Minggu, 20 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Tiga Bulan, Wabah DBD di Grobogan Capai 342 Kasus

21 Maret 2019, 12: 06: 32 WIB | editor : Ali Mustofa

Tiga Bulan, Wabah DBD di Grobogan Capai 342 Kasus

PURWODADI – Tren kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Kabupaten Grobogan sempat tinggi pada Januari lalu. Setelah petugas gencar turun ke lapangan, selama dua bulan ini perlahan kasus mulai turun.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan Slamet Widodo mengatakan, tingginya kasus biasanya saat memasuki musim hujan yakni selama Januari hingga Maret. Bahkan, disebut fase waspada.

”Kini kasus mulai turun. Sempat tinggi pada Januari dengan 229 kasus dan satu meninggal dunia. Kemudian Februari mulai turun menjadi 83 kasus, serta Maret per hari ini (Red, kemarin) ada 30 kasus,” ungkapnya.

Menurutnya, jumlah kasus sempat tinggi pada awal tahun disebabkan adanya peralihan musim kemarau ke penghujan. Saat intensitas hujan tinggi dan banyak genangan maka telur nyamuk akan menetas.

Adanya itu, dia bekerjasama dengan petugas yang ada di puskesmas untuk menggencarkan kebersihan dan menghindari adanya genangan air ke setiap sudut rumah. Petugas menggencarkan Gerakan Satu Rumah Satu Jemantik (GSRSJ) di setiap desa. Petugas memantau jentik di setiap rumah.

”Tren kasus ini menurun karena mulai ada kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Ini sangat berpengaruh terhadap kasus DBD,” jelasnya.

Selain itu, petugas Dinkes Grobogan bekerjasama dengan RS memetakan lokasi yang harus dilakukan fogging. ”Kami masih rutin melakukan fogging, tapi di lokasi yang ada kasus DBD saja. Karena di lokasi tersebut ada nyamuk dewasa yang terinfeksi dan harus dimusnahkan. Biasanya pelaksanaan fogging dilakukan dalam radius 200 meter dari kejadian,” ungkapnya.

Bahkan, pelaksanaan fogging harus memenuhi prosedur ketat. Petugas akan meminta data ke RS, kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di lokasi.  Untuk itu, pihaknya berharap kesadaran masyarakat agar tak mengandalkan fogging dalam menuntaskan kasus DBD. Namun harus menuntaskan dari sumber jentiknya, melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan GSRSJ.

”Yang harus dibasmi adalah telur dan jentiknya. Karena telur bisa bertahan hingga satu tahun. Setelah musim penghujan dan adanya banyak genangan maka telur tersebut baru akan menetas. Inilah yang harus dibasmi,” tegasnya.

(ks/int/him/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia