Sabtu, 25 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
Sri Handayani, Pengusaha Penggilingan Batu

Punya Empat Lokasi Usaha, Hampir Semua Karyawannya Laki-Laki

22 April 2019, 08: 48: 32 WIB | editor : Ali Mustofa

TANGGUH: Sri Handayani turun langsung di bisnis penggilingan batu miliknya.

TANGGUH: Sri Handayani turun langsung di bisnis penggilingan batu miliknya. (DOK PRIBADI)

Berita Terkait

Perjuangan Raden Ajeng Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan membuahkan. Kini, banyak perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi dan berkarya sesuai keinginan mereka. Nah, di Kabupaten Pati ada sosok perempuan tangguh. Bekerja sebagai pengusaha penggilingan batu. Padahal bidang itu keras. Identik dengan laki laki. Namun dia sukses. Bahkan, ratusan karyawannya laki-laki.

ABDUL ROCHIM, Pati

BANGSA Indonesia sejak 55 tahun silam, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini. Kartini merupakan sosok yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Meski sosok Kartini kini acapkali disematkan pada perempuan yang giat sebagai seorang aktivis ataupun teguh dalam memperjuangkan haknya.

Ada yang menarik dengan sosok Kartini masa kini. Jika umumnya pengusaha penggilingan batu dikelola laki-laki. Lain halnya dengan Sri Handayani. Dialah satu-satunya perempuan yang terjun di usaha penggilingan batu.

Perempuan yang akrab disapa Ning Sri ini, merupakan sosok perempuan tangguh yang patut disebut ”Kartini Masa Kini”. Berawal dari kejelian dan keberaniannya melihat potensi lokal, perempuan asal Desa Sumberejo, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, ini, akhirnya sukses berbisnis penggilingan batu.

Menurut perempuan kelahiran 1 Oktober 1979 ini, dari kecil keluarga dan saudara-saudaranya memang sudah menekuni usaha pengolahan batu. Sebab, di tanah kelahirannya terkenal sebagai penghasil batu.

”Pada 2006, saya mulai merintis usaha penggilingan batu di desa saya. Lama bergelut di tanah kelahiran, mulai 2011 saya mulai ekspansi usaha di Gringsing, Kabupaten Batang. Kemudian mendirikan lagi di Sayung, Demak. Dan ada satu lagi yang baru di Kabupaten Jepara,” jelas perempuan yang lahir bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila itu.

Jadi, saat ini perempuan yang sedang menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Ekonomi, Undip Semarang, ini mempunyai empat lokasi usaha penggilingan batu di empat kabupaten. Bahkan, karyawannya mencapai 220 orang. Hampir semuanya laki-laki. Hanya yang di Sayung, Demak, sebagian merekrut tenaga perempuan.

Sri Handayani mengaku terinspirasi dengan sosok Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Menurutnya, mereka sosok yang disiplin dan berani mengambil risiko menjalani apa yang menjadi mimpinya.

Untuk menjalani usaha penggilingan batu, tak semudah apa yang dilihat seperti saat ini. Banyak suka dukanya dalam menggeluti dunia usaha yang lekat dengan pekerjaan laki-laki ini.

”Sebagai pengusaha batu yang mengurusi usaha dengan mayoritas karyawannya laki-laki, saya tetap harus bisa mengatur semuanya. Saya juga biasa turun di lapangan sendiri. Bahkan kalau lagi over produksi, habis Salat Subuh saya sampai menjadi operator pengilingan batu sendiri, mengatur sopir tronton. Jika perlu, saya sampai menjadi sopir loader (alat berat),” jelas Ning Sri.

Untuk mencapai kesetaraan dengan laki-laki dalam hal pekerjaan yang ditekuninya saat ini, Ning Sri mengaku harus banyak berkorban untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Mulai dari pengorbanan waktu untuk keluarga, karena semua hidupnya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja. Bahkan, untuk istirahat itupun secukupnya saja.

”RA Kartini adalah tokoh yang sangat menginspirasi. Dengan semangat Kartini, perempuan itu harus berani bermimpi untuk melakukan apapun. Karena tidak ada yang mudah untuk mencapai sesuatu yang kita dicita-citakan. Tetapi dengan bekerja keras, ditekuni, pasti apa yang diinginkan akan tercapai,” ujarnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia