Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Fathul Mu’in, Penggerak Wisata Gardu Pandang

Terus Peras Otak Hadirkan Inovasi Tempat Menarik

08 April 2019, 09: 49: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

SPOT ANDALAN: Pemandangan yang dapat dinikmati dari Gardu Pandang Jehan di Desa Desa Kunir, Keling, Jepara.

SPOT ANDALAN: Pemandangan yang dapat dinikmati dari Gardu Pandang Jehan di Desa Desa Kunir, Keling, Jepara. (POKDARWIS KUNIR FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Menjaga eksistensi tempat wisata perlu kerja ekstra. Berpikir kreatif dan inovatif wajib hukumnya. Hal ini seperti yang dilakukan Fathul Mu’in, penggerak Wisata Gardu Pandang Jehan, Desa Kunir, Keling, Jepara. Dia menggerakkan kawan-kawannya di Pokdarwis untuk berupaya menampilkan hal baru bagi pengunjung di desanya.

 ACHMAD ULIL ALBAB, Jepara

 MATAHARI pagi bersinar cerah di Dukuh Jehan, Desa Kunir, Kecamatan Keling, Jepara. Dari kejauhan seorang anak muda melambaikan tangan. Tubuhnya tak terlalu tinggi. Kira-kira 160 sentimeter. Rambutnya sedikit acak-acakan. Anak muda itu Fathul Mu’in.

Fathhul Mu'in

Fathhul Mu'in (DOK PRIBADI)

Sapaannya Mu’in. Tangannya sedikit belepotan dengan tanah. ”Lagi nanam bunga, Mas,” kata Mu’in sembari mengajak Jawa Pos Radar Kudus duduk di sebuah warung tenda tidak jauh dari tempatnya menanam. ”Supaya tetap menawan dan orang tak bosan berkunjung kemari,” Mu’in melanjutkan obrolan sembari menawarkan jajanan.

Di atas Gardu Pandang Jehan, memang tampak bunga-bunga yang baru ditanam. Jenisnya entah, Mu’in sendiri kurang paham. Katanya bunga brokoli. Warnanya kuning terang. Selama sepekan belakangan ini, Mu’in bersama kawan-kawannya di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tunas Muda memang gencar menanam bunga.

Berbagai sisi di atas gardu pandang ditanami bunga-bunga. Indah.

Asap kopi masih mengepul, sekali tiup, Mu’in langsung menyeruput. Mu’in kembali berkisah, menurutnya tantangan bagi pengelola wisata ada pada ”menu” yang disuguhkan kepada pengunjung.

Tak mungkin dari sejak berdiri hingga kini, spot-spot lawas yang disuguhkan. Tentu pengunjung bosan dan malas untuk datang lagi. ”Makanya sebisa mungkin otak kami terus diperas. Bagaimana caranya menyuguhkan yang baru di tempat ini,” kata pria kelahiran Jepara, 7 Februari, 1993 ini, kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Gardu Pandang Jehan sendiri mulai dibuka sejak awal 2017 lalu. Bermula dari tak sengaja. Yakni saat datang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus di Semarang. ”Dulu saat pembangunan, semua dari nol. Kami para pemuda gotong royong membuka jalan hingga membuat aneka spot foto dengan latar belakang panorama alam,” tutur pria yang juga menjadi Ketua Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Desa Kunir ini.

Pemandangan dari Gardu Pandang Jehan yang juga kerap disebut Puncak Jehan ini, memang menawan. Dari ketinggian 800 MDPL (meter di atas permukaan laut) pengunjung dimanjakan dengan pemandangan punggung Pegunungan Muria yang terlihat hijau. Selain itu gagahnya Gunung Genuk di sisi utara akan terlihat dengan jelas berpadu dengan laut Benteng Portugis.

Tak heran, gardu pandang menjadi hits di kalangan anak muda. Spot-spot fotonya instagramable. Kekinian dan layak dipamerkan di jagat sosial media. ”Sebulan bisa mencapai 1.000 pengunjung. Kadang bahkan sampai 3.000 pengunjung. Yang datang dari berbagai daerah. Jepara sendiri, kota tetangga, bahkan beberapa turis asing juga beberapa kali ada yang berkunjung ke sini,” kata Mu’in makin antusias bercerita.

Selain bersolek dengan tanaman bunga, gardu pandang ini juga menawarkan sensasi lain. Adalah berkemah di atas puncak ini.

Soal tarif, terjangkau. Untuk kunjungan biasa dikenai tiket masuk Rp 3 ribu. Sedangkan untuk berkemah, satu orangnya dikenakan Rp 5 ribu. ”Kami sedang menata itu dan berupaya menyuguhkannya lebih baik. Malam hari berkemah di sini pengunjung akan menikmati kerlap-kerlip lampu rumah-rumah warga di Kecamatan Keling,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia