Minggu, 20 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Diyakini Mengandung Berkah, Air Panguripan Diperebutkan Warga

26 Maret 2019, 12: 46: 00 WIB | editor : Ali Mustofa

NGALAP BERKAH: Masyarakat Kudus yang hadir berebut air panguripan setelah didoakan di Jalan Menara Kudus kemarin.

NGALAP BERKAH: Masyarakat Kudus yang hadir berebut air panguripan setelah didoakan di Jalan Menara Kudus kemarin. (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Rangkaian acara Ta’sis Masjid Al Aqsha Menara Kudus sudah mencapai tahapan Kirab Banyu Panguripan kemarin. Kirab itu dimulai dari Pendapa Kabupaten Kudus hingga Menara Kudus. Total peserta yang mengikuti kirab ada 33 peserta yang merupakan perwakilan dari sumber air di Kota Kretek.

Bupati Kudus M Tamzil beserta Wakil Bupati (Wabup) HM Hartopo menunggang kuda untuk memimpin jalannya kirab banyu panguripan. Kuda yang ditunggangi Tamzil bewarna putih. Sedangkan kuda Hartopo berwarna cokelat. Mereka berdua menunggangi kuda dari pendapa hingga Menara Kudus. Tak ketinggalan Kapolres AKBP Saptono dan Dandim 0722/Kudus Sentot Dwi Purnomo juga ikut menunggang kuda.

Sedangkan peserta kirab tampil begitu apik kemarin. Mereka menghias atribut dengan cara kreatif, sesuai dengan ciri khas daerahnya. Gentong yang berisi air dari mbelik masing-masing ditaruh di atas songkro dan didorong dari Pendapa Kabupaten Kudus hingga Menara Kudus. Peserta kirab rata-rata mengenakan pakaian adat Jawa. Ada yang memakai kain lurik, kebaya, dan pakaian serba hitam.

Air yang diarak dari Pendapa Kabupaten Kudus, kemudian dipersatukan di depan Menara Kudus. Sebelum pemersatuan air itu, digelar 19 kali khataman Alquran. Dilanjutkan doa Banyu Panguripan. Ketika proses penyatuan sempat berhenti karena azan Ashar. Jajaran Forkompinda yang hadir melaksanakan Salat Asar berjamaah di Masjid Al Aqsha.

Setelah proses doa selesai, kemudian ada pembagian air kepada masyarakat yang datang. Mereka rela berebut air itu sampai berdesak-desakan. Untuk menghindari kejadian itu, panitia membagikan air yang sudah didoakan ke dalam gentong kecil kepada pemangku mbelik. Lalu masyarakat di arahkan ke masing-masing mbelik yang berjajar di Jalan Menara Kudus.

Ketua Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) H Em Nadjib Hasan, mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati berdirinya Masjid Al Aqsha Menara Kudus dan Negeri Kudus. Yakni pada 19 Rajab 956 Hijriah. Ini sesuai dengan prasasti yang tertera di atas pengimaman masjid. ”Jadi, Masjid Menara Kudus dan Negeri Kudus keberadaannya tak bisa dipisahkan,” katanya.

Dia menjelaskan, total keseluruhan mbelik (sumber air) yang tercatat di Kudus ada 50. Tetapi tak semuanya ikut kirab. Sebab, ada kendala biaya dan teknis. Ia berharap, ke depan Pemkab Kudus menganggarkan dana untuk kegiatan ini. Sehingga acara ini benar-benar milik masyarakat Kudus.

Dia menambahkan, dalam dakwah penyebaran agama Islam, para Walisongo sering menggunakan air sebagai media dakwah. Seperti halnya Sunan Kudus punya Banyu Panguripan, Sunan Kalijaga memiliki Sumur Jalatundo, dan Sunan Drajat punya Sumur Kotak.

Sementara itu, Bupati Kudus M Tamzil menyatakan mendukung penuh kegiatan Ta’sis ke-484 Masjid Al Aqsha Menara Kudus. Dia berterima kasih kepada pengurus YM3SK yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Dari kegiatan itu, bisa menjadi destinasi wisata baru kedepannya. ”Saya berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda tahunan,” katanya.

Risma, salah satu warga yang hadir mengaku, datang sejak pukul 14.00. Ia datang untuk menyaksikan kirab dan meminta air panguripan. Dia berpendapat, air tersebut mengandung keberkahan. Sebab, air itu ditemukan para leluhur. Selain itu, saat acara ini juga ada 19 kali khataman Alquran dan didoakan.

Setelah dilakukan Kirab Banyu Panguripan ini, juga ada Pasamuan Ta’sis Masjid Al Aqsha Menara Kudus. Acara ini dihadiri KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Saifudin Luthfi, dan budayawan Sosiawan Leak. (gal)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia