Kamis, 21 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Sebelum Begal di Jalingkut, Pelaku Sempat Pamit Pergi Pengajian

11 April 2019, 10: 05: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

DIGELANDANG: Para pelaku begal di Jalan Lingkar Utara Kudus saat diamankan polisi di Mapolres Kudus.

DIGELANDANG: Para pelaku begal di Jalan Lingkar Utara Kudus saat diamankan polisi di Mapolres Kudus. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Baru-baru ini, publik digemparkan dengan dugaan tindakan begal di Jalan Lingkar Utara (Jalingkut), Desa Pedawang, Bae, Kudus. Akibatnya, korban mengalami luka serius dan motor Satria FU dibawa kabur tersangka yang berjumlah sembilan anak di bawah umur.

Sebelum melakukan aksinya, salah satu pelaku begal pamit kepada orang tuanya pergi pengajian. Hal ini disampaikan oleh IR, orang tua pelaku yang berinisial AZ. Saat ditemui di tempat kerjanya kemarin, ayah AZ mengaku sedih dan menyesal dengan kejadian yang menimpa anak sulungnya itu. Ia mengakui, bahkan apa yang dilakukan anaknya itu murni karena keteledoran dirinya sebagai orang tua. ”Saya yang salah, sebagai orang tua seharusnya saya bisa kontrol dan awasi pergaulan anak,” katanya sambil menyeka air mata dengan tisu.

IR tak menampik jika satu dari pelaku yang ditangkap itu memang diketahui sebagai temannya. Beberapa kali mereka juga datang ke rumahnya. Baik untuk bermain ataupun hanya sekadar menjemput AZ bermain. ”Saya tahu MB (salah satu pelaku lain) itu teman anak saya. Kalau pas kemari (datang ke rumah, Red) anaknya ya baik. Tidak tahu kalau anak saya di luar juga berteman dengan anak-anak lain. Bahkan ada yang putus sekolah,” tuturnya.

Ketika harus mendengar dan mengingat kasus yang menimpa anaknya, pria ini selalu menitihkan air mata. Ia masih tidak menyangka, anak yang selama ini masih terbilang manja kepada orang tuanya itu, bisa terlibat dalam tindak kejahatan.

Diceritakan, dalam keseharian AZ tergolong pendiam dan manja. Setiap pagi, ayahnya selalu membuatkannya minum. Setiap hari juga rajin berangkat sekolah. Sebagai orang tua, ia tak pernah mendapat teguran atau pun surat dari sekolah bahwa anaknya nakal.

Ia pun tak menapik jika anaknya memang sering keluar bermain hingga malam. Terutama ketika keesokan harinya sekolah libur. ”Kalau besoknya libur, memang sering main hingga larut. Kalau pas kejadian kemarin, itu pamit mau pergi pengajian Cak Nun di Gebog. Jadi saya tak kepikiran,” ungkapnya.

Sebelumnya, ia mengaku sempat senang. Sebab, selama tiga hari anaknya berdiam diri di rumah. Tidak pergi main seperti biasanya. Namun akhirnya hatinya tersayat, karena harus menerima kenyataan bahwa anaknya ikut terlibat dalam kejadian begal di Jalingkut. ”Anak saya sama sekali tidak bercerita. Cuma memang dia jadi berubah, tidak main keluar. Saya senang, tak kira sudah ”sembuh” (tidak sering main hingga larut malam, Red),” katanya.

Sebagai orang tua, ia yakin keterlibatan AZ hanya ikut-ikutan. Jadi, ia berharap anaknya itu bisa dikembalikan kepadanya. Namun, dia tetap menghormati proses hukum yang berjalan.

Di tempat terpisah, kondisi kesehatan Jalaludin Muhamad Akbar, korban begal sudah membaik. Senin (8/4) kemarin, pihak Rumah Sakit Aisyiyah Kudus sudah mengizinkan pulang. Namun baru sehari di rumah, Jalal -sapaan akrabnya- harus kembali dirujuk ke RSUD dr. Loekmnono untuk mendapatkan perawatan intensif.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus Noor Haniah kemarin. Saat ditemui di RSUD dr. Loekmonohadi, ia mengatakan, korban memang sengaja dimintakan rujukan kembali agar bisa dirawat intensif di rumah sakit. ”Kemarin sempat di rumah. Tapi kami dari JPPA khawatir, karena lukanya masih basah. Nanti kalau salah penanganan malah bisa infeksi,” katanya.

Selain karena pertimbangan tersebut, mantan wakil bupati Kudus itu juga mengatakan, kondisi psikis korban masih rentan. Jalal mengalami trauma yang dirasa cukup berat. Jadi, dirasa perlu terapi psikologis. ”Kalau di sini (RSUD, Red) pengawasan dan penanganan kan lebih mudah. Jadi, kami harap korban bisa segera pulih, agar bisa beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

Terapis Psikologi RSUD dr. Loekmonohadi Dyah Tjitrawati membenarkan hal tersebut. Saat ini kondisi pasien masih mengalami trauma yang butuh perhatian intens. Dari hasil pemeriksaannya, korban masih agak kesulitan untuk diajak berbicara panjang. ”Kalau diajak bicara bisa memberikan feedback. Tapi, ketika melihat banyak orang dan di situasi tertentu, saya masih melihat kecemasan dan ketakutan dari dirinya,” jelasnya.

Ketua Forum Kesetaraan dan Keadilan Gender (FKKG) Kudus Lestari Rahayu dan beberapa perwakilan anggota juga turut menengok korban di RSUD kemarin. Seperti apa yang sudah diberitakan sebelumnya, pihaknya kan melakukan pendampingan. Tak hanya untuk korban tapi juga pelaku. Sebab semuanya masih berusia di bawah umur.

”Untuk pendampingan ini, kami sudah bagi tugas. Kami sudah bagi siapa yang akan mendampingi korban dan siapa yang akan mendampingi pelaku,” paparnya.

Kemarin, pihaknya juga mendampingi keluarga korban untuk memenuhi panggilan dari Polres Kudus. Tak hanya itu, pihaknya juga bertandang ke sekolah korban bersama JPPA. Selain mengantarkan surat keterangaan dari dokter, mereka juga merekomendasikan korban agar bisa absen dari ujian tengah semester.

”Kami harap nanti (korban) bisa ikut ujian susulan saja. Takutnya kalau dipaksakan untuk mikir malah kondisinya drop,” ujarnya. 

(ks/daf/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia