Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Mengenalkan Sejarah pada Generasi Millennial

21 Maret 2019, 12: 41: 52 WIB | editor : Ali Mustofa

Misni, S.Pd.; Guru Sejarah SMK N 1 Purwodadi, Kabupaten Grobogan

Misni, S.Pd.; Guru Sejarah SMK N 1 Purwodadi, Kabupaten Grobogan (dok pribadi)

SEBAGIAN masyarakat menganggap belajar sejarah identik dengan belajar manusia purba, belajar masa lalu, zaman jadul, dan masa silam. Mata pelajaran Sejarah tidak perlu, maka tidak penting untuk dipelajari.

Benarkah pendapat mereka dengan kenyataan di dunia pendidikan? Sejarah mempelajari atau mengenalkan masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Masa lampau sejarah dijadikan titik tolak untuk masa yang akan datang. Karena mengandung pelajaran tentang nilai dan moral. Pada masa kini, sejarah dipahami oleh generasi penerus dari masyarakat terdahulu sebagai suatu cermin untuk menuju kemajuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Generasi milennial merupakan kelompok demografi setelah generasi X. Tidak ada batasan waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini. Pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran (wikipedia, 2109).

Individu yang terlahir di masa milennium ini akan membawa kehidupan yang unik  dan terbarukan. Banyak sistem kehidupan yang bertransformasi. Kehidupan sosial merupakan aspek yang penting. Kemajuan teknologi dan perilaku konsumtif lekat sebagai salah satu karakter era milennium. Karakteristik dasar generasi millennial yang lain gampang bosan pada barang yang dibeli, segbel alias segera beli kalau ada produk baru yang keluar. Akses internet tak terbatas. Bisa berselancar dengan bebas melalui gadgetnya. No gadget no life, gadget merupakan jiwanya, hidupnya, seolah kaum millennials tidak bisa hidup tanpa gadget. Berselancar mengakses internet, mendapatkan informasi dari seluruh dunia.

Kurikulum 2013 dirancang dan disiapkan untuk mencetak generasi emas. Generasi millennial 25 tahun yang akan datang dengan menanamkan empat kompetensi  atau C4. Setiap mata pelajaran termasuk Sejarah menanamkan  kemampuan Communication, Chritical Thinking, Colaboration, Creatifity dan Innovation.

Sejarah perlu dikenalkan kepada kaum millennial dengan melalui penanaman empat kompetensi dalam menghadapi tantangan era millenium.

Pertama, komunikasi, peserta didik sebagai kaum millennial dalam mengenal sejarah Indonesia didorong untuk bisa menceritakan peristiwa sejarah. Bisa mengambi hikmah dari peristiwa sejarah. Mengambil pelajaran yang penting untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Dengan menguasai perkembangan teknologi, lebih melek teknologi maka bisa mengkomunikasikan pendapatnya di media sosial dengan menghargai perjuangan para pahlawan dan pemimpin bangsa. Bahkan semua rakyat yang telah mengukir peristiwa sejarah di Indonesia di masa lampau sekarang maupun yang akan datang.

Kedua, berpikir kritis. Berani mengungkapkan sesuatu. Tidak tertutup pikirannya. Bertindak dengan lebih bijaksana dan penuh hikmat dalam menentukan masa depan bangsa. Sebagai agents of change (faktor penetu perubahan bangsa) dapat  bersaing dengan sehat dan positif .  

Ketiga, bekerja sama. Kerja sama dalam hal networking (jaringan). Salah satu ciri kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh kerjasamanya, networking penting bagi kaum millennial. Kaum millennial sebagai generasi emas adalah generasi muda penerus bangsa yang memiliki kesiapan dan kematangan dalam hal memimpin, bermoral. Memiliki kemampuan yang baik. Bersikap jujur. Dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap dirinya dan bangsa.

Keempat, kreativitas dan innovatif, memiliki gagasan, ide, mampu menciptakan sesuatu yang baru demi kemajuan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Sejarah sangat berperan penting dalam membentuk generasi millenial generasi emas. Generasi yang berkualitas. Menanamkan attitude atau pembelajaran pembentukan karakter yang baik sehingga generasi muda tidak hanya unggul secara akademik maupun non akademik tetapi juga memiliki ketulusan hati untuk membangun bangsa yang lebih baik. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia