Minggu, 20 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Belajar Matematika BRSL melalui Sampah

22 Maret 2019, 10: 30: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

Eti Sunarsih,S.Pd.; Guru Matematika SMP 1 Dawe Kudus

Eti Sunarsih,S.Pd.; Guru Matematika SMP 1 Dawe Kudus (dok pribadi)

Share this      

INDONESIA memiliki keindahan alam yang rupawan. Pegunungan, pantai, laut, danau, hingga keindahan bawah lautnya. Indonesia berpenduduk 237 juta, peringkat keempat penduduk terbanyak di dunia. Diperkirakan jumlah penduduk ini bertambah 270 juta pada tahun 2025.

          Jumlah penduduk sebanyak itu, diperkirakan akan menghasilkan sampah sebanyak 130.000 ton/hari. Hal itu dibuktikan di taman nasional dan gunung di Indonesia. Di sana banyak ditemukan sampah yang menumpuk. Tidak hanya di gunung, sampah juga banyak ditemukan di lautan. Bahkan sampah makanan menjadi penyumbang sampah terbanyak. Tak heran, penyebab banjir nomor wahid di berbagai daerah diakibatkan oleh sampah. Ini prestasi yang menyedihkan. Sebagai seorang pendidik dan pengajar, apakah kita diam saja?

          Tahun 2006 Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan program Adiwiyata pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.

          Sebagai guru matematika mempunyai kewajiban ikut serta menyukseskan program Adiwiyata. Salah satunya dengan memanfaatkan sampah dalam belajar pembelajaran Bangun Ruang Sisi Lengkung (BRSL). Sampah yang dimanfaatkan adalah sampah anorganik atau tidak terurai (undegradable) berbentuk sampah padat. Ada stopmap kertas bekas, kaleng susu bekas, kardus bekas, limbah kulit jeruk, dan bola bekas.

          Selain mengurangi kuantitasnya, ternyata sampah juga dapat meningkatkan minat dan hasil belajar BRSL. Hal itu berdasarkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh penulis selama enam bulan dengan dua kali siklus.

          Siklus pertama pertemuan pertama, siswa memanfaatkan kaleng susu dan stopmap kertas bekas untuk menemukan rumus luas tabung. Selain itu, kardus bekas yang dibentuk menjadi kerucut dan stopmap kertas bekas untuk menemukan rumus luas kerucut. Siklus pertama pertemuan kedua, siswa memanfaatkan limbah kulit jeruk dan stopmap kertas bekas untuk menemukan rumus luas bola.

          Sedangkan siklus kedua pertemuan pertama, siswa memanfaatkan kaleng susu, kerucut dari kardus bekas yang diameter dengan tinggi kaleng susu serta kerucut tersebut sama, dan stopmap kertas bekas untuk menemukan rumus volum tabung dan kerucut. Untuk mengisi kaleng susu dan kerucut dapat menggunakan beras, kacang hijau, pasir, dan sebagainya.

          Siklus kedua pertemuan kedua, siswa memanfaatkan belahan bola bekas, kerucut dari kardus bekas yang tingginya sama dengan jari-jari bola, dan stopmap kertas bekas untuk menemukan rumus volum bola. Untuk mengisi belahan bola bekas dan kerucut dapat menggunakan beras, kacang hijau, pasir, dan sebagainya.

          Hasil penelitian menunjukkan melalui pemanfaatan sampah dapat meningkatkan minat belajar matematika BRSL dari rendah menjadi tinggi, dari 5 siswa (9%) menjadi 22 siswa (85%) yang berminat belajar. Hasil belajar matematika BRSL meningkat dari rata-rata 69 menjadi 95, dari 11 siswa (42%) menjadi 25 siswa (96%) tuntas belajar.

          Sebagai seorang pendidik dan pengajar, mari kita ikut mengurangi sampah di sekolah dengan memanfaatkannya untuk pembelajaran. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia