Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Gus Muwafiq: Milenial Ilmu Banyak Tapi Minim Adab

23 April 2019, 12: 49: 33 WIB | editor : Ali Mustofa

KHARISMATIK: K.H. Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq saat berceramah dalam akhirussanah di Ponpes Roudlotut Tholibin Leteh, kemarin.

KHARISMATIK: K.H. Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq saat berceramah dalam akhirussanah di Ponpes Roudlotut Tholibin Leteh, kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Kiai kharismatik asal Sleman Jogjakarta, K.H. Ahmad Muwafiq hadir dalam akhirus sanah Ponpes Roudlotut Tholibin asuhan K.H. Musthofa Bisri atau Gus Mus kemarin. Sosok yang akrab disapa Gus Muwafiq itu memberikan banyak ilmu hikmah dalam mauidhoh hasanah yang digelar di halaman ponpes Leteh tersebut.

Salah satunya yakni mengenai generasi milenial yang sebenarnya memiliki pengetahuan dan ilmu yang luas, tetapi tidak memiliki akhlak atau adab yang baik. Sebab, mereka kebanyakan belajar dari internet. Dan, di mana pun bisa diakses asalkan memiliki koneksi.

”Itu yang bikin mereka bolak-balik sowan Yai Mus, karena kurang adab itu,” terang sosok yang dulu merupakan asisten pribadi Gus Dur itu.

Gus Muwafiq menyinggung mengenai pemuda yang sempat dianggap masyarakat menghina Gus Mus, sebelum akhirnya meminta maaf langsung ke Leteh. Setidaknya, sudah ada dua pemuda yang dianggap masyarakat merendahkan Gus Mus dan datang langsung ke Leteh untuk meminta maaf.

Selain itu, Gus Muwafiq itu juga menyinggung mengenai pentingnya sosok kiai kampung. Menurut tokoh kelahiran Lamongan itu, tugas kiai kampung sangat berat. Sebab, mereka mengemban banyak amanah dari masyarakat di tempatnya tinggal.

”Kita ini bejo masih ketunggon kiai (ditunggui kiai). Kita ini kan wes adoh karo Nabi (kita ini kan sudah jauh dari Nabi-Muhammad, secara jangka waktu). Dadi lamuno kebagian nggih boten katah (Jadi, seandainya kebagian ya tidak banyak),” papar Kiai berambut gondrong itu.

Lebih lanjut, Gus Muwafiq menerangkan mengenai ilmu yang didapat masyarakat bawah mengenai Nabi Muhammad tak bisa banyak. Sebab dilihat dari jarak waktu yang terlampau lama kehidupannya dari sekarang. Meski demikian, Gus Muwafiq memaparkan ilmu atau hikmah dari para kiai, ada yang bisa direguk lebih dalam. Salah satunya, Gus Mus.

”Jenengan ajeng kulak ten mriki monggo (Anda mau menjadi tengkulak ke sini, silakan). Jenengan kuate sak pinten ya wes niku mawon (Anda kuatnya seberapa ya sebegitu saja). Yai Mus (Gus Mus,  Red) iki grosir. Yai Kholil kelas grosir,” tambah Gus Muwafiq yang kemarin tampak mengenakan setelan putih-putih itu.

Gus Muwafiq lebih jauh mengajak masyarakat agar jangan lelah mencari ilmu atau hikmah kepada para kiai. Dan, pencarian itu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Tidak perlu memaksakan diri. 

(ks/ful/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia