Kamis, 23 May 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Teknis Ujian Nasional Tersangka Begal Belum Jelas, Ini Penyebabnya

13 April 2019, 10: 09: 13 WIB | editor : Ali Mustofa

Teknis Ujian Nasional Tersangka Begal Belum Jelas, Ini Penyebabnya

KOTA – Teknis pelaksanaan ujian nasional (Unas) tersangka begal di Jalan Lingkar Utara, tepatnya di timur Taman Oasis yang berinisial MZ belum ada kejelasan. Berdasarkan informasi, tersangka yang tercatat sebagai siswa kelas IX salah satu MTs swasta di Kudus akan menjalankan Unas di Mapolres Kudus. Sedangkan tersangka lain berinisial NB memang tidak dapat mengikuti ujian karena selama dua bulan membolos.

Sebelumnya, terjadi tindak pidana curas yang dilakukan tujuh remaja pada Selasa (2/3) lalu. Mereka melakukan pembegalan sekaligus mencuri motor korbannya di Jalan Lingkar Utara timur Taman Oasis. Korban maupun tujuh tersangka ini rupanya masih berusia di bawah umur. Salah satu diantara tersangka yang berinisial MZ rencananya akan menjalankan Unas. Namun teknis pelaksanaannya hingga kini belum jelas. 

Namun, ada beberapa rencana ujian. Salah satunya MZ bisa mengikuti Unas dengan cara paper atau ujian kertas. Berhubung seluruh MTs sudah berbasis komputer, maka MZ dimasukkan kategori sekolah luar biasa (SLB).

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Joko Susilo melalui Kabid Dikdas Suharto mengatakan, masih melakukan koordinasi dengan musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SMP. ”Kami belum tahu seperti apa teknisnya. Namun kami tentu akan membicarakannya lebih lanjut dengan Kepala Dinas sekaligus MKKS. Jadi, kami belum bisa jawab sekarang,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kudus Noor Badi melalui Kasi Pendidikan Madrasah Suhadi menerima info kalau ada dua siswa MTs terlibat begal dari grup pengawas.

”Saya langsung menemui kepala sekolah yang bersangkutan. Dan, ternyata keduanya kelas IX yang harus menjalani ujian nasional (Unas), tetapi dengan berbagai pertimbangan yang diperbolehkan ikut ujian hanya satu siswa yakni MZ, karena siswa satunya yang diketahui berinisial MB tidak diperkenankan ikut ujian karena tidak terpenuhi syarat-syarat ikut ujian, ulangan harian dan sebagainya sering tidak mengikuti,” tandasnya.

Suhadi mengatakan, sekolah menjadi rumah kedua mendidik anak. Namun, yang paling utama adalah keluarga. Berdasarkan informasi yang didapat, kedua siswa tersebut berada di lingkungan keluarga yang tidak utuh dan kurang perhatian.

”Kami mengimbau untuk memantau anak didik, tapi kalau sudah berada di luar sekolah memang sudah menjadi tanggung jawab keluarga. Jadi, harus ada kerja sama yang baik antara sekolah dengan orang tua,” imbuhnya.

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia