Minggu, 20 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Kepekaan Ekologi Indikator Religiositas

26 Maret 2019, 07: 25: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Mustafa Hizkia Simatupang, M.Pd.K.; Guru SMA N 1 Kudus

Mustafa Hizkia Simatupang, M.Pd.K.; Guru SMA N 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

MENGAMATI keberadaan cleaning service sebagai tenaga outsourching sekilas terkesan membantukebersihan lingkungan sekolah. Namun siswa yang tidak diberi kegiatan kebersihan, membuat tujuan pendidikan tidak tuntas secara holistis.

Kepekaan ekologi dan kesadaran hidup bersih rendah. Karena siswa tidak diberi tanggung jawab penuh pada kebersihan sekolah. Selain itu, rasa syukur siswa atas alam ciptaan Tuhan kurang berkembang. Padahal pemerintah dalam kurikulum nasional sangat concern dengan karakter religus ini.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan seharusnya membangun kesadaran ekologis melalui kurikulumnya. Mengapa hal ini penting? Karena saya sering mendapati siswa makan tanpa ada rasa bersalah. Meninggalkan sampah. Juga sisa makanan di ruang kelas. Refleks tebersit dalam pikiran saya. Perilaku siswa ini gambaran dari pendidikan keluarga.

Cendekiawan Muslim dari Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN) Azyumardi Azra dalam Cendekiawan Muslim: Naif Jika Kesalehan Meningkat, Korupsi Berkurang (www.jawapos.com/nasional/15/11/2017) mengatakan “Masih terlalu naif kita berharap dengan meningkatnya kesalehan, korupsi berkurang. Karena tidak ada hubungan kesalehan personal dengan kesalehan sosial."

Menyelisik pendapat Azra di atas, saya membuat komparasi antara eskalasi gairah keagamaan atau gairah kesolehan personal masyarakat kita dengan kesolehan ekologinya. Pengamatan saya sebagai pendidik selama 10 tahun, sangat memprihatinkan. Kenyataan penguasaan ilmu pengetahuan tidak secara otomatis mewujud (terejawantahkan) dalam keterampilan. Khususnya keterampilan hidup bersih. Lebih jauh lagi. Bahwa cita-cita pendidikan nasional kita sesungguhnya tidak berhenti pada ranah transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup. Kompetensi utama dan pertama yang diharapkan berkembang dalam diri siswa adalah karakter religius. Mengelola dan memelihara alam ciptaan Tuhan demi keberlangsungan hidup yang seimbang adalah bagian dari ibadah syukur kita pada Sang Pencipta.

Krisis ekologi menjadi isu global di abad ini. Krisis ini berhubungan antara perilaku manusia dan kebudayaannya dengan lingkungan hidup tempat mereka bermukim. Berlindung dan mengeksploitasi sumber daya alam. Demi kelangsungan hidup kita di bumi, perlu menjaga keseimbangan yang harmonis antara lingkungan dengan manusia yang tinggal di dalamnya.

Sudah kebutuhan mendesak mengupayakan pendidikan yang berorientasi pada ekologi. Khususnya dalam memformulasikan aspek tujuan pendidikan dan implikasinya dalam proses pembelajaran. Upaya mendasar yang dapat diambil para stakeholder dalam menanggulangi bencana ekologi yang sedang mengancam planet kita adalah menambahkan ecopedagogy dalam kurikulum nasional.

Ekopedagogik berasal dari kata, ecology yang mengandung arti ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Pedagogy yang berarti ilmu pendidikan. Baik secara teoretis maupun praksis yang didasarkan pada nilai-nilai filosofis. Berdasarkan pengertian ini dapat dipahami ekopedagogik merupakan sebuah pendekatan untuk membangun kesadaran ekologi. Berdasarkan refleksi kritis atas kondisi kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan. Guna membangun kualitas hidup yang lebih baik.

Keberadaan ekopedagogik dalam kurikulum nasional diharapkan dapat memberi dampak. Pertama, siswa sadar akan keterikatan dan ketergantungan antara makhluk hidup dengan alam. Kedua, memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, komitmen, dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melindungi dan memperbaiki lingkungan. Ketiga, menciptakan pola perilaku yang baru pada individu, kelompok, dan masyarakat sebagai suatu keseluruhan terhadap lingkungan. Capaian ini tentu meliputi aspek pengetahuan, sikap, kepedulian, keterampilan dan partisipasi siswa.

Ekopedagogik hanyalah salah satu instrumen menumbuhkan kesadaran ekologis dan mengembangkan karakter siswa. Kompleksitas permasalahan ekologi akibat dari eksploitasi alam oleh manusia secara berlebihan, menjadi penyumbang utama kerusakan lingkungan. Alarm global warming telah berbunyi mengingatkan kita akan bencana ekologi, adakah anda peduli? (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia