Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Lima Merpati, Grup Wayang Potehi

Gelar Sebulan Siang-Malam, Tetap Tampil meski Sepi atau Hujan

17 April 2019, 06: 28: 08 WIB | editor : Ali Mustofa

JAGA TRADISI: Pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Hok Tek Bio baru-baru ini.

JAGA TRADISI: Pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Hok Tek Bio baru-baru ini. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Perayaan ulang tahun Kongco Hian Thian Siang Tee dimeriahkan pertunjukan wayang potehi selama sebulan penuh. Grup wayang yang kental dengan budaya Tiongkok ini, dihadirkan dari Surabaya bernama Lima Merpati. Mereka tetap main siang-malam. Meskipun sepi atau ramai. Hujan atau terang.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

LIMA merpati sudah mempersiapkan diri di panggung wayang potehi yang berukuran sekitar empat kali tiga meter itu. Selamet, Pardi, Budi, dan Wanto sudah berada di posisi masing-masing. Selamet sudah duduk di belakang siap dengan alat musik sio pwa dan sio loonya. Sementara Budi dan Wanto duduk mempersiapkan wayang-wayang potehinya. Tokoh-tokoh yang hendak diperankan duah menyarungi tangan mereka.

Pardi, dalang sedang membacakan tema cerita yang akan dilakukan. Meskipun katanya saat itu sedang kurang sehat, suaranya masih jelas terdengar. Wayang potehi memang berbeda dengan wayang Jawa. Jika wayang Jawa hanya digerakkan satu dalang, wayang potehi lebih dari dua dalang. Budi dan Wanto hanya bertugas sebagai dalang. Tetapi mereka tidak berbicara. Yang bertugas membacakan cerita adalah Pardi.

Sementara Selamet fokus memainkan musik. Sebetulnya masih ada satu personel. Ian namanya, tetapi saat itu ia sedang pulang kampung ke Surabaya. Selamet mulai memainkan sio pwa, alat musik seperti simbal drum kecil dan sio loo, alat musik pukul bundar jika dimainkan bunyinya seperti lonceng sekolah. Pardi mulai masuk di cerita, Budi dan Wanto memainkan wayangnya.

”Kami main di sini (klenteng Hok Tek Bio, Welahan, Red) setiap tahun. Kami juga pernah main di luar Jawa. Di Prancis juga pernah,” kata Selamet di sela-sela tugasnya sebagai pengiring musik.

Meskipun digelar dengan apik, penonton di sekitar kelenteng tergolong sepi. Hanya ada beberpa warga. Tetapi mereka tetap bermain. Bahkan, tanpa penonton sekalipun.

”Tujuannya ini ditanggap kan untuk dewanya. Ada yang nonton atau gak ada yang nonton tetap main. Kalau dulu sebelum ada televisi ya penuh (penonton, Red),” kata personel grub asal Surabaya ini. Teng... teng... teng... bunyi sio loo-nya di tengah perbincangan dengan Jawa Pos Radar Kudus. Sepertinya Selamet sudah hafal kapan saja ia harus memainkan senjatanya itu.

Kini alunan musik lebih melow. Dawai erl hu dan toa loo yang dimainkan Selamet dan Pardi cukup menyayat. Wajar saja, kedua alat musik gesek itu bersuara mirip biola. Budi dan Wanto masih memainkan wayang mereka.

”Wayang potehi ini biasanya dimainkan saat ulang tahun kelenteng, cap go meh, dan imlek,” imbuhnya seusai memainkan nada yang sendu tadi. Selamet mengatakan, sehari main, ia dan timnya mendapatkan honor sekitar Rp. 800 ribu. Hasil itu dibagi dengan persentase yang berbeda. Termasuk honor untuk promotornya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Mereka harus turun panggung. Sesi pertama sudah sukses ditampilkan. Kini, mereka harus kembali beristirahat menyimpan tenaga untuk tampil waktu malam. Sekitar pukul 19.30. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia