setelah sepekan di tempat kerja saya masih kebagian satu kotak utuh. Salah satu jajan wajibnya apem. Konon (entah benar apa tidak) nama makanan itu berasal dari afwu (ampunan). Digunakan untuk selamatan sebagai perlambang permohonan maaf untuk keluarga yang sudah meninggal.

Di banyak daerah acara menyambut Ramadan dilakukan dengan berbagai kemeriahan. Di Kudus dengan dandangan. Di Semarang ada dugderan. Sedangkan di Demak megengan. Di berbagai tempat ada arak-arakan.

Tidak ada kewajiban untuk melakukan ritual menjelang Ramadan. Tetapi, bagi saya perbuatan baik lebih baik dilakukan selagi bisa. Yang penting tidak menjadikannya sebagai syare’at peribadatan. Dan, yang lebih penting lagi tidak dilakukan dengan (niat) hura-hura.

Di Radar Kudus dan Radar Semarang acara menyambut Ramadan lebih ditekankan untuk memohon pengampunan kepada Allah, baik untuk diri sendiri maupun keluarga yang sudah meninggal. Juga mempersiapkan mental untuk menjalankan puasa sebulan penuh. Sehingga karyawan bisa menjalankan ibadah dengan khusuk untuk mencapai ketaqwaan.

Acara didahului salat Asar berjamaah. Diikuti tahlil, tausiah, doa, dan diakahiri makanan aneka jajan yang di antaranya apem. Tausiahnya tentu tentang hakekat puasa.

Banyak orang yang berpuasa, tetapi mereka hanya mendapatkan haus dan dahaga. Itu karena tidak dilakukan dengan penuh ketaqwaan. Secara fisik mereka tidak makan dan tidak minum serta tidak berhubungan badan dari fajar hingga maghrib. Puasa seperti itu secara syare’at sah. Tetapi, hakekat puasa tidak seperti itu. Yaitu menahan hawa nafsu. Yang kalau dijabarkan panjang sekali.

Puasa tidak hanya dilakukan oleh umat Islam. Umat agama lain juga melakukannya. Caranya saja yang berbeda-beda. Waktunya juga. Sekarang waktunya umat Islam menjalankannya sebulan penuh. Ibadah sunnah (kalau dilakukan mendapat pahala kalau ditinggalkan tidak berdosa) yang dilakukan setiap malam Ramadan. Hari ini mereka berpuasa. Alhamdulillah ada kesamaan hitungan antara Muhammadiyah dan NU. Juga kesamaan dengan pemerintah.

Marhaban (selamat datang) ya Ramadan. Selamat berpuasa. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia