Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Honor Perawat Jenazah di Rembang Cair Setiap Tiga Bulan Sekali

20 Maret 2019, 15: 25: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

SOSIALISASI: Perawat jenazah di Kabupaten Rembang saat ikuti sosialisasi pemberian honor tiap tiga bulan sekali di lantai IV Setda Rembang, kemarin.

SOSIALISASI: Perawat jenazah di Kabupaten Rembang saat ikuti sosialisasi pemberian honor tiap tiga bulan sekali di lantai IV Setda Rembang, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Perawat jenazah di kabupaten Rembang kini bisa sedikit lega. Jika biasanya honor yang diterima hanya enam bulan sekali. Kini dimajukan tiga bulan sekali. Selain itu ke depan mereka direncanakan akan dilengkapi dengan seragam.

Total di kabupaten Rembang perawat  jenazah 917 orang. Di tahap pencairan pertama ini mereka akan menerima tiga bulan sekali. Setiap bulannya Rp 200 ribu. Jadi total keseluruhan yang diterima Rp 600 ribu/ orang.

Selain kebijakan baru ini mereka turut dibekali ilmu. Di tahap pertama didatangkan narasumber Dwi Nugroho dari RSUD Dr R Soetrasno Rembang. Untuk menularkan ilmunya tentang perawatan jenazah yang memiliki penyakit menular.

”Pencairan di tahap awal mulai 2019 tiga bulan sekali. Besarnya sama Rp 200 ribu/orang dalam setiap bulan,” terang Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Abdullah Zawawi melalui Kasubag Pendidikan Mental Spiritual, Etty Apriliana kepada Jawa Pos Radar Kudus, kemarin.

Selain mereka dibekali ilmu, sekaligus untuk melengkapi SPj. Kebetulan tahap I yang diundang dari kecamatan Kaliori, Pamotan, Sale dan Sarang. “Jadi ketika bulan April sudah cair dari sisi kelengkapan administrasi sudah clear. Praktis tugas Bagian Kesra menjadi lebih ringan,” katanya.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menuturkan, saat ini perlakuan jenazah berbeda. Misalnya, yang memiliki penyakit A. Tidak semua orang dapat memahami. Makanya perkembangan zaman harus diketahui. Untuk itu, setiap saat ada sosialisasi dan pemahaman-pemahaman pada perawat jenazah.

Tak hanya itu, perawatan juga harus tahu berdasarkan agama masing-masing perawat. Misalnya menemukan mayat dengan kondisi membusuk atau tidak lengkap organnya. Semua harus diketahui caranya memandikannya. Jadi harus dipadukan antara syariat dan tata cara.

“Kami terus meningkatkan kapasitas perawat. Kami juga akan memberikan seragam pada perawat supaya saat merawat jenazah lebih praktis. Kini desainnya telah dirancang, baik laki-laki dan perempuan,” imbuhnya.

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia