Kamis, 19 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Politik

Cari Solusi Terbaik Atasi Masalah Nelayan Tradisional

13 April 2019, 11: 28: 13 WIB | editor : Ali Mustofa

Mayjen Bambang Haryanto*)

Mayjen Bambang Haryanto*) (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

DUA minggu terakhir, persoalan penggunaan alat tangkap ikan oleh nelayan tradisional kembali mengemuka. Terutama tentang cantrang, alat tangkap ikan tradisional yang menjadi salah satu alat menangkap ikan yang dilarang digunakan menurut Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan. Kebijakan pelarangan penggunaan cantrang itu tercantum di dalam Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pelarangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Trawl dan Seine Nets, yang sudah berlaku seak beberapa waktu lalu.

“Potensi perikanan tangkap dari kaum nelayan di Pati dan Rembang, khususnya daerah Juwana, itu sebenarnya besar. Tetapi, sekarang ada kondisi yang melanda nelayan. Ketika saya masuk ke wilayah nelayan, ternyata mereka menyampaikan, sejak dilarang menggunakan cantrang, mereka memang menjadi tiarap. Sebab, para nelayan di sana itu kebanyakan bergabung dengan nelayan-nelayan lain yang menggunakan kapal-kapal yang ternasuk jenis cantrang. Sejak ada kebijakan pemerintah yang melarang kapal-kapal jenis cantrang itu untuk menangkap ikan, pendapatan mereka menjadi turun drastis karena memang alat itulah andalan mereka,” kata Calon Anggota Legislatif dari Daerah Pemillihan (Dapil) Jawa Tengah III (Pati, Rembang, Grobogan, Blora), Bambang Haryanto.

Purnawirawan jenderal bintang dua itu mengakui, pelarangan penggunaan cantrang itu memberi dampak cukup besar bagi nelayan. Hal itu mereka sampaikan kepada Bambang ketika MantanPanglima Divisi Infanteri 2/Kostraditu bertandang ke kampung nelayan, baru-baru ini. Bambang pun berpendapat, perlu ada solusi tentang pengganti cantrang jika memang alat tangkap ikan itu dilarang. Sehingga, para nelayan tetap bisa mencari ikan dengan baik. Sebab, jika hal itu dilarang, hasil tangkapan nelayan itu berkurang banyak sekali. Sedangkan pendapatan nelayan yang kecil-kecil itu sebelumnya pun sudah terbatas.

“Mereka menyampaikan kepada kami memang seperti itu. Kami belum bisa menjawab keluhan mereka, tetapi kami katakan, nanti akan kita carikan solusi terbaik jika kami duduk di lembaga legislatif. Tetapi memang ke depan perlu ada solusi soal penangkapan ikan oleh nelayan-nelayan tradisonal itu, terutama berkaitan dengan peraturan tentang jenis kapalnya, sistem perizinannya, atau alat tangkapnya,” ujarnya.

Standarisasi Alatnya

Alumnus Akademi Militer Nasional tahun 1984 yang berasal dari kecabangan Infanteri tersebut berpendapat, jika sekarang memang penggunaan cantrang dilarang, seharusnya ada solusi alternatif agar nelayan tetap dapat mencari nafkah dengan baik dan bisa mencukupi kebutuhan mereka. Misalnya, batasi penggunaan alat menangkap ikan yang sejenis cantrang tetapi tak perlu melarangnya. Atau perbaiki tekniknya, agar ikan-ikan kecil yang berada di perairan tertentu tidak ikut terjaring.Cukup ikan-ikan besar saja yang terjaring.

“Yang saya pelajari, sistem cantrang itu dilarang karena ternyata ketika nelayan menggunakan cantrang, ikan-ikan kecil akan ikut terjaring sementara ikan-ikan kecil itu merupakan bibit-bibit ikan yang nantinya berpotensi untuk menjadi ikan besar. Artinya, penggunaan cantrang itu berpotensi merusak ekosistem. Sebab, dengan terjaringnya ikan-ikan kecil, akan berpengaruh terhadap produktivitas ikan itu sendiri. Yang kedua, hal itu akan berpotensi merusak karang-karang laut. Menurut saya, nanti perlu ada standarisasi mengenai alat tangkap ikan. Alatnya yang harus diatur dan distandarisasikan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Bambang menilai, perlu pengembangan arnada kapal ikan nasional yang berukuran di atas 50 GT dengan alat tangkap yang efisien dan ramah lingkungan. Hal itu perlu untuk memanfaatkan sumber-sumber daya ikan yang ada di wilayah-wilayah laut yang selama ini menjadi tempat pencurian ikan (illegal fishing) oleh nelayan-nelayan asing yang masuk ke wilayah perairan Indonesia. Nelayan tradisional yang sebagian besar masih miskin juga harus ditingkatkan kapasitas dan etos kerjanya.

Kemiskinan Problema Utama

Bambang menegaskan, ketika ia menyanggupi untuk maju sebagai Calon Anggota Legislatif dalam Pemilu 2019 ini, ia berniat untuk memajukan daerah-daerah di Indonesia, terutama daerah asal dia, yaitu Pati, Jawa Tengah. Sebab, ia menyebut, sangat paham bagaimana sulitnya kehidupan masyarakat bawah yang hidup di bawah garis kemiskinan, karena ia sendiri berasal dari masyarakat seperti itu. Bahkan, ia menyebut, ketika masih menjalani pendidikan di Akademi Militer Nasional, ia tak berani ke kantin karena khawatir tak mampu membayar lantaran merasa tak banyak punya uang.

Karena itu, Bambang menegaskan, jika terpilih menjadi Anggota DPR, ia akan memperjuangkan pembuatan regulasi yang berkaitan tentang masalah kemajuan daerah pedesaan. Khususnya peningkatan ekonomi, komunikasi, dan teknologi di pedesaan.

“Selama masa sosialisasi dan kampanye, saya lebih banyak masuk ke wilayah perdesaan. Mengapa? Orang desa itu murni. Sama dengan tentara, jika mengatakan ‘A’ artinya ‘A’. Begitulah orang desa. Ketika masuk ke sana, saya menerima respon masyarakat sangat positif. Saya datang sendiri dan menjelaskan sendiri maksud saya mencalonkan diri sebagai Anggota DPR RI,” katanya.

Bambang berkomitmen, akan mengabdikan diri demi kepentingan rakyat banyak dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Buat dia, menjadi politisi di lembaga legislatif merupakan ladang pengabdian selanjutnya, setelah selama puluhan tahun mengabdikan diri sebagai tentara. Di ladang pengabdian yang baru ini pun ia berkomitmen akan total berjuang.

“Kondisi ekonomi yang berkaitan dengan rakyat kecil akan saya perjuangkan. Program-program pembangunan yang bersifat pemberdayaan kondisi di pedesaan itu harus saya perjuangkan. Misalnya, kami akan perjuangkan peningkatan dana desa dan pembangunan-pembangunan yang menunjang perbaikan di sektor pertanian di pedesaan. Juga sistem distribusi dan transportasi serta pasar kita, khususnya di perdesaan, dan kualitas hidup terkait pendidikan serta masalah-masalah yang menyangkut kesehatan. Ini hal-hal yang akan saya perjuangkan untuk dibuat regulasinya,” ujarnya.

Dari Keluarga Miskin

Bambang mengenang, masa kecilnya dilalui di tiga desa di Pati, Jawa Tengah. Sebab, ketika itu ibunya tidak memiliki rumah sendiri. Jadi, mereka mengontrak rumah dan ketika masa kontraknya habis, mereka harus pindah ke rumah kontrakan yang lain. Bambang kecil melihat, bagaimana ibunya berjuang menghidupi sembilan anaknya yang masih kecil. Sebab, uang pensiun janda yang ibunya terima tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka bersepuluh, sedangkan sang ibu saat itu tak punya penghasilan tetap. Ayah Bambang dulunya adalah seorang Anggota Polisi. Ia berdinas di Kesatuan Brimob. Pangkat terakhirnya adalah Pembantu Letnan Satu. Dari ayahnya itu pula ia mendapatkan nilai-nilai kedisiplinan dan kesungguhan dalam berjuang.

“Ayah saya selalu mengatakan, orang tua hanya mendidik, membina, dan mengarahkan anak-anak. Tetapi tentang berhasil atau gagalnya anak-anaknya itu tergantung dirinya sendiri. Oleh karena itu, perlu bekal untuk berhasil. Apa bekalnya? Yang pertama adalah kualitas diri. Jangan sampai cacat, karena kualitas diri pribadi itu adalah modal. Yang kedua adalah ilmu pengetahuan. Tetapi kualitas diri pribadi dan ilmu saja tidak cukup. Harus disertai perjuangan. Dan perjuangan itu memiliki lima aspek. Satu, berkorban waktu. Dua, berkorban pikiran. Tiga, berkorban tenaga. Empat, berkorban perasaan. Dan lima, ketika kita sudah berhasil, kita harus mau mengorbankan materi dalam bentuk sedekah dan lain-lain. Berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Nasihat ayah saya itulah yang memotivasi saya untuk menjadi seorang fighter,” kisahnya.

Bambang berkisah, ayahnya sebagai Anggota Brimob ketika itu sering bertugas operasi. Ketika sedang menjalani salah satu tugas operasi di Kalimantan, yaitu Operasi Paraku, ia terkena tembak. Luka tembaknya sempat sembuh, tetapi meninggalkan sakit di tubuhnya sehingga enam tahun kemudian ia meninggal dunia saat sedang dinas di Lampung.

Ketika itu, tahun 1974, Bambang masih duduk di bangku kelas dua SMP. Saat itu, ia melihat, betapa pun sulitnya hidup mereka, ibunya sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya. Sebab, sang ibu sangat yakin, pendidikan yang baik akan menjadi bekal yang cukup bagi anak-anaknya dalam menempuh hidup di masa depan. Selain itu, semangat juang sang ibu juga begitu menginspirasi anak-anaknya. Terutama Bambang.

“Melihat perjuangan ibu, saya termotivasi untuk menjadi pejuang juga. Saya bertekad, jika orang lain dapat belajar dua jam sehari, saya akan belajar lima jam sehari. Dan saya harus berprestasi karena kalau tidak, maka saya tidak akan menjadi apa-apa. Sejak itu, saya terus belajar dan berjuang. Alhamdulillah, di sekolah saya mendapat ranking yang bagus dan diterima di Akabri. Lalu saya lulus murni dengan prestasi. Begitu pula selama berkarir sebagai tentara, saya cukup punya prestasi hingga akhirnya pensiun sebagai jenderal berbintang dua,” kisahnya.

Bambang menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA di Lampung. Di Lampung, ia sempat menjalani berbagai pekerjaan untuk membiayai sekolah dan hidup sehari-hari. Misalnya,ia pernah menjadi tenaga penyebar pamflet promosi film bioskop, kondektur angkot, pengumpul cengkeh di sebuah kebun di Lampung, dan lain-lain. Semua pengalaman itu membuat ia sangat menghargai arti kesungguhan dan perjuangan untuk meraih keberhasilan.

Usai lulus SMA Negeri 1 Lampung, ia mendaftar ke Akabri dan diterima. Lulus Akabri tahun 1984, ia Kemudian melanjutkan pendidikan di Seskoad dan berhasil lulus pada 1997 sebagai lulusan terbaik. Selanjutnya, Bambang melanjutkan pendidikan ke Lemhannas dan lulus ditahun 2012. Selama karir militernya, ia sempat memangku sejumlah jabatan penting. Di antaranya Asops Kasdam II/Sriwijaya (2007), Dirbindik Seskoad, Pamen Denma Mabesad (Untuk Dik Lemhannas TA 2012), Dirtap Sembelneg Debid Taplai Bangsa Lemhannas RI (2012), Danrem 174/Anim Ti Waninggap (2013), Pangdivif 2/Kostrad (2014), dan Staf Khusus Kasad (2015).

*) Penulis adalah Calon Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Tengah III (Pati, Rembang, Blora, Grobogan).

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia