Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Membangun Peradaban Buku di Sekolah

18 April 2019, 14: 46: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

Yuli Sudargini, S.Pd., M.Pd.; Guru Fisika SMAN 1 Pati   

Yuli Sudargini, S.Pd., M.Pd.; Guru Fisika SMAN 1 Pati   (dok pribadi)

Share this      

PEMERINTAH telah menerbitkan peraturan nomor 23 Tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan tiap siswanya membaca buku 15 menit sebelum dimulai jam pelajaran. Program ini yang kerap disebut dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Jenis buku yang dibaca siswa bebas.Dengan syarat mengandung muatan budi pekerti, sebagai contoh adalah buku dongeng.

Pelaksanaan GLS ini, sekolah  harus memiliki perpustakaan secara mandiri yang memenuhi standard. Berdasarkan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007, minimal 144 meter persegi atau setara dengan dua ruang kelas dan dapat  menampung 36 siswa.

Dalam sistem pendidikan modern, baik di negara maju maupun di negara berkembang, perpustakaan memegang peranan penting. Para ahli pendidikan berpendapat, perpustakaan menjadi jantung dari pendidikan (the heart of educational program).

Kini masyarakat memeroleh informasi banyak menggunakan perangkat visual seperti media televisi, radio, internet, dan smartphone. Kuatnya budaya tutur menjadikan makin kokohnya budaya mencari dan mendapatkan informasi secara cepat dan instan dari radio, televisi dan smartphone.

Budaya menonton televisi telah melemahkan budaya baca masyarakat. Televisi melemahkan daya analisis dalam ranah kognitif penontonnya, karena otak dimanjakan dengan informasi yang sifatnya instan. Perpustakaan hingga kini belum dianggap faktor penting dalam meningkatkan kualitas manusia. Para siswa belum menjadikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar bagi mereka.

Minimnya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap perpustakaaan, berawal dari persepsi siswa yang tak menempatkan perpustakaan  di relung hatinya. Ekspresi dari ketidakcintaan  terhadap perpustakaan tercermin dari minimnya anggaran dan fasilitas untuk perpustakaan sebagai learning center.  Keberadaan perpustakaan di sekolah sampai sekarang masih di maknai sebagai kelengkapan sebuah sekolah saja.

Seringkali fasilitas penunjang seperti ruang baca yang nyaman dan kondusif relatif minim perawatan. Ketidaknyamanan jadi kendala pengunjung malas berlama-lama di perpustakaan.

Dengan kebijakan jejaring pendidikan nasional (Jardiknas) yang dicanangkan pemerintah tahun 2007 bekerjasama dengan provider internet, maka internet menjadi idola dalam meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Internet pun menjadi penghubung dunia maya antar institusi dalam program jardiknas pemerintah. Agaknya inilah yang lebih di tekankan dalam program Jardiknas Pemerintah, yaitu menghubungkan antar institusi pendidikan  dengan dunia luar dengan akses informasi yang lebih luas.

Namun demikian, bukan berarti internet masuk sekolah meniadakan perpustakaan sekolah. Keduanya harus kompak dalam memberikan informasi terkini. Internet di sekolah tak mungkin dibawa pulang siswa. Tapi buku perpustakaan dapat dibawa pulang oleh siswa.

Internet tergantung pada listrik, akses telekomunikasi, dan kemampuan ekonomi. Sedangkan buku koleksi perpustakaan hanya tergantung pada niatan dari perpustakaan untuk memperbaiki pelayanan dan peminjam.

Perpustakaan zaman sekarang harus profesional pelayanannya. Hingga mampu menarik minat baca siswa atau para pengunjung lainnya. Persoalan minat baca harus mendapat perhatian besar dari orangtua, guru, dan sekolah. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia