Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Dengan PBL Semuanya Jadi Mudah  

21 Maret 2019, 11: 51: 18 WIB | editor : Ali Mustofa

Dra. Dian Pujàni, Guru Fisika SMK 1 Purwodadi

Dra. Dian Pujàni, Guru Fisika SMK 1 Purwodadi (dok pribadi)

ENAM tahun sudah SMKN 1 Purwodadi melaksanakan kurikulum 2013 pada tahun pembelajaran 2018/2019. Ini terhitung sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 2013/2014. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum 2006, untuk merespon berbagai tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan (Kemdikbud, 2013: III).

Sejak 2010 ketika penulis ada di SMKN 1 Purwodadi, di setiap awal tahun pelajaran penulis selalu menyempatkan diri mengomunikasikan ke siswa, kiranya mapel apa yang tidak disukai. Sebagian besar siswa mengatakan bahwa fisika mapel yang tidak disukai. Fisika terlalu sulit, fisika banyak hitungannya, fisika susah, fisika harus menghubungkan rumus dengan hitungan, fisika membosankan, gurunya galak, fisika merupakan momok dalam pembelajaran. Semua pikiran negatif berkembang tidak terkendali. Kenapa semuanya tidak suka? Bagaimana cara membangun kembali antusiasme siswa, minat, dan semangat belajarnya ?

Kemauan, minat, kreativitas, antusiasme siswa perlu dibangun ulang. Sungguh merupakan pekerjaan berat yang ada didepan mata. Mereka harus ditemukan dengan berbagai masalah yang ada disekitar mereka untuk mengenalkan fisika lebih dalam. Solusi yang terpilih adalah Problem Based Learning (PBL). Pembelajaran berbasis masalah, bagaimana penulis mampu mengaplikasikan berbagai pembelajaran fisika melalui masalah-masalah yang ada disekitar siswa.

Diskusi kelompok dalam hal ini adalah sepaket dengan Problem Based Learning untuk mengurai masalah pembelajaran ini. Dalam diskusi kelompok siswa bisa bersosialisasi, belajar menerima pendapat, belajar memimpin, belajar dipimpin, dan belajar berfikir kritis dalam rangka menganalisa permasalahan yang ada dan menyelesaikannya. Masalah dalam kelompok yang bagaimana yang mampu mengangkat hasil belajar, keaktifan dan kreativitas siswa tentunya adalah yang tidak jauh dari kehidupan siswa sendiri, yang bisa menjelaskan konsep-konsep fisika.

Menurut Arends dalam Abas (2000:13) dalam Hosnan M (2014:295) Problem Based Learning adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran peserta didik pada masalah autentik, sehingga peserta didik dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiry, memandirikan peserta didik dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri. PBL dalam hal ini menyajikan masalah kontekstual yang merangsang peserta didik untuk belajar.

Langkah-langkah Problem Based Learning, Hosnan, M (2014:301)  Lima langkah PBL   satu orientasi peserta didik pada masalah, dua mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, tiga membimbing penyelidikan peserta didik individual dan kelompok, empat mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Penjelasan aktivitas pembelajaran berbasis masalah diatas adalah, pada awalnya guru menjelaskan tujuan pembelajaran, dan materi yang dibahas pada hari itu dan menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih. Peserta didik mendengarkan tujuan belajar yang disampaikan guru dan mempersiapkan logistik yang diperlukan. Guru mencari masalah sebagai awal tantangan dan motivasi harus menarik untuk dipecahkan. Masalah yang muncul harus menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang sedang dipelajari.

Peserta didik aktif dan terlibat langsung dalam pembelajaran, membangun pembelajaran, mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang diberikan guru pada saat pembelajaran, membicarakan dengan kelompoknya, menjawab semua pertanyaan yang ada dan berkaitan dengan tema atau materi yang diangkat saat itu. Guru memonitor pembelajaran biasanya pada saat diskusi kelompok sedang berjalan, dan membantu kesulitan belajar peserta didik.

Peserta didik mengumpulkan informasi berdasarkan masalah pembelajaran yang dihadapi misalnya menggolong-golongkan alat dan bahan apa saja yang ada dihadapan mereka yang telah dibagikan oleh guru sesuai topik pembelajaran, melaksanakan eksperimen  dan berusaha menemukan jawaban atas masalah yang di angkat. Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk memperoleh jawaban atas masalah, dengan cara pembimbingan kelompok dan pembimbingan individu. Guru melakukan probing (menantang peserta didik untuk terlibat dalam seluruh pembelajaran).

Peserta didik dalam kelompoknya berusaha memecahkan masalah bersama, mengatur menuliskan, merencanakan dan menyiapkan karya untuk pelaporan berupa, laporan, tabel, foto, PP, yang memungkinkan mereka bisa menyampaikan hasil karya kelompoknya secara detail dalam forum presentasi kelas. Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya, mengatur dinamika kelompok, membuat kesepakatan bersama peserta didik berdasarkan waktu yang ada, untuk menyelesaikan presentasi..

Peserta didik melakukan refleksi kegiatan penyelidikannya dan proses yang dilakukan. Setelah semua kegiatan berlangsung, maka guru mengajak peserta didik untuk melihat kembali semua kegiatan yang telah mereka kerjakan dalam pembelajaran, kekurangannya dimana, bagaimana kalau pada saat pembelajaran banyak diantara mereka yang tidak terlibat, dan bagaimana kalau semua peserta didik terlibat dalam pembelajaran, keasyikan apa yang didapat bila semua terlibat aktif dalam pembelajaran, dan kekurangannya apabila tidak seluruhnya terlibat dalam eksperimen ataupun kegiatan kelompok yang mereka lakukan bersama, kemudian mereka simpulkan untuk mencari solusi dan tindak lanjut bagi pembelajaran yang lebih baik. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/meminta kelompok presentasi hasil karya. Dan merefleksi pembelajaran bersama peserta didik.

Penggunaan PBL merupakan salah satu dari berbagai model belajar yang ada dan telah dicobakan oleh guru pada saat mengajar dalam kelas. Dengan PBL dan kerja kelompok terjadi saling memberi dan menerima antar anggota, saling memberi masukan pada kesalahan, akibatnya tercapai hasil belajar yang memuaskan hati mereka, karena mereka paham dengan materi akibat masalah yang dihadapi seperti masalah mereka sehari-hari. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia