Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Sebanyak 300 Kepsek SMK se-Indonesia Ikuti Bimtek Teaching Factory

26 April 2019, 22: 29: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

PERAGAKAN BUSANA: SMK NU Banat Kudus unjuk kebolehan peragaan busana hasil rancangan para siswanya saat kegiatan Teaching Factory. Kegiatan ini dihadiri 300 Kepsek SMK se-Indonesia di SMK RUS, Kamis (25/4) kemarin.

PERAGAKAN BUSANA: SMK NU Banat Kudus unjuk kebolehan peragaan busana hasil rancangan para siswanya saat kegiatan Teaching Factory. Kegiatan ini dihadiri 300 Kepsek SMK se-Indonesia di SMK RUS, Kamis (25/4) kemarin. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

GEBOG – Peningkatan kualitas sekolah berbasis vokasi sangat diperlukan untuk mencetak bibit-bibit unggul yang dapat segera diserap dunia usaha, dan industri. Terlebih menghadapi revolusi industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas tinggi, dan memiliki kompetensi khusus.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengadakan Bimbingan Teknis Bantuan Pengembangan Teaching Factory kepada 300 kepala SMK se-Indonesia.

Kegiatan tersebut diselenggarakan ke Semarang dan Kudus mulai Rabu (24/4) hingga Jumat (26/4). Dan kemarin, 300 kepsek tersebut sudah mengikuti kegiatan bimtek di SMK Raden Umar Said (RUS).

Mereka diperlihatkan SMK binaan Djarum Foundation yang lebih dulu menerapkan program Teaching Factory. Hal ini menjawab tantangan dari Kemendikbud yang menekankan program tersebut.

Direktur Program Bakti Pendidikan Djarum Foundation Primadi H. Serad, memaparkan SMK di Kudus yang sudah menerapkan Teaching Factory sesuai kebutuhan industri, seperti Animasi yang ada di SMK RUS sudah menggunakan teknologi yang sama dengan di Hollywood, kemudia kuliner yang lulusannya sudah keliling dunia Jerman, Jepang dan bekerja di hotel bintang lima di Jakarta dengan gaji per bulan Rp 15 juta.

”Ada lagi lulusan jurusan fashion atau tata busana SMK NU Banat Kudus baru magang di perusahaan fashion ternama dengan gaji per tiga bulan Rp 200 juta. Anak-anak tersebut gigih dan percaya diri sehingga sukses mengembangkan diri hingga internasional,” terangnya.

Ditambahkan, selain siswa gurunya juga dibekali ilmu yang sesuai kebutuhan industri. Primadi juga menjelaskan, Kemendikbud menekankan pentingnya Teaching Factory yaitu sebuah konsep pembelajaran yang berorientasi produksi dan bisnis.

Pembelajaran melalui Teaching Factory merupakan proses penguasaan keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan market.

Untuk itu, dalam kegiatan kali ini Kemendikbud RI mengajak 300 kepala sekolah SMK dari penjuru Indonesia datang ke tiga SMK binaan Djarum Foundation yaitu SMK Raden Umar Said (animasi), SMK Wisuda Karya (teknik pemesinan) dan SMK PGRI 1 Kudus (tata kecantikan).

Ketiga SMK yang berada di Kudus, Jawa Tengah ini merupakan bagian dari 16 SMK binaan Djarum Foundation yang sudah menerapkan konsep Teaching Factory. Kurikulum pendidikan pada SMK binaan tersebut telah disesuaikan untuk menjawab kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. 

Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan yang sudah berlangsung sejak tahun 2018 lalu, dimana sudah ada 1240 kepala sekolah SMK se Indonesia yang dikirim Kemendikbud ke Kudus untuk melihat proses pembelajaran Teaching Factory. 

(ks/san/him/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia