Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Temukan Cincin, Warga Medang Kaget Ternyata Stampel Kuno Era Majapahit

Diduga Bukan Milik Raja

08 April 2019, 15: 45: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

STAMPEL EMAS: Stampel kuno yang ditemukan di Dusun Medang Desa Banjarejo memiliki pahatan kotak kecil berjumlah 16.

STAMPEL EMAS: Stampel kuno yang ditemukan di Dusun Medang Desa Banjarejo memiliki pahatan kotak kecil berjumlah 16. (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GABUS – Berbagai penemuan benda bersejarah kembali ditemukan warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus pada Rabu (3/4) kemarin. Benda yang dikira cincin emas itu ternyata sebuah stampel emas. Sebab menurut penelitian, ukurannya terlalu kecil untuk disebut cincin.

Benda seberat 8.8 gram itu memiliki panjang dan tinggi sekitar dua sentimeter. Pada bagian atas berbentuk persegi empat dan di dalamnya ada 16 buah pahatan kotak-kotak kecil. Tepat di tengahnya terdapat satu kota yang ukurannya agak besar.

Semula benda temuan itu dikira sebuah cincin, karena memiliki lubang kecil seukuran pensil. Kemudian di samping lubang ini terdapat motif ukiran.

(INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

”Memang sepintas kalau dilihat mirip cincin kecil. Tetapi, kalau dimasuki jari lubang itu terlalu kecil. Setelah diteliti tim dari Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta yang kebetulan sedang melakukan penelitian di sini. Ternyata benda itu merupakan stampel kuno,” jelas Kades Banjarejo Taufik Achmad.

Meski demikian, stempel yang ditemukan warga bernama Sutrisno, 42, warga Dusun Medang di area persawahannya di Dusun Medang sedalam satu meter itu diperkirakan bukan milik seorang raja, tetapi penguasa di level bawahnya.

”Kalau diibaratkan di zaman sekarang, itu mungkin stempel bupati, camat atau kepala desa. Diperkirakan stempel itu peninggalan abad XIV-XIIX era Majapahit. Meski begitu, tim dari Balar masih melakukan kajian,” jelasnya.

Selanjutnya, benda temuan tersebut disimpan di rumah fosil dan akan dipajang untuk melengkapi temuan-temuan peninggalan situs medang sebelumnya. Hal itu sekaligus untuk memberikan pengetahuan baru bagi warga yang berkunjung ke rumah fosil.

(ks/int/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia