Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
Bantuan Bedah Rumah PT SG Untuk Nelayan (2)

Wujudkan Mimpi Warga Tak Mampu, Jadi Program Rutin Tiap Tahun

16 April 2019, 13: 41: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

TAHAN GEMPA: Bantuan bedah rumah dari PT Semen Gresik memiliki keunggulan, salah satunya tahan gempa.

TAHAN GEMPA: Bantuan bedah rumah dari PT Semen Gresik memiliki keunggulan, salah satunya tahan gempa. (PT SEMEN GRESIK FOR RADAR KUDUS)

Bantuan progam bedah rumah tidak layak huni (RTLH) PT Semen Gresik mewujudkan cita-citanya nelayan kurang mampu untuk memiliki rumah layak huni. Program serupa akan terus digenjot rutin tiap tahun, guna menyukseskan program pemerintah untuk menekan angka kemiskinan di Kota Garam.

ALI MAHMUDI, Rembang

(PT SEMEN GRESIK FOR RADAR KUDUS)

 KESEHARIAN yang dijalani empat keluarga nelayan Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, Rembang memang cukup memprihatinkan. Mereka keluarga Muhammad Nur Soleh-Siti Asmara; Mukminin-Sarmini; Bahrul Ulum-Siti Mahfudzah; dan Marzuki sebagai penerima progam bedah rumah PT Semen Gresik.

Apalagi, saat cuaca buruk, mereka tak bisa melaut hingga berbulan-bulan. Tak jarang, mereka harus menjual barang-barang berharga yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Kondisi ini diungkapkan Siti Mahfudzah saat ditemui baru-baru ini. Siti pun sangat bersyukur dan mengapresiasi upaya Semen Gresik yang telah membangun rumahnya. Baginya, membangun rumah adalah cita-citanya yang belum bisa direalisasikan sejak awal menikah beberapa tahun lalu. Ia bahkan hendak mengubur impian ini. Sebab, kehidupan keluarganya sangat pas-pasan.

Penghasilan yang diperoleh suaminya Bahrul Ulum dari hasil miyang (melaut) habis untuk menutupi kebutuhan harian. Terkadang malah kurang, sehingga harus ditutup dengan pinjaman. Bahkan, pernah juga terpaksa menjual barang berharga yang ada di rumahnya, agar dapur tetap mengebul.

Dalam sebulan, Bahrul Ulum pergi melaut selama dua kali. Sekali berangkat, waktunya berkisar antara sembilan sampai 10 hari, karena lokasinya bisa hingga luar Pulau Jawa. Bahrul Ulum membawa uang saku Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu untuk membeli berbagai kebutuhan selama berhari-hari di laut. Namun, saat pulang hasil yang diperoleh tak menentu. Jika mujur bisa meraup hingga Rp 750 ribu hingga Rp1 juta. Namun jika tangkapan sepi, hanya diberi Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu oleh juragan pemilik kapal.

”Hasil dari miyang hanya cukup untuk makan. Bagaimana mau membangun rumah kalau penghasilan seperti itu. Makanya saya sangat berterima kasih kepada Semen Gresik,” kata Siti Mahfudzah.

Kondisi serupa juga dialami Sarmini. Upah yang diperoleh dari juragan pemilik kapal tempat suaminya, Mukminin bekerja tak menentu. Untung saja, selama miyang Mukminin masih mau mencari penghasilan tambahan. Caranya, saat kapal lego jangkar, suaminya mencari ikan sendiri dengan memancing secara manual. Ikan hasil pancingan itu yang digunakan untuk menambal kebutuhan keluarganya.

”Ini pun hasilnya juga sama tak menentu. Kalau beruntung ikan pancingan sendiri itu bisa dijual hingga ratusan ribu rupiah,” ucapnya.

Agar perekonomian keluarga tetap stabil, Siti Asmara mengaku terpaksa bekerja serabutan. Mulai dari menjadi pembantu rumah tangga hingga jualan minuman kemasan. Meski tak seberapa, namun hasil dari kerja serabutan itu cukup bisa menopang kebutuhan hidup keluarganya.

”Mau bagaimana lagi, penghasilan suami (Muhammad Nur Soleh, Red) memang pas-pasan. Untung saja ada progam sekolah gratis pemerintah jadi anak-anak masih bisa sekolah,” terangnya.

Potret kemiskinan di Kota Garam bisa dilihat di buku Rancangan Akhir Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Rembang tahun 2016-2021. Jika dibanding daerah lain di Jawa Tengah, indeks kedalaman kemiskinan Kabupaten Rembang menempati urutan ke-4 dari bawah setelah Brebes, Wonosobo, dan Pemalang.

Meskipun begitu, tingkat kemiskinan di Kabupaten Rembang selama kurun waktu 2013-2018 menunjukkan tren menurun. Pada 2013, jumlah penduduk miskin Kabupaten Rembang sebanyak 128.000 jiwa (20,97 persen). Namun tahun lalu, angkanya turun menjadi 97.440 jiwa (15,41 persen).

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi mengatakan, jajarannya berkomitmen membantu progam penurunan kemiskinan kawasan sekitar perusahaan. Salah satu upaya yang dilakukan melalui progam pembangunan RTLH bagi warga kurang mampu. Sejak 2016 hingga 2018 sudah ada 43 RTLH yang dibangun.

Tahun ini, ada 16 RTLH yang dijadwalkan dibangun lagi dengan dana corporate social responsibility (CSR) PT Semen Gresik. Rinciannya, empat unit diperuntukkan khusus bagi warga Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, Rembang. Dan 12 unit jatah warga enam desa sekitar perusahaan. Ada yang masuk wilayah Blora, namun mayoritas kawasan Kabupaten Rembang.

Rata-rata, anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan tiap unit RTLH sekitar Rp 47 juta. Namun, ada juga yang anggarannya mencapai Rp 59 juta. Praktis jika ditotal anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan puluhan RTLH tersebut mencapai miliaran rupiah.

”Ini salah satu bentuk nyata komitmen membantu warga kurang mampu. Selain progam RTLH kita juga beberapa kegiatan lain yang muaranya juga sejalan dengan progam pemerintah untuk menekan angka kemiskinan,” jelas Kuswandi.

Dia menambahkan, seiring rampungnya proses pembangunan empat unit RTLH di Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, maka akan segera dilakukan serah terima kepada warga penerima bantuan. Rencananya, proses serah terima itu akan digelar akhir April ini. Wakil Gubernur (Wagub) Gubernur Jateng Taj Yasin, Bupati Rembang H Abdul Hafidz dan jajarannya, serta Direksi PT Semen Gresik dijadwalkan hadir dalam acara serah terima.

”Progam pembangunan RTLH akan kita garap tiap tahun. Semoga lebih banyak lagi warga kurang mampu yang terbantu dengan progam ini,” harap Kuswandi. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia