Selasa, 17 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Bekal Diri dengan Pengetahuan Pelecehan Seksual

21 Maret 2019, 08: 39: 31 WIB | editor : Ali Mustofa

Siti Romlah, S.Pd., M.Or.; Guru Penjaskes SMKN 1 Kudus

Siti Romlah, S.Pd., M.Or.; Guru Penjaskes SMKN 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

DALAM catatan akhir tahun Komnas Perempuan pada 2018 menyatakan, setiap dua jam terdapat empat perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Komnas Perempuan mencatat di tahun itu naik peringkat kedua. Jumlah kasus pemerkosaan mencapai 2.399 kasus atau 71 persen. Pencabulan mencapai 601 kasus atau 18 persen. Sementara kasus pelecehan seksual mencapai angka 166 kasus atau 5 persen. Korban yang menjadi sasaran paling utama bagi si pelaku ialah perempuan dan anak-anak. Hal inilah yang menjadi dasar ketakutan dan kewaspadaan para orang tua.

Pelecehan seksual memiliki berbagai jenis. Secara luas terdapat lima bentuk pelecehan seksual. Pelecehan fisik, termasuk sentuhan yang tidak diinginkan mengarah ke perbuatan seksual. Seperti mencium, menepuk, mencubit, melirik, atau menatap penuh nafsu.

Pelecehan lisan, termasuk ucapan verbal atau komentar yang tidak diinginkan tentang kehidupan pribadi atau bagian tubuh atau penampilan seseorang, lelucon, dan komentar bernada seksual.

Pelecehan isyarat, termasuk bahasa tubuh dan atau gerakan tubuh bernada seksual, kerlingan yang dilakukan berulang-ulang, isyarat dengan jari, dan menjilat bibir.

Pelecehan tertulis atau gambar, termasuk menampilkan bahan pornografi, gambar, screensaver atau poster seksual, atau pelecehan lewat email, dan moda komunikasi elektronik lainnya.

Pelecehan psikologis/emosional terdiri atas permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan yang terus-menerus dan tidak diinginkan. Termasuk ajakan kencan yang tidak diharapkan, penghinaan atau celaan yang bersifat seksual.

Dalam KUHP disebut sebagai pencabulan. Namun, frasa pencabulan mengandung makna termasuk persetubuhan di dalamnya. Sementara dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam norma hak untuk bebas dari pelecehan seksual, namun tanpa rumusan unsur tindak pidana dan ancaman pidana.

Unsur penting dari pelecehan seksual adanya ketidakinginan atau penolakan pada apapun bentuk-bentuk perhatian yang bersifat seksual. Apabila perbuatan tidak dikehendaki oleh si penerima perbuatan tersebut, maka perbuatan itu bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual sebagaimana diatur dalam pasal percabulan.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) secara umum (lex generalis) juga dapat dijadikan landasan dengan ancaman hukuman seperti yang diatur dalam Pasal Pencabulan 289-299. Mengenai perbuatan cabul di tempat kerja. Terutama bila dilakukan atasan dapat kita temui ketentuannya dalam Pasal 294 Ayat 2 Angka 1 KUHP yaitu diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya.

Selalu proteksi diri Anda menggunakan pakaian longgar yang tidak membentuk tubuh. Selain itu, mintalah seseorang untuk menemani jika Anda merasa ragu untuk mengunjungi suatu tempat sendiri. Bekali pikiran Anda untuk peka terhadap suatu hal yang mencurigakan dan bebaskan pikiran Anda untuk mencerna kepribadian orang yang baru Anda temui.

Bila telah merasakan sebuah bahaya, jangan takut untuk berteriak meminta bantuan. Terakhir, tidak ada salahnya bila Anda bekali diri dengan ilmu bela diri.

Itulah beberapa pengetahuan dalam menghindari pelecehan seksual. Jangan lupa untuk terus meminta perlindungan kepada Tuhan di mana pun Anda berada. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia