Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
Eka Safa’ati, Desainer Batik dari Kudus

Dikira Siswa SMA, Tularkan Semangat ke Anak Didik

22 April 2019, 10: 12: 23 WIB | editor : Ali Mustofa

ANGGUN: Eka Safa’ati mengenakan desain batik karyanya saat kompetisi tingkat provinsi beberapa waktu lalu.

ANGGUN: Eka Safa’ati mengenakan desain batik karyanya saat kompetisi tingkat provinsi beberapa waktu lalu. (DOKUMEN PRIBADI)

Eka Safa’ati menjadi best of the best designer batik putri dalam ajang papi batik tingkat Jawa Tengah pada 2018. Dalam kompetisi itu, penampilannya begitu menawan. Kepiawaian membatik tak cuma disimpan sendiri, tapi juga ditularkan pada anak didiknya.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Kudus

COK gali cok, digali-gali cocok. Ungkapan itu agaknya tepat menggambarkan proses kreativitas yang dilakukan perempuan bernama lengkap Eka Syafa’ati. Utamanya dalam menciptakan desain batik. Ia yang memang suka dengan fashion, mencoba untuk mendesain batik. Dari proses belajar mendesain itu pun lahir juga karya batik bikinannya.

Hasil desainnya ia gunakan sendiri. Paduan hasil desain batiknya itu ia gunakan dalam beragam aktivitas. Seperti ngantor atau sekadar bepergian. Hingga tanpa sengaja Eka ditawari kepala sekolah untuk menjadi talent di butik baru.

”Sejak kecil saya juga senang melihat model berjalan di catwalk,” ujar guru bimbingan konseling (BK) SMAN 1 Kragan ini.

Berawal dari rasa sukanya itulah dara kelahiran Kudus, 25 April 1995 ini termotivasi menerima tawaran lomba papi batik. Yang tak lain merupakan kompetisi perdananya. Dalam kompetisi itu, Eka menampilkan batik Gringsing warna hitam dengan motif seperti sisik-sisik ikan. Perpaduan warna hitam dan merah memang begitu serasi.

Ditambah make up natural yang memoles parasnya dipadu jilbab bak mahkota membuat inner beauty-nya  tetap terjaga. Pancarkan pesona berpasang-pasang mata yang mencoba memandangnya. Tak hanya itu, batik Gringsing andalannya itu juga memiliki estetika tersendiri.  Berfilosofi keseimbangan, kemakmuran, dan kesuburan.

Motif batik yang disinyalir sebagai motif batik tertua ini memiliki ciri khas yang disebut dengan sedulur papat lima pancer.

”Warna yang digunakan pada batik Gringsisng sangat beragam. Sebagai batik kuno batik Gringsing menggunakan warna alam,” jelasnya.

Batik dengan motif sisik ikan yang ia kenakan ini menggambarkan tentang si pemakai yang mengharapkan keindahan, keharuman dan kebesaran bagai bunga. Juga disertai dengan kekayaan yang tak terhitung. Seperti motif sisik yang ada dalam gringsingnya.

”Itu sekilas filosofi menarik dari batik yang saya kenakan. Ketika itut even dikira masih siswa SMA,” kenangnya.

Bersama dengan tim kompaknya ia pun berhasil menyabet juara best of the best designer putri batik tingkat Jawa Tengah. Siapa sangka, di kompetisi perdananya itu dia bisa menang. Dari situ beberapa kompetisi sejenis mulai ia jamah. Ia menjuarai lomba batik itu dengan desain batik Gringsingnya.

Seperti penilihan putra putri budaya tingkat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kepiwaiannya berjalan di papan peraga pun membuat perempuan yang hobi traveling ini kembali nenggondol piala Juara II.

Seakan tak mau menikmati prestasi sendirian, Eka pun menularkan hobi dan kepiawaiannya itu kepada anak-anak didiknya di sekolah tempat ia mengajar. Ya, Eka menjadi guru ekstrakurikuler modeling SMAN 1 Kragan. Bukan pembimbing ekstra biasa. Eka juga mendapatkan apresiasi dari sekolah sebagai guru pembina berprestasi di bidang non akademik.

”Tidak hanya ambil atau ikut even batik saja. Segala yang berkaitan dengan fashion saya selalu tertarik,” katanya.

”Pakai hijab ya,” tegasnya.

Anak didiknya binaannya itu juga berhasil menyaber juara. Seperti juara kategori putri berprestasi di papi batik Jawa Tengah pada 2018.

”Namanya Bella. Itu di tahun dan even yang sama. Saya ikut lomba dan dapat juara best of the best tadi. Mengirimkan lima model, dua model dapat juara,” imbuh perempuan alumni Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) ini.

Selain itu Ananda Cuthia Selfiana, yang juga merupakan salah satu muridnya juga berhasil membanggakan. Juara I kategori peragawati dalam pemilihan papi budaya tingkat Jawa Tengah dan DIY 2019 bertema busana muslimah berhasil dikantongi. Ada juga Siti Maemonah yang gondol peringkat I kategori top model casual Jateng dan DIY.  

Menurutnya, dengan banyaknya even kejuaraan fashion ini, membuat para perajin batik semakin tertantang untuk berinovasi mengenalkan salah satu warisan bangsa ini.

Usaha-usaha untuk terus membawa ke kancah internasional diharapkan bisa mengangkat level para pengrajin batik. (*)

(ks/him/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia