alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Sifat Kritis dan Komunikatif pada Siswa dengan Kooperatif Learning

30 Maret 2019, 09: 18: 18 WIB | editor : Ali Mustofa

Eny Kusrini, S.Pd.; Guru Matematika SMP 3 Bae

Eny Kusrini, S.Pd.; Guru Matematika SMP 3 Bae (dok pribadi)

Share this      

MATEMATIKA… sulit. Itulah komentar siswa jika ditanya tentang matematika. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah guru. Guru terkadang hanya mentransfer pengetahuan matematika kepada siswa. Tak diberikan ruang bagi siswa untuk berpikir dari mana konsep atau rumus tersebut didapat.

Hal tersebut membuat siswa kurang terasah kemampuan penalarannya. Sehingga mereka kesulitan dalam menyelesaian soal matematika. Semakin lama, siswa semakin sulit melanjutkan belajar konsep berikutnya. Karena semakin tinggi kelasnya, semakin tinggi pula kebutuhan penalaran untuk memahami konsep matematika.

Belajar sebagai proses berpikir, membutuhkan waktu. Kecepatan masing-masing dalam proses tersebut berbeda satu orang dengan yang lain. Perbedaan ini disebabkan beberapa faktor. Antara lain kemampuan menganalisa suatu informasi. Kemampuan menganalisa dapat diasah dengan penalaran. Penalaran ini dapat dilatih, dibiasakan dengan menyelesaiakan soal-soal penyelesaian masalah matematika.

Soal penyelesaian masalah matematika biasanya sudah kategori soal HOTS (higher order thinking skills) yang menuntut siswa berpikir tingkat tinggi. Mengaitkan konsep satu dengan yang lain. Berpikir dengan beberapa tahap atau berjenjang. Bagi siswa berkemampuan rendah hal seperti ini sangat sulit dilakukan. Dibutuhkan pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan, serta teknik pembelajaran yang tepat.

Pemilihan model pembelajaran yang dilakukan guru merupakan bagian penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Untuk mengasah penalaran siswa salah satu model pembelajaran yang tepat adalah model pembelajaran kooperatif. Model ini menuntut siswa belajar dalam kelompok heterogen.

Menurut hasil penelitian Morgan, dkk (2005), empat manfaat pembelajaran kooperatif meliputi, siswa menjadi ikut aktif dalam penyelesaian masalah matematika, siswa lebih termotivasi untuk bekerja kelompok daripada bersaing secara individu, siswa lebih mengutamakan rasa ingin tahu proses mencari jawaban yang benar, guru dan lebih menghargai kemampuan setiap siswa dengan melibatkan siswa dalam diskusi kelompok.

Dari empat manfaat itu, pembelajaran kooperatif dapat melatih siswa fokus pada proses. Juga melatih menggunakan penalaran untuk menyelesaiakan soal-soal matematika. Di dalam kelompok dengan beragam kemampuan. Siswa dapat saling berargumen, mengisi, dan menghargai pendapat untuk mendapatkan penyelesaian bersama. Di dalam kelompok akan muncul siswa kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif yang biasa disingkat 4C.

Dengan kerja kelompok pemahaman konsep matematika akan secara bertahap tertanam pada siswa. Apabila konsep tertanam dengan baik siswa tak akan mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Soal-aoal penyelesaian masalah matematika akan dapat terselesaikan dengan lancar. Sehingga di Kurikulum 2013 yang menuntut materi pembelajaran sampai metakognitif dapat terwujud. Dengan kemampuan penalaran yang tinggi siswa akan mampu memprediksi, mendesain, dan memperkirakan. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP