Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Politik

Nyoblos Lima Kertas Surat Suara, Mbah Moen Butuh Waktu Tujuh Menit

18 April 2019, 11: 43: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

SESUAI DOA: Mbah Moen ketika memasukkan surat suara di TPS 05 Sarang, Rembang, kemarin

SESUAI DOA: Mbah Moen ketika memasukkan surat suara di TPS 05 Sarang, Rembang, kemarin (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG - Ketua Majelis Syuro PPP KH Maimoen Zubair menyalurkan hak suaranya di TPS 05 Sarang, Rembang. Sementara tokoh kharismatik lainnya Gus Mus menyalurkan hak suaranya di TPS 01 Leteh, Rembang. Mbah Moen mencoblos membutuhkan waktu sekitar lima menit. Dibandingkan dengan pemilih lainnya lebih lama. Ini lantaran factor usia. Juga yang dicoblos sebanyak lima kertas suara.

Mbah Moen-sapaan akrab dari KH Maimoen Zubair- didampingi istrinya Hj. Heni Maryan Syafa’ati kemarin. Mbah Moen ditemani putranya yang juga Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen. Gus Yasin-sapaan akrab Taj Yasin Maimoen-didampingi istrinya.

Tokoh yang akrab disapa Mbah Moen itu tiba di TPS sekitar pukul 10.30. Dia mengendarai mobil golf yang disetir Gus Yasin-sapaan Taj Yasin. Sebelum turun, Mbah Moen sempat mengenakan kacamata hitam. 
Mbah Moen membawa tongkat. Ia dituntun Gus Yasin menuju TPS. Sejumlah warga serta petugas KPPS pun satu per satu menyalami dan mencium tangan Mbah Moen.

SALURKAN SUARA: Gus Mus saat melakukan memasukkan surat suara di TPS 01 Leteh, Rembang, kemarin.

SALURKAN SUARA: Gus Mus saat melakukan memasukkan surat suara di TPS 01 Leteh, Rembang, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Kiai berusia 90 tahun itu menandatangani sendiri form daftar hadir sebelum menunggu giliran. Karena TPS sepi, tak lama kemudian, Mbah Moen dan rombongan pun dipanggil untuk mencoblos.

Saat di bilik suara, Mbah Moen tampak butuh waktu lebih lama dibanding yang lain. Usai mencoblos, Mbah Moen pun memberikan keterangan kepada pers. 

Dalam keterangan kepada pers kemarin, Mbah Moen menegaskan memilih pemimpin hukumnya wajib. Meskipun ada yang pilihannya salah, namun setidaknya sudah berusaha memilih yang terbaik.

"Ya harus kewajiban pimpinan adalah adil dan jujur. Adil itu dalam hukum, jujur itu artinya jangan menyeleweng," terang pengasuh Ponpes Al Anwar itu.

Lebih lanjut, Mbah Moen menyebut dalam memilih pemimpin haruslah yang jujur dan adil.
"Memilih yang baik, jujur, adil, itu wajib dalam memilih pimpinan. Itu wajib. Tidak ada pimpinan kosong, itu dosa. Jadi siapapun itu kewajiban, mari kita milih yang terbaik, itu hukumnya wajib," tambah Mbah Moen yang juga tampak mengenakan jam tangan itu.

Sementara itu, Gus Yasin dalam kesempatan itu menyatakan apresiasinya kepada masyarakat, khusunya TPS 05 tempat dia menyalurkan suaranya. Sebab, hingga sekitar pukul 11.00 saat dirinya dan rombongan selesai nyoblos, jumlah pemilih yang sudah menyalurkan haknya mencapai 80 persen.

"Ini jam 11.00, dan pemilihnya di TPS 05 Desa Karangmangu sudah mencapai 190 dari 220 pemilih. Harus kita apresiasi. Apalagi, untuk masyarakat Rembang sendiri, ditargetkan bisa mencapai 80 persen," terangnya.

Usai memberikan keterangan, Mbah Moen dan Gus Yasin beserta rombongan pun langsung meninggalkan lokasi dengan mobil golf. Mbah Moen dan Gus Yasin di depan, istri Mbah Moen dan istri Gus Yasin di belakang dan menghadap ke belakang.

Tokoh kharismatik lainnya KH Ahmad Mustofa Bisri, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyalurkan hak suaranya di Pemilu 2019 pukul 10.00 kemarin.  Gus Mus mencoblos di TPS 01 Leteh. Dia didampingi anak dan cucunya.

Sejam sebelumnya sekitar pukul 09.00 Hj Muchsinah Cholil istri almarhumah Kyai Cholil Bisri juga mencoblos. Dia menggunakan kursi roda. Hj Muchsinah mencoblos di TPS 02 berhadapan TPS 01 tempat Gus Mus mencoblos.

Selang satu jam atau pukul 10.00 Gus Mus menyalurkan suara. Dua anak dan mantunya mendampinginya. Masing-masing Wahyu Salvana, Raabiatul Bisyriyah Sybt, Rizal Wijaya, dan Almas Mustofa. Mereka jalan kaki ke TPS.

Gus Mus usai mencoblos kepada Jawa Pos Radar Kudus mengajak semua saling menghormati dan menerima keputusan hasil Pemilu 2019. Setelah Pemilu masyarakat kembali rutinitas normal.

”Namanya demokrasi yang dipilih harus diterima. Jadi kita bisa berdebat, sebelum menjadi sebuah putusan. Kalau sudah di dok (putuskan, Red) tidak ada (debat) lagi,” kata Gus Mus usai mencoblos kemarin.

Menurutnya siapapun calonnya yang terpilih dan sudah dilantik menjadi presiden bukan lagi Capres. Karena itu kalau sudah diputuskan atau dilantik capres terpilih itu jadi milik bersama. ”Kalau masih grundel berarti kurang belajar demokrasi,” jelasnya.

Mudah-mudahan rakyat Indonesia lebih matang berdemokrasi. Karena sudah berkali-jali setiap lima tahun sekali. Tidak ada kaget lagi atau rasa tidak enak. Ibaratnya seperti main bola, kalau kalah pasti ada rasa kecewa.

”Mudah-mudahnya bisa lerem. Ketika kita bisa menyadari, semua adalah bangsa Indonesia dan siapapun yang menang Indonesia,” doanya.

Terkait tasyakuran, ia mengungkapkan bukan kemenangan calon presiden tertentu. Namun kemenangan bangsa Indonesia. Sehingga siapapun yang menang tidak perlu lagi tunjukan euphoria. Bahkan tasyakuran tidak perlu diperlihatkan secara terbuka.

”Mudah-mudahan jadi aman pasca Pemilu 2019. Ketika saling menghormati dengan satu pihak dan lainnya,” harapnya.

(ks/ful/noe/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia