Minggu, 20 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Features
Padepokan Silat Satria Muda Indonesia

Rela Tidur di Gudang, Alat-Alat Terlindas Truk saat Perjalanan

23 Maret 2019, 09: 22: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

SPARING: Murid Padepokan Satria Muda Indonesia berlatih kemarin.

SPARING: Murid Padepokan Satria Muda Indonesia berlatih kemarin. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Padepokan Silat Satria Muda Indonesia berhasil memboyong 14 gelar tingkat nasional bertajuk Jogjakarta Championship V 2019. Perjalanan dari Jepara ke Kota Pelajar itu, banyak cerita. Mulai harus tidur di gudang hingga saat perjalanan bagasi mobil rombongan terbuka yang berakibat alat-alat pencak silat terjatuh dan terlindas truk.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

MENCARI padepokan Silat Satria Muda unit Batealit ini lumayan sulit. Meskipun Fery Noer Ahmad, salah satu pelatih sudah mengirimkan lokasi melalui WhatsApp. Baru ketemu setelah salah satu murid padepokan menjemput Jawa Pos Radar Kudus. Ternyata, letaknya masih masuk ke salah satu gang di Desa Bawu,Batealit, Jepara.

Fery sepertinya sedang sibuk mengajari murid-muridnya cara menendang yang baik. Sambil membawa beberapa lembar catatan ia mondar-mandir mengawasi anak didiknya. ”Ayo lanjutkan lagi tendangannya,” teriaknya. Suaranya terdengar tegas.

Perguruan pencak silat ini, usai memborong 10 emas, dua perak, dan dua perunggu saat kejuaraan silat tingkat nasional di Jogjakarta Championship V baru-baru ini.

Meski terkesan tegas, namun Fery ternyata jauh dari kata galak. Usai melatih anak-anak yang berusia sekitar 7 sampai 15 tahun tadi, dia tampak akrab dan hangat berbincang.

”Eh, kok bajunya nggak dipakai. Ayo dipakai. Terus salim dulu sama om wartawan,” kata Fery menegur salah muridnya yang berusia sekitar 5 tahun yang tak pakai baju. Kali ini nada bicaranya berbeda saat latihan tadi. Terdengar ramah dan penuh perhatian.

”Itu anak Pak Dwi, pemilik rumah dan pendiri padepokan ini. Wah, bandelnya minta ampun. Kalau yang pakai jilbab itu kemarin yang dapat emas (di Jogjakarta Championship V). Terus yang cowok itu namanya Niamil, juga dapat emas kemarin,” katanya menunjukkan anak didiknya yang sedang latihan di samping rumah.

Di tengah perbincangan, datang satu bapak berkumis. Namanya Dwi Adi Saputra. Ya, dialah pendiri padepokan yang diceritakan Fery tadi. Dwi bercerita, padepokan ini didirikan pada 2017 lalu. Perekrutan murid disosialisasikan oleh istrinya yang berprofesi sebagai guru.

”Tujuannya ya ingin anak-anak punya kegiatan positif. Agar bisa berprestasi juga,” ujarnya.

Tujuan untuk mengantarkan anak berprestasi memang selalu ia giatkan. Sehingga even kejuaraan silat mulai diikuti. Seperti even nasional Jogjakarta Championship V yang digelar beberapa waktu lalu. Pada even itu, Dwi mengirimkan 14 atlet pilihan. Mulai dari tingkat SD hingga SMA.

”Wah...,” seru Dwi sembari menepuk paha wartawan koran ini. Ia pun mulai terpingkal. Begitupun Fery. Mereka sepertinya menyimpan cerita lucu ataupun konyol.

”Kami waktu itu tidur di gudang dua hari. Kemudian waktu perjalanan ndelalah (tiba-tiba) bagasi mobil terbuka. Semua barang peralatan tanding jatuh, kemudian terlindas truk. Itu di jalan searah pula. Wah terpaksa turun, kemudian lari satu kilometer mengambil,” kenangnya. Ternyata mereka terpingkal dengan kisah perjuangan untuk mengikuti kejuaraan di Jogjakarta tersebut. Dwi dan Fery pun makin terpingkal.

Namun, perjuangan itu terbayar dengan atlet-atletnya berhasil menggondol 10 medali emas, dua perak, dan dua perunggu. Artinya, ke-14 atlet yang dikirim itu, berhasil meraih prestasi semua. Dwi pun tampaknya bangga sembari memandangi anak didiknya yang sedang berkemas hendak pulang latihan kemarin.

Anak-anak penuh peluh keringat itu, kemudian berjalan tertib menuju tempat Dwi dan Fery duduk berbincang. Dwi dan Fery langsung berdiri menyambut para anak didiknya tersebut. Mereka saling bersalaman. Anak-anak itu mencium tangan pelatih mereka. ”Hati-hati ya,” ucap Dwi dan Fery. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia