Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
M Reza Falevi, Juara III Tenis di Thailand

Gagal di Kelas Tunggal, Sabet Gelar di Nomor Ganda

23 April 2019, 13: 55: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

Muhammad Reza Falevi

Muhammad Reza Falevi (DOKUMENTASI PRIBADI)

Muhammad Reza Falevi berhasil meraih juara III nomor ganda Tenis Internasional di Thailand 2017. Dia sempat mengalami kegagalan bertanding di kelas single pada ajang yang sama. Itu lantaran dia terbebani sebagai penyandang juara bertahan di ajang Perlis Milo International Tenis Junior Championship 2017 di Malaysia.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

TAMPAK dari kejauahan, seorang remaja berbadan tinggi dan berisi menghampiri Jawa Pos Radar Kudus di ruang kesiswaan SMA 1 Bae Kudus. Remaja bernama Muhammad Reza Falevi itu bersuara lirih, namun penampilannya di lapangan tenis tak bisa dipandang remeh.

Reza yang sekarang ini duduk di kelas X itu merupakan atlet tenis lapangan. Dunia pertenisan dari kancah nasional hingga internasional sudah dijajakinya. Juara internasional yang ia raih juara III nomor ganda Tenis Internasional di Thailand 2017.

Dia menyukai olahraga tenis lapangan sejak duduk di kelas III SD. Pada saat itu Reza hanya sebatas iseng saja. Reza dulunya memiliki hobi bermain sepak bola. Namun orang tuanya harus menyuruh Reza untuk menekuni salah satu bidang olahraga itu. “Saya mengenal tenis dari pak dhe saya. Kok enak ya rasanya pegang raket tenis,” Ungkapnya pada Jawa Pos Radar Kudus.

Reza menceritakannya pengalaman saat bermain di Thailand. Di 2017, Reza mengikuti ajang tenis internasional Hat Yai. Di sana remaja kelahiran Kudus itu mampu menyabet peringkat III. Ia berpasangan dengan pemain Thailand. Namun dibalik kemenangan itu, dirinya agak kecewa. Sebab ia ingin menyapu di nomor singel player.

Reza dikala itu gugur pada babak delapan besar. Pada saat itu lawannya dari Filipina. Reza mampu menguasai pertandingan. Pertarungan hampir berimbang. Namun Reza menegaskan, pertandingan melawan Filipina mampu dia kuasai. Dia sudah memimpin skor di set pertama dengan skor 6-4.

Namun di set yang kedua Reza harus mengakui keunggulan lawannya dari Filipina itu. Ia harus merelakan predikat juara bertahannya.

Dra. Terry Sugijatti, selaku pelatihnya, mengatakan, Reza kalah karena terbebani oleh predikat juara bertahan tunggal putra. Saat itu ia berhasil menyabet juara pertama. Dia meraih juara di ajang Perlis Milo di Malaysia pada 2017. Sosok Reza terbilang tak bisa dipandang remeh di dunia tenis lapangan. Khususnya usia junior.

Terry menambahkan, saat bertanding di Thailand, pada ajang Hat Yai. Tepatnya pada tiga sampai tujuh Desember 2017, usia Reza masih 15 tahun. Sedangkan ajang yang diikutinya kelompok usia 18 tahun. Lawannya rata-rata berusia diatas umur Reza. Seminggu sebelumnya Reza bertanding pada ajang Perlis Milo di Malaysia 2017 pada 28 hingga 2 Desember. Setelah itu ia bertolak ke Thailand.

“Tak ada faktor lain dari kekalahan Reza. Dia (Reza Red) sama sekali tidak keracunan apapun. Dia mengalami tekanan mental yang hebat. Lantaran ia berpredikat sebagai juara bertahan di Malaysia,” ungkapnya.

Porsi latihan Reza juga ditambah. Ketika menjelang ajang tenis nasional di Solo yang diadakan pada Juli tahun ini. Saat ini porsi latihan tanding tenisnya agak dikurangi. Latihan yang dilakukannya saat ini berupa latihan fisik. Dia berlatih dari siang pukul 14.00 hingga menjelang malam, pukul 18.00. Meskipun full day dia nekat berangkat latihan. Dengan itu pihak sekolah mengizinkan Reza untuk berangkat latihan.

Padatnya jam latihan juga membuat pihak sekolah memberikan toleransi kepada Reza. Dia mendapatkan keringanan ketika mengerjakan tugas sekolah dan ulangan.

Pemuda ini mempunyai daya semangat tinggi. Ia ingin lolos seleksi Timnas soft tenis pada 2020. Bahkan dia rela mengorbankan sekolahnya, demi mencapai impiannya menjadi pemain tenis profesional. Dia tak serta merta meninggalkan pendidikan formalnya. Sebab di Timnas sudah disediakan home scholling. “Sekolah nomor dua, tenis nomor satu,” tegasnya.

Reza berharap, dengan menelateni kegiatannya itu bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang tuanya. Selain harapan karirnya melambung, dia berkeinginan untuk memberangkatkan haji kedua orang tuanya.

Deretan prestasi Reza di kancah nasional sudah tak diragukan lagi. Pada 2018, ia berhasil menjuari peringkat I di Magelang U-16. Kemudian pada 2019 dia berhasil menyumbang juara I di Magelang pada Januari lalu. Serta di Semarang pada 2018. April 2018 dirinya berhasil menjuari Kejurnas Yayuk Basuki di Ambarawa. Dia membawa pulang piala peringkat pertama.

Untuk raihan prestasi internasional, Reza mampu menjuarai Penang Open 2018, yang diadakan di Malaysia. Ia berhasil merebutkan peringkat pertama tunggal putra. Juga Perlis Milo International Tenis Junior Championship 2017 di Malaysia. Dia berhasil menduduki peringkat I dan II ganda putra. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia