Jumat, 23 Aug 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Karya Perempuan untuk Laki-Laki

22 April 2019, 08: 17: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

KETIKA diminitai izin bahwa Jawa Pos Radar Kudus akan menyelenggarakan talk show batik, saya langsung menyetujui. Saya tidak bertanya macam-macam. Karena, menurut saya sangat baik. Apalagi pelaksanaannya dalam rangka menyambut Hari Kartini. Bekerja sama dengan PT Nojorono Tobacco International (NTI) dan Pemkab Kudus. Temanya, Perempuan Berkarya.

Yang saya keberatan hanyalah satu. Kalau saya diminta memberi sambutan. Bagi saya sambutan itu biasa saja. Di depan bupati sudah sering. Di depan wali kota juga. Bahkan, di depan Forkopimda Jawa Tengah. Tetapi, sambutan di talk show batik itu berbeda. Pengetahuan saya mengenai batik terlalu sedikit. Khawatir kontra produktif.

Talk show batik itu diselenggarakan hari ini, 22 April 2019 di Pendapa Kabupaten Kudus. Pembicaranya orang-orang top. Ada Notty J. Mahdi, pengamat dan antropolog dari Universitas Indonesia; Intan Avantie, perancang busana kenamaan; Ummu Asiati, pelaku usaha batik Kudus; dan Nia Faradiska Nor Isfaiza, disainer muda Kudus.

Yang memberi sambutan antara lain Bupati Kudus Muhammad Tamzil, Direktur PT Nojorono Tobacco International Stefanus J.J. Batihalim, dan Ketua penggerak PKK Kudus Rina Budhy Ariani. Semula saya diminta sebagai salah satu pembicara. Saya menolak mentah-mentah. Tawaran menurun hanya memberi sambutan. Juga saya tolak. Tetapi panitia memaksa. Katanya, sambutan itu hanya seremonial.

Sebenarnya sudah lama saya tertarik batik. Sudah sering keluar masuk kampung batik. Sudah membeli buku-buku batik juga. Sudah berbicara dengan pelaku-pelaku usaha serta perajin batik. Bahkan berkali-kali belajar membatik. Di rumah ada peralatan membatik. Ada bermacam-macam canting, malam, pewarna, dan kain mori. Tetapi, tak kunjung menjadi ‘’ahli’’ batik.

Besar kemungkinan, seperti yang tertulis dalam beberapa literatur, batik berkembang dari kalangan keraton. Mula-mula untuk para raja dan keluarganya, serta penggawa kerajaan lainnya. Itu turun-temurun sejak Kerajaan Majapahit, berlanjut Kerajaan Mataram, sampai Kesultanan Surakarta dan Jogjakarta. Dari situlah kemudian merembet daerah lain sampai pedalaman.

Batik kemudian berakulturasi dengan berbagai ragam budaya. Ada yang berbau Eropa. Ada yang diwarnai kebudayaan Tiongkok. Ada yang bermuatan religi. Sekarang batik sudah campur-aduk. Yang orang masih sepakat batik adalah seni mewarnai kain dengan menggunakan malam untuk membikin motif. Itulah yang disebut batik tulis. Sejalan dengan industrialisasi kemudian muncul batik cap yang malamnya distempelkan. Di luar itu ada motif batik printing.

Kartini termasuk salah seorang pelaku batik tulis. Ada karyanya yang masih tersimpan di salah satu museum di Jakarta. Dibuat ketika dia dalam pingitan di Pendapa Kabupaten Jepara. (Kamarnya dilestarikan sampai sekarang). Dari warnanya batik Kartini diilhami oleh batik keraton. Warnanya sogan (cokelat). Warna asli batik keraton. Dua saudaranya, Roekmini dan Kardinah juga membatik.

Batik-batik buatan Kartini sempat juga diboyong ke Rembang ketika dia dipersunting oleh bupati di sana. Saya pernah tidur di kamarnya. Oleh juru kunci diceritai, ada beberapa batik Kartini yang tersimpan di salah satu lemari di pendapa kabupaten yang dijadikan museum. Entah benar atau tidak. Juru kunci tak mau menunjukkan barangnya. Kalau betul, pasti bernilai mahal. Batik Kartini terbatas dan hanya dipakai untuk kalangan sendiri.

Ketika dalam pingitan itu ternyata Kartini berkarya. Salah satu hasilnya dikirim ke Belanda. Diberikan kepada Ny. Abendanon, istri salah seorang menteri yang menjadi teman korespondensinya. Ini pelajaran besar bagi kita. Terutama kaum perempuan. Kartini bukan sekadar pahlawan emansipasi wanita. Kartini mengajarkan perempuan untuk berkarya.

Keterkaitan batik dengan perempuan juga terlihat di Kudus. Tersebut nama Ny. Lie Boen In dan Ny. Liem Wie Tjioe. Perempuan asal Pekalongan ini, berpindah ke Kudus dan mengembangkan batik di Kota Wali. Batiknya dipengaruhi oleh budaya Tiongkok dan Belanda. Kebanyakan bermotif bunga.

Mula-mula batik ini juga untuk dipakai sendiri dan keluarga. Terutama kaum perempuan. Batik menjadi bawahan. Atasannya kebaya yang sekarang terkenal kebaya encim. Kemudian berkembang ke saudagar-saudagar di sekitarnya, di Kudus Kulon yang pelakunya kaum laki-laki. Lie Boen In pun membuat sarung batik.

Dalam perkembangannya juga batik tulis dipakai untuk celana pengsi, celana kolor sampai bawah lutut. Sekarang kebanyakan batik dipakai untuk baju laki-laki.

Kini, batik telah berkembang ke berbagai pelosok nusantara. Di tanah Jawa berderet batik pesisiran mulai dari Cirebon, Pekalongan, Batang, Semarang, Kudus, Pati, Rembang, Tuban, Madura, Pasuruhan, dan seterusnya sampai Banyuwangi. Juga daerah-daerah di luar Jawa. Sudah melibatkan ribuan pengusaha dan jutaan tenaga kerja. Sebagian besar perempuan.

Kini, batik yang dibikin kaum perempuan telah menjadi pakaian kebanggan seluruh kalangan. Selamat Hari Emansipasi Perempuan. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia