Jumat, 24 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
Januari Puspa Andhini, Spesialis Cover Dancer

Demi Totalitas, Persiapan Lomba hingga Satu Tahun

10 April 2019, 10: 24: 33 WIB | editor : Ali Mustofa

Januari Puspa Andhini, Spesialis Cover Dancer dengan Berderet Prestasi

Januari Puspa Andhini, Spesialis Cover Dancer dengan Berderet Prestasi (DOK PRIBADI Januari Puspa Andhini)

Januari Puspa Andhini mengawali karir dance dari grup dance cover. Namanya Bulletproof Young Generation (BYG) Dance Crew. Segudang prestasi berhasil ia sabet bersama grupnya ini. Sayangnya, stereotipe yang mengatakan dance menonjolkan bentuk tubuh kian menjamur. Hal ini yang membuatnya merasa prihatin.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

DUDUDU... lagu dari band Black Pink diputar. Januari Puspa Andhini mulai menari mengikuti irama. Tetapi ada yang unik. Penampilan mereka jauh dari artis-artis K-Pop. Performa Bulletproof Young Generation (BYG) Dance Crew ini, malah seperti hantu. Masuk akal juga. Judul di video yang diupload di Youtube itu ditulis Halloween versi dance cover.

”Jadi, grup modern kami ini spesialis cover dancer. Kami meng-cover boygroup maupun girl group K-Pop,” kata perempuan kelahiran Jepara, 5 Januari 1997 ini.

Karir dance Januari Puspa Andhini sendiri, memang berawal dari bergabung di BYG Dance Crew sekitar Februari 2016 lalu. Dari grup ini, ia belajar dari bawah sekitar lima bulan. Kemudian memulai debutnya pada Juli 2016 lalu. Dengan alasan suka menari dan budaya Korea, ia memutuskan bergabung di grup ini. Klompok ini juga yang membawanya mengikuti berbagai lomba.

”Tiap mau ikut lomba, persiapan bisa sampe enam bulan. Bahkan, bisa sampe setahun untuk prepare lomba doang. Supaya hasilnya bisa totalitas tanpa batas,” kata cewek yang juga hobi basket ini.

Sudah berbagai lomba ia ikuti. Baik tingkat daerah hingga provinsi. Seperti Light Galaxy (LG) Show, Semarang Hallyu Festival (SHF), Pesta Rakyat Jawa Tengah 2018, Liga Dance Gekaes Smansara, dan Modern Dance Jepara Automotif Festival.

Dari ajang tersebut, dia dan grupnya meraih juara I di LG Show, SHF, dan Pesta Rakyat Jateng. ”Itu tingkat provinsi. Sebenarnya masih banyak lomba yang kami ikuti. Tapi kalo ditulis semua nggak cukup nanti korannya,” candanya pada Jawa Pos Radar Kudus.

Tentunya, seiring berkembangnya teknologi, mahasiswi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) ini sudah melihat banyak kompetitor. Munculnya dancer di Jepara yang kian menjamur dan internal grup menjadi tantangan tersendiri.

Hal ini membuatnya harus putar otak untuk berinovasi membuat kreasi projek baru. Karakter setiap projek juga tidak selalu sama. Karena setiap idol yang mereka cover melakukan come back. Genre lagu juga pasti berbeda dengan sebelumnya.

Meski sudah berderet prestasi yang dirahnya, namun dia punya kegelisahan yang saat ini kian meninggi. Terutama karena dance mendapatkan stereotipe ”menjual” bentuk tubuh. ”Sedih ya memang. Persepsi masyarakat tentang dance itu seksi. Sedangkan grup kami lebih menonjolkan kualitas dance. Bukan kualitas tubuh. Di BYG juga diajarkan tentang attitude,” imbuhnya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia