Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Pamerkan Batik Kudus, Talk show Perempuan Berkarya Berlangsung Meriah

23 April 2019, 16: 09: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

HARMONI: Para model dengan gaun ciptaan Intan Avantie yang dipadukan dengan batik Kudus.

HARMONI: Para model dengan gaun ciptaan Intan Avantie yang dipadukan dengan batik Kudus. (M. ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Talk show Perempuan Berkarya dalam rangka memeringati hari kelahiran RA. Kartini berlangsung meriah dan penuh makna di Pendapa Kabupaten Kudus kemarin. Dalam talk show para narasumber sepakat batik Kudus perlu dilestarikan. Caranya dengan membuat batik Kudusan dengan harga terjangkau. Acara yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Kudus bersama PT. Nojorono Tobacco International (NTI) dan Pemkab Kudus itu diawali launching mobil dinas yang dibalut dengan stiker bergambar batik Kudus.

Sebelum peluncuran itu, para pegawai perempuan di lingkungan Pendapa Kabupaten Kudus kompak menggunakan kebaya dengan bawahan motif batik maupun songket. Mereka terlihat anggun. Pakaian ini dipakai dalam rangka apel pagi memeringati kelahiran RA. Kartini pukul 6.30 kemarin.

Apel dipimpin langsung Bupati Kudus M. Tamzil didampingi istri Rina Budhy Ariani beserta Wakil Bupati Kudus Hartopo beserta isri Mawar.

Bupati Kudus Tamzil menyampaikan pesan dicanangkan para aparatur sipil negara (ASN) tiap Rabu mengenakan batik Kudus. Sementara adanya mobil dinas berbatik Kudus ini maka batik Kudus bisa dikenal masyarakat luas.

”Ayo lestarikan batik Kudus, karena bagian dari warisan budaya,” pesannya.

Menurutnya sejarah batik juga ada kaitan RA. Kartini. RA. Kartini pernah membatik dan hasilnya dipamerkan di Belanda.

CANTING: Istri Wabup Kudus Mawar Hartopo, dan istri Bupati Kudus Rina Budhy Ariani menyanting di depan Pendapa Kabupaten Kudus kemarin.

CANTING: Istri Wabup Kudus Mawar Hartopo, dan istri Bupati Kudus Rina Budhy Ariani menyanting di depan Pendapa Kabupaten Kudus kemarin. (M. ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Acara kemudian dilanjut dengan nyanting bersama.Dilakukan Istri Bupati Kudus Rina Budhy Ariani, didampingi istri Wakil Bupati Kudus Mawar. Presiden Direktur PT Nojorono Tobacco International Stefanus JJ Batihalim bersama dengan Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi dan Head of Corporate Brand dan Marketing Communications PT Nojorono Tobacco International (NTI) Amelia Santoso juga melakukan hal sama.

Di sekitar lokasi talk show ada sepuluh stan batik karya perempuan. Untuk memeriahkan acara dilaksanakan lomba memasukkan benang dalam jarum, menggulung stagen dan vlog.

Usai membatik sekitar 10 menit, dilanjutkan Talk Show Perempuan Berkarya. Hadir dalam talk show itu tokoh inspiratif juga desainer kebanggaan Indonesia Intan Avantie, peneliti batik dan antropolog dari Universitas Indonesia (UI) Notty J Mahdi, desainer muda alumni SMK NU Banat Nia Faradiska Nur Faiza, dan perajin batik Kudus Ummu Asiyati.

Dalam sambutannya Direktur Radar Kudus Baehaqi menjelaskan perhatiannya terhadap batik dibuktikan perusahaan yang ia pimpin. Salah satunya seluruh karyawan di Radar Kudus telah memakai batik. Di antaranya batik Lasem. Baehaqi juga menjelaskan secara singkat beberapa sejarah batik. Di antaranya batik Kudus, batikl Lasem, dan lainnya.

LUWES: Dari kiri Head of Corporate Brand, Marketing Communications PT NTI Amelia Santoso, Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi, Presiden Direktur PT NTI Stefanus JJ Batihalim,

LUWES: Dari kiri Head of Corporate Brand, Marketing Communications PT NTI Amelia Santoso, Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi, Presiden Direktur PT NTI Stefanus JJ Batihalim, (M. ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Sementara Presiden Direktur PT NTI Stefanus JJ Batihalim menyampaikan batik merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Melalui talk show ini membuka pikiran kaum perempuan untuk berkarya. Seperti dicontohkan RA. Kartini yang memiliki misi jiwa untuk menjadi pendidik.

Istri Bupati Kudus Rina Budhy Ariani Tamzil mengatakan, sejak 2005 saat Tamzil menjabat bupati pada periode pertama menggagas adanya pelatihan batik. Saat itu dalam rangka membudayakan batik Kudus, seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) di Kudus diwajibkan memakai batik Kudus sebagai seragam yang dipakai dua hari dalam satu minggu.

”Kami sudah memberikan imbauan kepada seluruh OPD beserta jajarannya untuk dapat berseragam batik Kudus dua hari dalam satu minggu,” tambahnya.

Peneliti batik dan Antropolog Universitas Indonesia (UI) Notty J Mahdi bercerita sejarah batik pesisir sampai menunjukkan contoh-contoh batik pesisir milik temannya yang didapat dari Myanmar. Di penghujung acara, Notty menyampaikan motif Kudus yang khas perlu dicari detailnya. Di mana di daerah lain tidak ada.

”Seperti motif kapal kandas sebenarnya di Indramayu juga ada motif yang sekilas sama,” jelasnya.

Batik, lanjutnya, mempunyai banyak filosofi, sejarah dari penciptanya. Motif Batik Kudus terinspirasi  dari budaya Tiongkok, Jawa, dan Eropa. Warna dari batik Kudus  perpaduan antara biru Pekalongan, merah Lasem, dan cokelat Solo. ”Sehingga memunculkan warna kuning Kudus yang biasa disebut lemah teles,” ucapnya.

HIDUPKAN BATIK: Dari kiri perajin batik Kudus Ummu Asiyati, peneliti batik dan antropolog UI Notty J Mahdi, desainer Indonesia Intan Avantie, dan desainer alumni SMK NU Banat Nia Faradsika Nur Faiza.

HIDUPKAN BATIK: Dari kiri perajin batik Kudus Ummu Asiyati, peneliti batik dan antropolog UI Notty J Mahdi, desainer Indonesia Intan Avantie, dan desainer alumni SMK NU Banat Nia Faradsika Nur Faiza. (M. ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Kemudian, giliran Intan Avantie menceritakan kehidupannya hingga bisa sukses sampai saat ini. Sejak masih duduk di bangku SD, Intan sudah belajar berbisnis kreatif. Dengan memanfaatkan barang-barang bekas di lingkungan sekitarnya. Dia jadikan pernak-pernik.

”Saya ambil barang-barang yang tidak terpakai. Seperti kabel warna-warni, saya buat kerajinan. Lalu saya jual ke teman-teman,” ungkapnya.

Ketika SMP, Intan mulai membuat baju. Utamanya baju wisuda. Sasarannya kakak kelas yang hendak wisuda. Karyanya disukai oleh kakak kelasnya. Hingga dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta selama tiga tahun.

Baru setahun berjalan, Intan tak betah dengan suasana di Jakarta. Dia minta pulang ke Semarang. ”Orang tua saya tidak pernah menekankan harus dapat nilai bagus saat sekolah. Yang penting saya cinta dengan apa yang saya lakukan," jelasnya.

Hingga kini, sudah tak terhitung banyaknya karya baju yang didesain Intan Avantie. Bahkan sejak sekitar 2010 lalu, desain bajunya dipakai oleh Miss Universe hingga sekarang. Dalam talk show itu Intan Avantie juga memamerkan koleksi karyanya yang diperagakan oleh beberapa model.

Selain koleksi baju karya Intan Avantie, busana hasil rancangan siswi SMK NU Banat juga turut dipamerkan. Juga diperagakan oleh beberapa model.

(ks/san/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia