Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Features
Daud Hery Palajukan, Pelatih Kiper Persiku

Belajar Sport Science Bersama Anggota dari Tiga Benua

04 Mei 2019, 07: 27: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

PIAWAI: Daud Hery Palajukan memberikan arahan kepada kiper Persiku saat berlatih di Stadion Wergu Wetan beberapa waktu lalu.

PIAWAI: Daud Hery Palajukan memberikan arahan kepada kiper Persiku saat berlatih di Stadion Wergu Wetan beberapa waktu lalu. (VEGA MA’ARIJIL ULA/RADAR KUDUS)

Share this      

Daud Hery Palajukan mengenal sport science telah bergabung bersama beberapa pelatih Eropa. Dalam grup diskusi itu terdapat ribuan pelatih. Mereka berasal dari berbagai mancanegara. Termasuk pelatih yang sudah memiliki lisensi UEFA Pro.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

DITEMUI di mes Persiku Kudus, Daud menyambut baik kedatangan wartawan Jawa Pos Radar Kudus. Daud yang merupakan pelatih kiper Persiku Kudus menceritakan awal mula perjalanan hidupnya hingga menjadi seorang pelatih kiper.

Alasan Daud memilih menjadi kiper lantaran postur tubuhnya yang sedari kecil sudah terbilang mumpuni. Setiap kali bermain bola bersama teman-temannya di kampung halamannya, Desa Puncak Monapa, Lasususa, Sulawesi Tenggara, Daud selalu menjadi kiper. ”Setiap kali main itu gawangnya pakai sandal. Saya selalu jadi kiper,” ujarnya sambil tertawa.

Mengawali karir di PSM Makassar U-21 Daud mulai menekuni karir profesionalnya sebagai penjaga gawang. Prestasinya hadir kala meraih trofi Habibie Cup 2003, menyabet gelar juara I. Turnamen Habibie Cup itu sebagai ajang mencari pemain muda sebelum akhirnya bergabung bersama skuad Juku Eja senior.

Pada 2010, Daud mulai mengambil lisensi pelatih umum D Nasional. Kemudian dia melanjutkan untuk ambil AFC di Brunei Darussalam. Saat itu dirinya bersama tiga orang lainnya yang berasal dari Indonesia. Peserta lainnya berasal dari Malaysia, Filipina, Myanmar, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Dirinya mengambil lisensi C AFC terlebih dahulu. Sebab, untuk mengambil lisensi khusus pelatih kiper harus memiliki lisensi C AFC level 1 terlebih dahulu. ”Harus ambil lisensi C AFC dulu baru bisa ambil lisensi khusus goalkeeper,” terangnya.

Dirinya menjelaskan dengan lisensi C AFC itu, Daud sudah bisa menjadi pelatih kepala di klub Liga 3. Sementara di klub Liga 2 bisa menjadi asisten pelatih. Selama mengikuti lisensi, Daud diberi materi soal cara menyusun latihan dan bagaimana memberikan dasar-dasar sepak bola.

Di 2017, Daud pernah menjadi pelatih kiper di SSB Salfas Soccer Tangerang. Kemudian pernah melatih Sindo Dharaka FC (klub Liga 3 Jawa Timur) Jember sebagai pelatih fisik. Pria kelahiran Kolaka Utara ini pernah menjadi observator ke Singapura dan Thailand.

Di negeri tetangga itu Daud belajar soal pengembangan sport science dan berkenalan dengan orang-orang dari beberapa negara. Termasuk bergabung di grup Whatsapp World Coaching. Sebuah grup untuk saling belajar soal sepak bola termasuk sport science yang anggota grupnya berasal dari belahan dunia. Mulai Eropa, Asia, dan Afrika.

Sejak saat itu Daud tertarik untuk terus belajar soal sport science. Menurutnya, sport science tidak hanya berlaku di sepak bola semata. Namun, dapat diterapkan di semua cabang olahraga.

Sport science itu sudah diterapkannya kala menjadi pelatih fisik di Sindo Dharaka FC (klub Liga 3 Jawa Timur) dan terbilang memudahkan kerja pelatih kepala kala itu. Kini, pria kelahiran 25 Januari 1980 itu mencoba menerapkan sport science di kubu Persiku Kudus. Harapannya bisa menunjang prestasi.

Sebab, lewat sport science dapat diketahui performa pemain beserta progresnya setiap hari. ”Jadi diawali dengan tes dan pengukuran sebagai parameter sebagai titik awal seorang pemain sebelum di kalkulasi performanya setiap hari,” jelas Daud.

Di Eropa, sport science sudah digunakan. Terbukti beberapa performa pemain dapat terpantau. Akurasinya diklaim Daud mencapai 95 persen. Sebab, sport science diolah dari beberapa data dari waktu ke waktu untuk menunjang prestasi. Sekalipun nanti ada penurunan performa pemain, dapat dilihat apa penyebab penurunannya itu.

Daud menambahkan, beberapa orang menganggap sepak bola bukanlah matematika, tetapi lewat sport science sepak bola bisa menjadi matematika. Pasalnya, di sport science semua dihitung. Daud juga menunjukkan aplikasi sport science yang bernama tactical board dan darkstats science  yang pada laptopnya.

Dari database itu dapat diketahui daya jelajah pemain, durasi main tiap-tiap pemain, proses gol berasal dari mana, siapa saja pemain yang sudah terkena kartu kuning dan kartu merah, di menit berapa sebuah klub dominan mencetak gol, berapa jumlah peluang yang didapat dalam satu pertandingan, berapa jumlah off-side dalam satu pertandingan, bagaimana grafik pemain setiap pekannya, apa kesalahan yang sering dilakukan pemain saat bertanding, kenapa tim dapat kebobolan, rapor pemain ini berapa, dan masih banyak lagi hal lainnya.

Daud menambahkan, sport science sangat berpengaruh ke prestasi. ”Dengan sport science bentuk materi menjadi lebih terjadwal. Semua data itu harus tercatat agar tidak lupa, dan tentunya agar berpengaruh ke prestasi,” imbuhnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia