Jumat, 19 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Politik

Nekat Unggah Video di Bilik Suara, Pemuda Ini Disemprit Bawaslu  

18 April 2019, 11: 08: 55 WIB | editor : Ali Mustofa

Nekat Unggah Video di Bilik Suara, Pemuda Ini Disemprit Bawaslu   

KUDUS - Seorang pemuda berinisial AP disemprit Bawaslu Kudus lantaran mengunggah video di dalam bilik suara. Video tersebut diunggah pada status Whatsapp miliknya. Dalam video yang berdurasi 25 detik itu, ia memberikan keterangan tentang cara mencoblos yang baik dan benar.

Tak hanya menunjukkan ketika ia mencoblos surat suara pilpres, ia juga sempat mengganjalnya dengan sandal gunung berwarna hitam. Dalam video itu, tertulis jelas jika surat suara pilres itu diperuntukkan TPS 05 di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus.

Mengetahui hal ini, Bawaslu Kudus gerak cepat. Tak lama selang video tersebut diunggah, tim Bawaslu Kudus langsung mendatangi rumah pemuda tersebut. Teguran kepada pengunggah video pun diberikan. Menurut keterangan, Ketua Bawaslu Kudus Wahibul Minan, pemuda tersebut mengaku tidak mengetahui jika hal yang dilakukannya dilarang. ”Tadi kami langsung ke lokasi, kami berikan teguran kepada yang bersangkutan,” katanya.

Selain perintah untuk menghapus video yang telah diunggah itu, Bawaslu Kudus juga meminta yang bersangkutan untuk membuat surat pernyataan. Tak ada sanksi hukum yang diberikan oleh bawaslu kepada pemuda tersebut.

Minan menjelaskan, dalam Pasal 35 Huruf M pada PKPU Nomor 3 Tahun 2019 tertulis jelas tentang Larangan Menggunakan Telepon Genggam dan/atau Alat Perekam Gambar Lainnya di Bilik Suara. Ketentuan sanksinya tidak diatur dalam PKPU begitu pula di UU Nomor 7 Tahun 2017.

”Yang diatur di Pasal 500 UU Nomor 7 Tahun 2017 hanya subjek hukum bagi pendamping pemilih yang dengan sengaja memberitahukan pilihan pemilih yang didampinginya,” jelasnya.

Dalam pasal tersebut, berbunyi setiap orang yang membantu pemilih yang dengan sengaja memberitahukan pilihan pemilih kepada orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 364 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 12 juta.

Saat dikonfirmasi, pemuda tersebut membenarkan jika dirinya membuat dan sempat mengunggah video saat mencoblos di dalam bilik suara. Namun, ketika didatangi bawaslu ia secara suka rela langsung menghapus video tersebut. Ia pun menyesal dan meminta maaf kepada Bawaslu dan masyarakat Kudus.

”Itu karena bodohnya saya tidak mengetahui kalau itu dilarang undang-undang,” katanya.

(ks/daf/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia