Kamis, 19 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Tak Ada Lapak UMKM, Jumlah Pedagang Dandangan Menyusut

15 April 2019, 12: 23: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

JUMLAH LAPAK BERKURANG: Menyambut Ramadan yang jatuh dua pekan lagi tradisi Dandangan kembali digelar hanya saja jumlah lapak bekurang hanya 230 lapak.

JUMLAH LAPAK BERKURANG: Menyambut Ramadan yang jatuh dua pekan lagi tradisi Dandangan kembali digelar hanya saja jumlah lapak bekurang hanya 230 lapak. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Dua pekan lagi tradisi dandangan akan kembali digelar. Tahun ini, konsep dandangan tak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja jumlah lapak bekurang. Jika sebelumnya lapak yang disediakan mencapai 400-an, kini hanya disediakan 230 lapak.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perdagangan Sudiharti melalui Kabid Pedagang Kaki Lima (PKL) Sofyan Duhri. Pengurangan ini merupakan dampak dari tidak disediakannya lapak untuk UMKM. ”Tahun ini tidak ada karena anggarannya juga tidak ada,” ujarnya.

Selain karena alasan itu, Sofyan juga mengungkapkan ada lokasi yang tidak lagi digunakan sebagai lokasi dandangan. Jalan Pemuda yang tahun lalu digunakan sebagai lokasi perluasan dandangan sekarang tidak digunakan. Pertimbangannya karena sepi pengunjung. ”Setelah kami evaluasi, ternyata memang tidak efektif. Kasihan pedagang kalau sepi,” imbuhnya.

Tahun ini lokasi yang digunakan sebagai lokasi dandangan meliputi Jalan Sunan Kudus, Jalan Madureksan, Jalan Kiai Telingsing, Jalan Pangeran Puger, jalan Wahid Hasyim, jalan KHA. Dahlan, jalan Ramelan, jalan Menara dan Jalan Kudus–Jepara.

Berkurangnya jumlah lapak yang disediakan, pihaknya berharap masyarakat bisa semakin nyaman. Selain itu juga agar ketersediaan kantong parkir bisa lebih luas. Sehingga nantinya tak ada masyarakat yang nekat membawa sepeda motornya masuk dalam kawasan dandangan yang steril dari kendaraan.

Sofyan menyebut, dari 230 lapak yang disediakan sudah diserbu pedagang. Sampai sekarang sekitar 60 persen lapak sudah terisi. Ketika nanti permintaan melonjak, pedagang akan ditempatkan di Jalan Ramelan. ”Jalan Ramelan nanti digunakan untuk menampung luberan pedagang,” katanya.

Terkait tarif retribusi lapak, ia mengatakan, sesuai dengan Peraturan Bupati Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pemakaian Kekayaan Daerah. Dimana setiap meternya ditarif Rp 2 ribu per hari. Tarif ini belum termasuk retribusi sampah dan biaya sewa listrik. Berdasarkan Perbub Nomor 12 Tahun 2010 tentang Retribusi Sampah, tarif setiap meter persegi sebesar Rp 60.

(ks/daf/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia