Kamis, 27 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Tefa Dongkrak Pengalaman Belajar Siswa SMK

29 April 2019, 22: 46: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

Drs. H. Akhmad Nadlib; Kepala SMK NU Ma’arif Kudus

Drs. H. Akhmad Nadlib; Kepala SMK NU Ma’arif Kudus (dok pribadi)

Share this      

BANYAKNYA lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tidak terserap di dunia kerja menjadi masalah cukup krusial. Hampir setiap akhir tahun pelajaran para lulusan SMK banyak yang menganggur.  Padahal, sektor industri dan usaha membutuhkan tenaga kerja  lulusan SMK yang cukup besar. Namun, para lulusan tersebut tidak mampu mengisi lowongan pekerjaan yang ada di industri. Hal ini, karena adanya kesenjangan (GAP) yang ada antara sekolah dengan dunia industri. Melihat kondisi seperti ini, pemerintah mengeluarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK.

Maka, SMK harus berbenah dengan melakukan perubahan. Beberepa perubahan yang ditempuh adalah pemenuhan layanan pembelajaran melalui 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP). Kurikulum yang kurang relevan harus disinkronkan, tenaga pendidik yang kurang kompeten harus dimagangkan, dan fasilitas praktik harus dipenuhi mendekati kondisi nyata di industri. Selain itu juga sertifikasi kompetensi siswa harus dilakukan melalui uji kompetensi dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), sehingga para lulusannya kompeten di bidangnya.

Kesenjangan yang ada antara sekolah dan industri harus diatasi dengan program kerjasama saling menguntungkan. Kegiatan lain seperti sinkronisasi kurikulum, magang guru, praktik kerja lapangan, gencar-gencarnya diprogramkan. Dengan adanya kerja sama yang harmonis antara pihak sekolah dan industri diharapkan akan tercipta suasana pembelajaran yang lebih efektif, efisian, serta menyenangkan.

Melibatkan siswa secara langsung dalam praktik akan memberikan dampak yang lebih signifikan pada perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Siswa akan lebih aktif dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan lainnya seperti layaknya kondisi nyata bekerja di industri. Kegiatan ini dapat memberikan pengalaman nyata dalam belajar

Teaching Factory (Tefa) merupakan model pembelajaran di SMK dengan konsep seperti pekerjaan yang ada di industri. Karena berorientasi pada tindakan (Orientedaction) dalam lingkungan belajar disekolah, proses pembelajarannya pun dilaksanakan terpadu. Pembelajaran di sekolah yang  berorientasi Tefa dapat memadukan model yang sudah ada Competensi Based Training (CBT), model  Production Based Training (PBT). Peserta didik akan memiliki pengalaman belajar yang lebih riil dengan mengutamakan penguasaan kompetensi.

Produk dari pembelajaran Tefa adalah penguasaan kompetensi bagi peserta didik yang meliputi Attitude (Sikap), Knowledge (Pengetahuan) dan Skill (Keterampilan) untuk menghasilkan produk barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat (Marketable). Sedangkan kegiatan pembelajaran praktik Tefa dapat dilaksanakan di bengkel sekolah, Bengkel Unit Produksi atau di industri tempat siswa PKL sesuai jadwal pelajaran. 

Oleh karena itu, perlu dilakukan perencanaan yang baik dengan melibatkan Industri dalam menentukan produk barang dan jasa. Perlu juga melakukan telaah kurikulum, pengembangan silabus, menyusun RPP, membuat job sheet dan mengatur jadwal pembelajaran. Berikutnya, mengatur ketercukupan waktu praktik bagi peserta didik dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai target, misalnya dengan menggunakan jadwal blok. Dengan begitu, pembelajaran Tefa dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap penguasaan kompetensi. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia