Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Pusat Belajar Guru (PBG) dari, untuk, dan oleh Guru

21 Maret 2019, 08: 57: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Hartadi, S.Pd, M.Pd.; Guru IPS SMP 5 Kudus dan Pengelola Pusat Belajar Guru (PBG) Kabupaten Kudus

Hartadi, S.Pd, M.Pd.; Guru IPS SMP 5 Kudus dan Pengelola Pusat Belajar Guru (PBG) Kabupaten Kudus (dok pribadi)

DI Kabupaten Kudus akses bagi para guru untuk dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap terkait dengan profesinya sebagai pendidik masih terbatas. Hal ini disebabkan terbatasnya lembaga pendidikan dan latihan (diklat) di Kabupaten Kudus. Termasuk di kabupaten sekitar yang memberi kesempatan bagi guru untuk melakukan pengembangan diri yang sesuai dengan profesinya dengan biaya terjangkau.

Keterbatasan akses ini, mengakibatkan tidak dapat terpenuhinya hak guru untuk mendapatkan akses dalam rangka pengembangan profesionalitasnya. Sebagaimana diatur dalam UU. No 20 Tahun 2003 dan Undang-Undang No 14, Tahun 2005.

Pusat Belajar Guru (PBG) atau Teacher Learning Center (TLC) merupakan organisasi nonpemerintah, tetapi pengelolaan tetap di bawah pengawasan kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus. PBG menyediakan akses bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensinya dan menjadi bagian dari sistem pembinaaan profesionalisme guru di Kabupaten Kudus.

PBG merupakan rumah bagi IGTK, KKG, dan MGMP yang dilengkapi oleh fasilitas belajar untuk guru-guru inti yang dikelola secara profesional oleh tim Pengelola PBG.

Djarum Foundation menginisiasi ”Program Pengembangan Pusat Belajar Guru (PBG) atau Teacher Learning Center (TLC) di Kabupaten Kudus” bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kudus dan Disdikpora Kudus serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Juga melibatkan Putera Sampoerna Foundation (PSF) selaku perancang dan pelaksana program.

Program ditujukan untuk mendukung pengembangan kualitas guru melalui pembangunan sistem pembelajaran guru secara berkesinambungan serta penyediaan akses fasilitas penunjang pendidikan. Pengembangan program yang diinisiasi sejak 2016 ini, meliputi tiga pilar PBG. Masing-masing, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan sistem dan tata kelola manajemen PBG, dan pengembangan infrastruktur fasilitas PBG di atas lahan seluas 2.800 m². Dengan konsep ”dari, untuk, dan oleh guru” program PBG dirancang untuk dapat berlangsung secara berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat optimal kepada komunitas guru di wilayah Kabupaten Kudus.

Program pengembangan PBG/TLC di Kabupaten Kudus bertujuan untuk menyediakan akses bagi guru untuk mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas profesional secara terjangkau, melalui pendirian PBG/TLC di Kabupaten Kudus. Jumlah guru SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Kudus ada 62.230 orang. Bila satu orang guru mendapatkan kesempatan pelatihan satu kali per tahun, jika satu kali lokakarya dapat menampung 30 orang, maka dalam satu tahun dibutuhkan 2.074 kali lokakarya. Dengan kata lain, setiap minggu perlu melakukan lebih dari 40 kali pelatihan yang dilakukan di PBG/TLC. 

PBG/TLC menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan akses pengembangan profesionalisme guru. Salah satu tujuan berdirinya PBG adalah menyediakan akses bagi guru untuk dapat mengembangkan kompetensi dan keterampilannya melalui pelatihan. Program pelatihan didesain sesuai kebutuhan guru melalui survei kebutuhan.

PBG setiap tahun mengadakan survei kebutuhan guru tentang pelatihan yang diperlukan. Dari hasil survei diambil antara lima sampai 10 program pelatihan yang diminati. Dari hasil tersebut, guru bisa memilih pelatihan yang diperlukan dalam pembelajaran.

PBG/TLC bermanfaat bagi berbagai pihak. Bagi Dinas Pendidikan, bermanfaat untuk memudahkan dinas dalam kontrol kualitas pendidikan dan latihan guru dan penghematan biaya diklat karena ketika pelatihan dilaksanakan guru tak perlu ke tempat lain.

Bagi sekolah, bermanfaat untuk diklat guru memungkinkan dilaksanakan sesudah jam mengajar atau pada hari KKG/MGMP dan tak ada kelas kosong ditinggal guru mengikuti diklat ke luar kota.

Manfaat bagi guru, jumlah guru di wilayah Kudus memiliki akses pengembangan diri, sehingga kompetensinya meningkat, karena terjangkau ditinjau dari sisi jarak dan biaya. Selain itu, program dapat didesain sesuai kebutuhan guru.

Sedangkan manfaat bagi siswa, diajar guru yang memiliki pengetahuan memadai, terampil, dan bersikap terpuji. Selain itu, hasil belajar murid menjadi meningkat. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia