Jumat, 23 Aug 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Ini Soal Manusia dan Kemanusiaan

08 April 2019, 09: 25: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

JASMIN adalah seorang buruh tani di Desa Singonegoro, Jiken, Blora. Usianya 53 tahun. Penghasilannya tidak tentu. Dia harus menghidupi istri dan kedua orang tua yang sudah renta. Mereka tinggal seatap di rumah sederhana di pinggiran hutan.

Tanggal 8 Maret 2019 dia ditangkap polisi. Tuduhannya mencuri kayu. Saat itu dia memikul sebatang kayu jati sepanjang empat meter. Besarnya 8 x 10 cm. Ditawarkan Rp 100.000. Orang yang ditawari ternyata polisi. Hari itu juga dia dijebloskan ke tahanan. Jasmin tak berkutik. Sampai sekarang.

Yati adalah warga Desa Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Perempuan 58 tahun itu ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Sapol PP) karena kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya. Pada 26 Februari dia diadili. Dihukum denda Rp 400 ribu subsider kurungan sebulan penjara.

Hukuman tersebut sama dengan yang dijatuhkan terhadap dua waga Kudus lainnya yang ditangkap hampir bersamaan. Namun tidak sama dengan sembilan warga lain yang ditangkap sebelumnya. Mereka hanya dijatuhi denda Rp 200 ribu. Tuduhannya sama. Melanggar Perda. Kasusnya juga sama. Membuang sampah.

Sama-sama melanggar Perda, seorang pengusaha kafe karaoke di Kudus dihukum sebulan penjara dengan masa percobaan dua bulan. Tidak ada denda. Tentu, warga Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tersebut, tidak perlu masuk bui bila dalam dua bulan dia tidak melakukan pelanggaran lain.

Jasmin, Yati, dan yang lain adalah manusia. Dia dihukum karena melakukan pelanggaran. Sedangkan perlakuan terhadap mereka menyangkut kemanusiaan. Karena itu, berbeda-beda. Ada subjektivitas. Di sinilah sering menimbulkan rasa ketidakadilan. Apalagi banyak pembuang sampah lain tidak diapa-apakan. Banyak pencuri yang juga berkeliaran.

Kasatpol PP Kudus Djati Soleh merasakan hal itu. Kenapa seorang pengusaha karaoke justru dihukum percobaan? Padahal, pembuang sama dihukum denda. Bupati Blora Djoko Nugroho juga prihatin atas perlakukan terhadap Jasmin. Rakyatnya itu miskin. Mencuri karena kepepet kebutuhan. Kedua orang tuanya renta. Sakit lagi. Djoko tersentuh. Dia meminta agar Jasmin dikeluarkan dari tahanan. Suara hati Djoko disampaikan dua kali berturut-turut dalam acara resmi. 

Saya menangkap, Djoko tidak mengintervensi penegak hukum. Dia menyuarakan hati nurani. Tidak banyak pejabat yang seperti beliau. Bila Jasmin dibebaskan dari terali besi bukan berarti dibebaskan dari hukum. Kasusnya bisa terus berlanjut. Toh, Jasmin kemungkinan tidak melarikan diri. Dia miskin. Tidak punya uang. Pulang dari perantauan karena ingin merawat kedua orang tuanya.

Saya juga tertarik kasus Jasmin. Tanggal 19 Maret 2019 saya ke rumahnya. Bertemu istri dan kedua orang tuanya. Jariyo, ayah Jasmin sedang sakit. Kakinya bengkak setelah tertusuk kayu. Sepertinya infeksi. Namun, dibiarkan karena tidak punya uang untuk berobat. Saya menyarankan agar dibawa ke puskesmas. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian saya mendapat kabar Jariyo sembuh.

Kalau polisi tetap menahan Jasmin, mereka tidak salah. Polisi memiliki kewenangan berdasarkan hukum. Jasmin tertangkap tangan membawa kayu curian. Tetapi, kalau Jasmin dikeluarkan dari tahanan juga tidak salah. Ada dasar hukumnya juga. Begitulah kemanusiaan. Selalu tidak sama antara satu orang dengan orang lain. Itu sangat tergantung dari hati nurani.

Di manapun, dalam kondisi apapun, sampai kapanpun, diperlukan hadirnya hati nurani. Tidak sekadar aturan. Di perusahaan juga demikian. Saya berusaha mempraktikkan. Sulitnya minta ampun. Kadang-kadang berbenturan. Tanggapan karyawan juga berbeda-beda. Bisa jadi saya dianggap tidak adil. Atau malah tidak berhati nurani.

Hari ini misalnya, saya mengeluarkan bonus untuk karyawan Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Kudus. Tidak banyak. Besarannya pun tidak sama antarkaryawan. Tetapi, harus disyukuri. Apalagi di saat banyak perusahaan media kembang kempis.

Aturannya ada. Tetapi, tidak bisa begitu saja dilaksanakan. Misalnya, karyawan yang belum setahun mestinya tidak mendapat apa-apa. Juga karyawan yang bekerja biasa-biasa saja dalam arti baik. Tetapi, saya kasihan. Akhirnya yang sudah bekerja enam bulan mendapat cipratan. Demikian juga yang bekerja biasa-biasa saja. Itu hati nurani.

Bonus itu bukan gaji. Diberikan sebagai perwujudan apresiasi kepada karyawan yang bekerja lebih. Karena itu, realisasinya tidak sama. Itu karena nilai karyawan berbeda-beda. Kapasitasnya juga bertingkat-tingkat. Ada yang rajin, rajin sekali, sangat rajin sekali, kurang rajin, tidak rajin, dan malas. Ada yang bekerja sesuai tupoksinya, ada pula yang melebihi. Ada yang berintegritas tinggi, ada yang biasa. Ada yang sering membantu temannya, ada yang tidak.

Repotnya, rata-rata karyawan hanya bekerja baik. Orang yang bekerja baik sudah mendapat gaji. Sering tidak disadari. Begitulah. Mengedepankan hati nurani betul-betul tidak gampang. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia