Kamis, 19 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Sudah Miskin Menjadi Semakin Miskin

25 Maret 2019, 11: 35: 00 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SEDIANYA hari itu saya hanya ingin berangkat dari Sidoarjo ke Semarang naik kereta Maharani. Irit. Hanya Rp 49.000. Tidak sampai separo dibanding naik bus Patas Surabaya – Semarang. Tiket sudah di tangan. Mendadak harus bermanuver. Saya ingin ke rumah Jasmin di Desa Singonegoro, Jiken, Blora.

Karena pagi di tanggal 12 Maret itu saya ketinggalan kereta, jadilah naik bus ekonomi. Dari Surabaya ke Babat. Kemudian estafet ke Cepu. Dari Kota Minyak itu naik Grab motor ke Singonegoro dengan biaya Rp 57 ribu.

Begitu turun dari angkutan bersistem on line itu terlihat Suwarini tergopoh-gopoh hendak masuk rumah berdinding kayu. Seluruh pakaiannya basah kuyub. Air yang menetes dari pakaiannya membasahi lantai tanah di teras.

Kelihatan Ayahnya Jariyo dan ibunya Tahan (berulang-ulang saya tanya namanya memang Tahan) yang duduk di ruang tamu beranjak menyambut. Mereka bertemu persis di pintu yang terbuka separo. Belum sempat mereka berbincang, saya menyapa. Mereka kaget. Mbengong.

‘’Bagaimana keadaan Pak Jasmin,’’ tanya saya. Suwarini menjawab, suaminya sehat. Saat itu berada di tahanan Polres Blora. Suwarini baru dari sana. Di jalan kehujanan. Kebetulan siang itu hujan lebat mengguyur tlatah Blora. Saya juga kehujanan sejak dari Cepu. Sempat berteduh tetapi akhirnya nekat.

Paki Jasmin yang saya tanyakan tersebut adalah seorang buruh tani serabutan. Kalau bekerja penghasilannya Rp 30.000 sehari. Dia ditangkap polisi karena kedapatan menjual sebatang kayu jati berukuran empat meter. Besarnya hanya 8 mx 10 cm. Kayu itu dipikul. Di dekat Pasar Jepon, Blora, ditawarkan kepada seseorang seharga Rp 100 ribu. Orang yang ditawari itu polisi kehutanan. Jumat, 8 Maret 2019 itulah Jasmin ditangkap.

Kata Suwarini, seumur-umur baru kali itu suaminya ditangkap polisi. Semula dia tidak tahu duduk perkaranya. Dia hanya mendengar celotehan orang lewat di depan rumah bahwa Jasmin tertangkap. Suwarini kemudian ke Balai Desa untuk mendapat informasi. Ternyata betul. Suaminya ditangkap polisi karena dituduh mencuri kayu jati. Tangispun pecah. ‘’Seandainya tahu akan mencuri, saya pasti melarangnya,’’ ujarnya.

Sebenarnya, kata Suwarini, keluarganya pasrah meski hidup serba kekurangan. Mereka rela makan apa adanya. Ayahnya yang sakit belum sempat diberobatkan. Kakinya bengkak karena ketusuk kayu lancip. Jalannya dengklang. Sesekali harus dipapah. Ibu Jasmin juga tidak sehat. Praktis mereka menjadi tanggungan Jasmin. Tiga saudara Jasmin berumah tangga di tempat lain.

Bertahun-tahun Jasmin hidup merantau. Jakarta, Surabaya, sampai Bali. Hanya sebagai kuli bangunan. Kemudian pulang karena kondisi orang tuanya yang tidak sehat. Di kampung dia bekerja serabutan. Suwarini, istrinya, membantu juga sebagai buruh serabutan. ‘’Setelah Pak Jasmin ditahan, saya yang merawat bapak-ibu,’’ ujar Suwarini yang membiarkan pakaiannya tetap basah.

Saya lihat kondisi rumahnya memang sangat sederhana. Di ruang tamu tidak terlihat ada perabotan kecuali meja dan bangku panjang tersebut.

‘’Tolong Pak, dibantu agar Pak Jasmin cepat keluar,’’ rengek Suwarini kepada saya. Terus terang saya mengatakan tidak bisa membantu apa-apa. Saya datang hanya untuk bersilaturrahmi sebagai sesama umat manusia. Jawaban saya itu agaknya melegakan. Tahan, yang sejak semula diam mengatakan berterima kasih. Sedangkan Jariyo tetap diam. Dia lebih sering memegang kepalanya. Katanya, sakit sekali.

Tangis mereka pecah ketika saya pamit pulang sambil mengulurkan sesuatu ke tangan Suwarini. Perempuan yang dinikahi Jasmin setahun lalu sampai meneteskan air mata. Bicaranya terbata-bata. Tahan mengusap air matannya sendiri dengan pucuk kain tua yang dikenakannya. Jariyo yang berusaha berdiri saya cegah. ‘’Maaf saya tidak bisa membantu mengeluarkan Pak Jasmin dari tahanan. Saya bukan siapa-siapa,’’ kata saya. Tangis Suwarini malah semakin menjadi.

Saya sendiri hendak meneteskan air mata. Tetapi bisa saya tahan. Saya tidak tega mendengar cerita Suwarini yang sesekali ditimpali ibunya.

Mereka adalah potret keluarga miskin. Karena kemiskinannya itulah Jasmin mencuri. Sekarang tulang punggung keluarga ditahan. Mereka semakin miskin.

Saya teringat betul pelajaran di madrasah ibtidaiyah dulu. Kada alfakru an-yakuna kufron. Kefakiran itu bisa menjadikan seseorang menjadi kufur. Mereka bisa terjerumus pada perbuatan yang tidak baik. Mereka sudah miskin.

Salah siapa? Saya tidak tahu. Pemerintah telah berbuat baik. Masyarakat juga. Keluarga Jasmin juga sama. Polisi dan penegak hukum lainnya juga tidak bisa disalahkan. Mereka menangkap dan menahan Jasmin karena pelanggaran hukum. Yang diperlukan adalah saling mengerti dan saling membantu. Polisi dan penegak hukum lainnya juga begitu. Agar persoalan tidak semakin dalam. (hq@jawapois.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia