Kamis, 19 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Problem Based Learning Tumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis

22 April 2019, 08: 38: 07 WIB | editor : Ali Mustofa

Sukandar; Guru Fisika SMA 1 Kudus

Sukandar; Guru Fisika SMA 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

BERDASARKAN Permendikbud nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum, lampiran IV Pedoman Umum Pembelajaran menyebutkan bahwa secara prinsip kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Namun dalam kenyataan di lapangan masih jauh dari yang diharapkan. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik menjadi kompetensi yang diharapkan. Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum tersebut, kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsip. Pertama, berpusat pada peserta didik. Kedua, mengembangkan kreativitas peserta didik. Ketiga, menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang. Keempat, bermuatan nilai, estetika, etika, logika, dan kinestetika. Dan kelima menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna. Untuk mengantarkan agar peserta didik memiliki kompetensi tersebut diperlukan suatu kegiatan pembelajaran yang dapat memunculkan sikap-sikap tersebut di atas. Salah satu pembelajaran yang dapat diterapkan adalah pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar“, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang baru dipecahkan.

Dalam penerapannya pembelajaran berbasis masalah dapat dikelompokkan ke dalam 5 tahap. Kelima tahap tersebut diuraikan dalam tabel sebagai berikut. Tahapan-Tahapan Model Problem Based Learning (PBL).

Pada fase orientasi peserta didik pada masalah, maka perilaku guru menjelaskan tujuan pembelajaran, logistiK yang dibutuhkan. Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih.

Pada fase mengorganisasi peserta didik, maka perilaku guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah tersebut. Pada fase membimbing penyelidikan individu dan kelompok maka perilaku guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Pada fase mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Maka perilaku guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman.

Pada fase menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Maka perilaku guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/meminta kelompok untuk presentasi hasil kerja.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) telah dilakukan penulis pada mata pelajaran Fisika pada kelas XI MIPA terkait dengan topik/sub topik Suhu dan Kalor. Dari data hasil penelitian, setelah dilakukan uji t test dengan membandingkan hasil belajar kelas kontrol dan eksperimen diperoleh hasil belajar peserta didik kelompok eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Hasil observasi kemampuan berpikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen pun mengalami peningkatan sebesar 52 %. Berdasarkan penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa model PBL dapat menjadi salah satu solusi model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis/berpikir HOTS peserta didik. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia