Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Sportainment

PB Djarum Dokumentasikan Perjalanan Prestasi Atlet dalam Empat Buku

29 April 2019, 22: 30: 24 WIB | editor : Ali Mustofa

FOTO BERSAMA: Para penulis buku dan altlet bulutangkis PB Djarum melakukan foto bersama usai acara peluncuran dan bedah buku di Wisma Karyawan Ploso Minggu (28/4) kemarin.

FOTO BERSAMA: Para penulis buku dan altlet bulutangkis PB Djarum melakukan foto bersama usai acara peluncuran dan bedah buku di Wisma Karyawan Ploso Minggu (28/4) kemarin. (PB DJARUM FOR RADAR KUDUS)

Share this      

JATI – Djarum Foundation menggelar peluncuran empat buku yang berisi dokumentasi cerita dan perjalanan prestasi atlet PB Djarum yang mewarnai dunia bulutangkis Indonesia. Acara ini merupakan puncak acara dari rangkaian perayaan HUT ke-50 PB Djarum.

Empat buku tersebut yakni ‘Butet Legenda Sejati’ karya mantan Menteri Hukum dan HAM yang kini menjabat Dewan Penasehat PBSI Hamid Awaludin, ‘Setengah Abad PB Djarum, Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia’ karya tim penulis Historia.id. Dan dua buku karya jurnalis senior Daryadi ‘Kiprah Ahsan- Hendra’ dan ‘Jejak Langkah Owi-Butet’.  

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin mengatakan, peluncuran keempat buku ini bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah bulutangkis Indonesia. Di dalamnya ada berbagai catatan sejarah perjalanan dan kerja keras untuk mewujudkan prestasi bagi Indonesia melalui bulutangkis. ”Kami berharap, ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi para atlet, pelatih, dan masyarakat,” katanya.

Dalam buku berjudul ‘Setengah Abad PB Djarum Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia’ menelusuri dan mengurai cerita seputar awal terbentuknya PB Djarum. Kelahiran klub ini bermula dari brak Bitingan Lama. Brak itu ketika siang digunakan sebagai bekerja buruh pelinting rokok PT Djarum, sedangkan sore digunakan untuk kegiatan olahraga bulutangkis para karyawan dan masyarakat sekitar.

Pada 1969 Robert Budi Hartono, Goei Poo Thay, Bambang Hartono, Margono dan Thomas Budi Santoso sepakat mendirikan klub bulutangkis yang dinamai PB Djarum dan mulai membina pemain dari luar.

Buku kedua, karya Hamid Awaludin berkisah tentang perjuangan Liliyana Natsir menjadi pebulutangkis tingkat dunia. Cerita perjalanan karier Butet dari kota kelahirannya di Manado, Sulawesi Utara hingga bersinar digambarkan secara detail.

”Jejak-jejak remajanya memang mungkin tidak mengandung romantisme elok untuk dirinya, tetapi ia memberi romantisme heroik bagi bangsanya: Indonesia,” kata Hamid dalam bukunya.

Dipasangkan sebagai Ganda Campuran bersama Tontowi Ahmad, Butet berhasil mengharumkan dunia bulutangkis Indonesia lewat turnamen-turnamen bergengsi dunia, yakni juara All England 2012, 2013, dan 2014serta Olimpiade Rio 2016.

Kiprah Butet ini juga menjadi bagian dalam buku berjudul “Jejak Langkah Owi-Butet” karya Daryadi. Dalam buku ini, kisah Tontowi Ahmad juga dikupas tuntas. Mulai sejak masa kecilnya di Desa Selandaka, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas hingga kemudian berpasangan dengan Butet dan meraih berbagai prestasi.

Terakhir, buku bertajuk ‘Kiprah Hendra – Ahsan’ yang juga ditulis oleh Daryadi, mencoba mengangkat kerja keras duet berjuluk ‘The Daddies’ dalam meniti tangga juara. Pasangan ini menjadi contoh sukses dari perjuangan keras atlet yang ingin mewujudkan impiannya menjadi pebulutangkis hebat.

Liliyana Natsir berterima kasih kepada penulis maupun PB Djarum. Buku yang mendokumentasikan perjalanannya sebagai atlet bulutangkis ini akan disimpan dan mendapat tempat khusus bagi hidupnya.

”Saya akan meletakkannya di tempat khusus bersama medali-medali yang pernah saya raih selama bermain bulutangkis,” katanya.

(ks/mal/daf/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia