Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Siswa SMK RUS Ciptakan Aplikasi Drive School

Bermula Prihatin Tingginya Angka Laka Lantas Siswa

20 April 2019, 08: 56: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

INOVATIF: Siswa SMK RUS Ryandhika Bintang, Fahra Khalisa, dan Fikr Lazuardi meraih juara II di lomba Dinakon 2019 dengan karya aplikasi Drive School.

INOVATIF: Siswa SMK RUS Ryandhika Bintang, Fahra Khalisa, dan Fikr Lazuardi meraih juara II di lomba Dinakon 2019 dengan karya aplikasi Drive School. (SMK RUS FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Tiga siswa SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus menciptakan aplikasi Drive School. Sebuah aplikasi antar jemput pelajar secara online. Mereka Fahra Khalisa kelas X RPL 1, Ryandhika Bintang Abiyyi kelas X RPL 2, dan Fikr Lazuardi kelas XI RPL 2. Karya mereka ini, berhasil menyabet juara II pada kompetisi nasional Dinus Application Competition (Dinakon) 2019.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

SIAPA sangka keprihatinan tiga siswa SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) ternyata mengantarkan meraih prestasi membanggakan. Ketiga pelajar ini, Fahra Khalisa kelas X RPL 1, Ryandhika Bintang Abiyyi kelas X RPL 2, dan Fikr Lazuardi kelas XI RPL 2.

Mereka awalnya prihatin terhadap tingginya angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di kalangan pelajar. Terutama di tingkat SMA sederajat. Memiliki kegelisahan yang sama, akhirnya ketiga siswa ini pun berdiskusi. Kemudian sepakat untuk bisa mencari solusi atas permasalahan ini.

Mereka pun membuat aplikasi yang diberi nama Driver School. Aplikasi yang bisa digunakan untuk pemesanan jasa antar jemput pelajar. ”Ini memang khusus pelajar,” kata Fahra Khalisa.

Tak hanya permasalahan tingginya angka kecelakaan yang menjadi faktor latar belakang terciptanya aplikasi ini. Banyaknya orang tua yang tak bisa mengantar dan menjemput anaknya sekolah, juga menjadi faktor lainnya.

Meskipun sebelum aplikasi Driver School diciptakan sudah ada aplikasi ojek online, namun mereka masih merasa tetap butuh menciptakan aplikasi yang dikhususkan untuk pelajar. Ia menjelaskan, aplikasi ini memiliki keunggulan lebih dibanding aplikasi ojek online yang sudah lebih dulu booming. ”Orang tua bisa memastikan anaknya benar-benar sudah sampai sekolah apa belum,” ujarnya.

Dalam aplikasi yang sebentar lagi akan dipatenkan sebagai karya milik SMK RUS ini, memiliki fitur picture tall parent. Fitur inilah yang nanti digunakan si driver untuk melaporkan bahwa anaknya benar-benar sudah sampai sekolah.

”Secara teknis penggunaannya cukup mudah. Di aplikasi ini hanya ada dua pilihan, yakni digunakan sebagai driver atau user,” jelasnya.

User yang dimaksudkan adalah orang tua. Sedangkan driver adalah sopir. Seperti aplikasi ojek online, ketika user memesan, nanti driver bisa menerima ataupun menolak pesanan.

Ia mengatakan, secara teknik apliksi tersebut sangat mudah digunakan. Di aplikasi ini ada dua pilihan. Yakni sebagai user dan driver. Orang tua akan memesan ke driver, kemudian driver bisa mengiyakan atau menolak.

”Selain memastikan anak sampai sekolah, siswa yang memanfaatkan aplikasi ini juga dijamin tidak terlambat sampai di sekolah. Sebab, bisa diatur jam jemputnya,” kata perempuan berjilbab ini.

Dia menerangkan, proses pembuatan aplikasi ini memerlukan waktu yang cukup panjang. Butuh sekitar 2-3 bulan untuk menyelesaikan. Hingga akhirnya dapat tampil menjadi salah satu finalis dalam ajang Dinus Application Competition (Dinakon) 2019. Tak hanya menjadi penggembira, namun memperoleh juara II.

”Tak ada kesulitan yang berarti selama proses pembuatannya. Semangat dan tekad yang tinggi bisa untuk mengalahkan segala kesulitan yang ada. Keinginan kami mengikuti lomba juga murni karena keinginan sendiri,” ungkapnya.

Guru pembimbing Aji Suryawan mengatakan, ide awal dan konsep aplikasi ini memang berawal dari inisiatif siswa sendiri. Melihat potensi dan ide cemerlang yang dimiliki siswa, pihak sekolah pun memfasilitasi. Mulai dari sarana prasarana hingga pendampingan.

”Tak ada biaya dalam proses penciptaan aplikasi ini. Di sekolah ini, alhamdulillah semua fasilitas sudah lengkap. Jadi bisa menunjang siswa untuk mengembangkan diri,” katanya.

Meski aplikasi ini sudah siap untuk digunakan, namun pihak sekolah belum meluncurkan untuk publik. Saat ini pihak sekolah masih mengurus izin HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Setelah itu selesai, baru akan diluncurkan di Play Store.

”Kami patenkan dulu, baru dikomersialkan. Kami akan terbuka kepada siapa saja yang berminat untuk menanamkan modal untuk aplikasi ini,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia