Selasa, 17 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Jepara

Penyebab Matinya Puluhan Hiu di Penangkaran Karimunjawa Masih Misteri

Hasil Lab Baru Keluar dalam 21 Hari

21 Maret 2019, 10: 49: 20 WIB | editor : Ali Mustofa

TRAGIS: Bangkai hiu-hiu di dua kolam penangkaran Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa, Jepara, mati mendadak. Bangkai ini kemudian dibakar agar tak menyebarkan penyakit.

TRAGIS: Bangkai hiu-hiu di dua kolam penangkaran Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa, Jepara, mati mendadak. Bangkai ini kemudian dibakar agar tak menyebarkan penyakit. (TJOEN MING FOR RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA – Misteri kematian puluhan hiu di kolam penangkaran hiu Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa, masih belum terungkap. Saat ini, pemilik penangkaran Tjoen Ming hanya bisa menunggu hasil laboratorium keluar untuk memastikan penyebab kematian hiu-hiunya itu.

Tjoen Ming mengaku, estimasi hasil lab keluar sekitar 21 hari. ”Sampel daging hiu dan air baru saya kirim ke laboratorium kurang dari sepekan. Jadi masih harus menunggu (hasilnya),” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Dia menjelaskan, pihaknya mengirim sampel berupa empat potong daging hiu, dua botol air dalam kolam, serta dua botol air luar kolam. Sementara itu, hiu dan ikan lainnya yang mati sudah dimusnahkan dengan cara dibakar.

Dia menuturkan, pihak laboratorium di Jogjakarta yang ditujunya sendiri belum memberikan informasi lebih lanjut tentang kematian hiu-hiu itu. Apakah disebabkan penyakit atau diracun. ”Namun indikasinya memang bukan karena penyakit, karena tidak mungkin serentak mati semua,” terangnya.

Mengenai aktivitas wisata di kolam penangkaran hiu sendiri, Tjoen Ming mengatakan, sejak awal tahun hingga saat ini terbilang sepi. Hal ini tak lain karena cuaca yang tidak menentu. ”Di sini tidak hanya ada kolam penangkaran hiu, tetapi ada pula penginapan. Namun dari awal tahun hingga sekarang sepi, karena cuaca buruk dan belum stabil,” katanya.

Tjoen Ming berharap, pemerintah bisa lebih perhatian. Sebab, selama ini upayanya mengembangkan penangkaran ikan hiu juga memberi kontribusi pada pariwisata Karimunjawa.

Sementara itu, disinggung mengenai awal mula dirinya membuka penangkaran hiu itu, dia menceritakan, bermula saat dirinya masuk ke Karimunjawa pada 1962 silam. Awalnya, dia tidak memiliki niatan khusus untuk menangkarkan hiu. Saat itu, dia diminta untuk mengangkat kapal yang terdampar di terumbu karang Karimunjawa. ”Dulu masih sepi,” katanya.

Sekitar lima tahun kemudian, dia mencoba mengembangkan hiu di Karimunjawa. Yakni hiu karang hitam (carcharinus melanopterus) dan hiu karang putih (triaenodong obesusi). Awalnya dia hanya memiliki tiga ekor hiu. Kemudian berkembang dan saat ini jumlahnya sudah mencapai ratusan.

Saat ini dia telah memiliki karyawan yang bertugas mengelola penangkaran hiu miliknya. Namun, dia masih rutin datang ke Karimunjawa setiap dua pekan sekali.

Upaya yang dilakukannya tak bisa dibilang mudah. Dulunya setiap dua pekan sekali warga Kota Semarang ini, berlayar dengan perahu tradisional dari Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, hingga ke Karimunjawa. ”Dulu susah (transportasi), tidak seperti sekarang ini. Untuk ke Karimunjawa butuh waktu berminggu-minggu dengan menggunakan perahu layar,” urainya.

Kini, penangkaran hiu miliknya itu, menjadi daya tarik tersendiri di Karimunjawa. Selain sebagai lokasi wisata, penangkaran hiu miliknya juga banyak didatangi untuk keperluan penelitian. Banyak juga peneliti asing yang datang ke sana.

Dia juga sering mendapatkan penghargaan, karena kepeduliannya dalam melestarikan hiu. Salah satunya, dia mendapat penghargaan dari Politeknik Maritim Negeri Indonesia atas pengabdiannya di bidang konservasi satwa laut.

Terpisah, Kepala Balai Taman Nasional Karimunjawa Agus Prabowo, menyatakan, kolam milik Tjoen Ming untuk penangkaran hiu tersebut, pada mulanya keramba untuk budidaya ikan seperti jenis kerapu, badong, dan lainnya. Pemilik juga memelihara beberapa ekor hiu. Seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Karimunjawa, keramba tersebut menjadi destinasi dan atraksi wisata. 

(ks/emy/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia