alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Memilih Jurusan Bahasa, Mengapa Tidak?

03 April 2019, 09: 23: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

Sri Yuliati, S.Pd.; Guru SMAN 1 Jekulo

Sri Yuliati, S.Pd.; Guru SMAN 1 Jekulo (dok pribadi)

Share this      

STRUKTUR kurikulum sekolah menengah atas (SMA) terdiri atas kelompok mata pelajaran wajib. Yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok mata pelajaran C yaitu pilihan kelompok peminatan terdiri atas matematika dan ilmu alam, ilmu-ilmu sosial, dan Ilmu-ilmu bahasa dan budaya.

Jurusan IPA mempelajari mengenai gejala-gejala alam. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi, dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA terdiri dari empat aspek yaitu matematika, fisika, kimia, dan biologi.

Jurusan IPS merupakan suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat, geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, dan pelajaran yang berkaitan dengan ilmu sosial.

Jurusan IBB merupakan suatu ilmu yang berkaitan dengan ilmu kebahasaan baik dari segi bentuk bahasa, unsur bahasa, dan sampai budaya terbentuknya sebuah bahasa. IBB terdiri dari sejumlah mata pelajaran yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa asing lain (tergantung ketersediaan tenaga guru) dan antropologi.

Dari ketiga jurusan tersebut yang paling diminati oleh calon peserta didik jurusan IPA. Baru kemudian jurusan IPS. Terakhir adalah jurusan IBB (bahasa). Banyak orang tua menginginkan anaknya untuk memilih jurusan IPA. Tidak sedikit orang tua marah bahkan kecewa ketika anaknya memilih jurusan selain jurusan IPA.

Jurusan bahasa terkadang dipandang sebelah mata. Bahkan jurusan bahasa cenderung mendapat stigma buruk. Mereka menganggap jurusan bahasa adalah jurusan tempat berlabuhnya anak yang merasa tidak beruntung di ilmu eksak maupun sosial.

Seakan-akan jurusan bahasa adalah pilihan terakhir. Bahkan pemerintah sendiri terkesan tidak memberikan ruang gerak yang luas bagi lulusan jurusan bahasa. Hal ini terbukti dari sedikitnya perguruan tinggi yang menerima calon mahasiswa dari SMA jurusan bahasa. Lembaga pemerintah pun kadang membatasi jurusan bahasa dalam perekrutan pegawai baru.

Terlepas dari semua itu, jurusan bahasa yang didiskriminasikan ternyata banyak keuntungan dan kelebihan yang tidak diketahui oleh orang awam. Kelebihan jurusan bahasa antara lain, pertama anak jurusan bahasa pandai berfilosofi, Anak Bahasa diajarkan tentang filosofi dan sastra. Jadi mereka pasti lebih paham tentang makna hidup ini.

Kedua, anak bahasa itu puitis. Jadi bila ingin mengutarakan maksudnya bisa jadi diutarakan dengan bahasa yang puitis. Ketiga, anak bahasa jelas pandai berkomunikasi. Karena anak bahasa diajarkan untuk membuat karya tulis. Anak bahasa bisa mengkomunikasikan karyanya dengan baik di depan orang lain. Mereka tidak malu dan tidak canggung untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan.

Keempat, anak bahasa pandai berorganisasi, karena anak bahasa pandai berkomunikasi jelas mereka pandai berorganisasi. Kelima, anak bahasa cenderung berpikir kritis. Mereka dituntut untuk menganalisa sebuah karya tulis maupun seni. Jadi, sudah pasti mereka ini lebih bisa berpikiran kritis daripada yang lain. Masalah sepelik apapun, anak Bahasa bisa menyelesaikannya dengan tenang.

Keenam, anak bahasa tidak hanya bisa menangkap makna tersirat, tetapi juga tersurat. Mereka terbiasa menentukan makna tersurat dari karya-karya sartra. Ketujuh, anak bahasa terkenal anak yang berani mengungkapkan ide-ide, dalam bidang kesusastraan maupun ilmiah.

Fakta lain yang terungkap dari anak jurusan bahasa adalah, mulai saat ini banyak anak bahasa diterima diperguruan tinggi negeri dengan jurusan yang tidak kalah favoritnya dengan anak IPA atau IPS. Ada sebagian yang diterima di jurusan hubungan internasioanal. Jurusan ilmu pemerintahan,dan tentu saja jurusan-jurusan sastra baik sastra Jawa, sastra Inggris, Indonesia, Perancis, bahkan sastra Jerman. Jadi, apa yang diragukan lagi dari jurusan bahasa? Tentu saja niat, tekad dan kemantapan yang kuat untuk menentukan pilihan jurusan bahasa di SMA. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia