Jumat, 20 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Belajar Ekonomi dengan Karakter Entrepreneur

20 Maret 2019, 11: 38: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

Siti Khoiriyah, S.Pd.; Guru Mata Pelajaran Ekonomi, MA Darut Taqwa Purwodadi, Grobogan

Siti Khoiriyah, S.Pd.; Guru Mata Pelajaran Ekonomi, MA Darut Taqwa Purwodadi, Grobogan (dok pribadi)

Share this      

BAGI sebagian siswa, mata pelajaran ekonomi masih dianggap sebagai pelajaran yang susah dan rumit dibandingkan mata pelajaran lain di jurusan IPS. Apalagi harus menghitung angka dalam jumlah miliaran dalam materi pelajaran akuntansi. Bagi siswa yang kurang gigih, akan lebih banyak mengeluh daripada menyelesaikan tugasnya.

Dampaknya, jika mengalami kesulitan, mereka mudah patah semangat. Kalaupun berusaha akan menggunakan jalan pintas yang dirasa mudah dan memuaskan. Alhasil, tujuan pendidikan yang harapannya mampu memuliakan manusia karena ilmu dan amalnya, nilai yang diperoleh seakan hanya bersimbol angka-angka. Tanpa memiliki nilai substansi atau value yang diharapkan melekat saat mereka lulus dari bangku sekolah.

Kondisi ini semakin diperparah kurangnya perhatian keluarga terhadap perkembangan pendidikan anak. Banyak orang tua terpaksa berpisah dengan anak. Lantaran menghabiskan waktunya bekerja demi tuntutan ekonomi. Jangankan berfikir bagaimana mengembangkan potensi anak, mengajarkan kebiasaan dan budi pekerti di rumah saja tidak ada kesempatan.  Akhirnya, di luar rumahlah dia dibesarkan. Baik atau buruk, lingkunganlah yang akhirnya membentuk kepribadiannya.

Derasnya arus informasi dan globalisasi, menambah deretan panjang tantangan pendidikan saat sekarang. Penggunaan teknologi gadget di kalangan remaja misalnya. Jika tidak dibekali dengan arahan dan pemahaman yang benar, pengaruh positif yang harapannya ada, akan tergerus dengan info-info negatif yang tidak disadari mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka.  Dampaknya, langkah instan menjadi jaminan. Jika berharap sesuatu, inginnya serba cepat, mudah dan nyaman tanpa mau kerja keras. Keinginannya besar tapi tidak dibekali kemampuan karena tidak ada keinginan untuk belajar. 

Ini menjadi tantangan besar bagi orang tua dan para pendidik di lembaga pendidikan. Penanaman pendidikan karakter harapannya mampu mengembalikan makna pendidikan yang sebenarnya. Menurut Undang-undang No.20 Tahun 2003, pendidikan memiliki makna sebagai usaha sadar dan terencana untuk membangun/membentuk kepribadian yang khas dari peserta didik. Yaitu kepribadian yang bercirikan kejujuran, tangguh, cerdas, peduli, tanggung jawab, kerja keras, pantang putus asa, tanggap, percaya diri, suka menolong, mampu bersaing, professional, ikhlas, gotong royong, cinta tanah air, amanah, disiplin, toleransi, taat dan lain-lain perilaku yang berakhlak mulia. Betapa luhur jiwa seseorang yang memiliki pribadi mampu memilah dan memilih apa yang bisa dilakukan untuk memberi manfaat yang besar.

Selaras dengan makna pendidikan tersebut, pada mata pelajaran ekonomi, salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam membangkitkan semangat belajar adalah dengan menanamkan karakter entrepreneur dalam diri siswa. Sikap mental dan cara pandang yang benar untuk membangun persepsi, memiliki kontribusi besar menuju kesuksesan. Seperti kata Norman Vincent Peale dalam sebuah buku berjudul Success@work karangan Freddy Liong, MBA, CBA, ACMC menyebutkan bahwa “Setiap kenyataan yang kita hadapi tidaklah sepenting sikap kita terhadap kenyataan itu, karena cara pandanglah yang menentukan kesuksesan atau kegagalan”.

Dalam bahasa Indonesia, istilah entrepreneur sering diterjemahkan sebagai wirausaha. Secara sederhana wirausaha dapat diartikan sebagai seseorang yang berani melakukan usaha sendiri. Sedang menurut Thomas W. Zimmerrer (2008), pengertian entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif dan berperilaku inovativ untuk memecahkan masalah, memanfaatkan peluang dan dalam menghadapi tantangan hidup.

Adapun sifat-sifat karakter entrepreneur menurut Alma (2008, 53) di antaranya memiliki karakter percaya diri, berorientasi masa depan, kreatif dan inovatif, memiliki jiwa kepemimpinan, berani mengambil risiko, keorisinilan (memiliki ide besar), dan berfokus pada prestasi yang ingin dicapai.

Dari sini, penulis mengajak pada rekan-rekan guru menerapkan karakter entrepreneur. Sebagai alternatif pendekatan pembelajaran ekonomi. Diawali membangun persepsi yang benar tentang cara belajar dan menanamkan karakter entrepreneur. Harapannya dapat menjadi ledakan energi dalam proses belajar mengajar. Melalui kisah-kisah nyata dan inspiratif dari perjalanan para pelaku bisnis, akan mengajarkan bahwa kesuksesan tidaklah datang tiba-tiba. Apalagi hanya berlaku sesaat. Perjalanan menuju sukses bagi seorang entrepreneur, banyak dihiasi dengan tantangan, perjuangan dan  penuh dengan hantaman kerasnya kehidupan.

Dalam proses belajar tentu akan menghadapi hal yang sama, walaupun dengan tantangan yang berbeda. Ketangguhan pejuang-pejuang bisnis dalam menghadapi tantangan kehidupan. Mengajarkan kepada peserta didik bahwa dalam proses belajar pasti akan menghadapi tantangan dan ujian. Berlatih sabar, pantang menyerah dan karakter-karakter lainnya akan membentuk sikap dan kebiasaan. Dan akhirnya akan terwujud kepribadian sebagaimana yang diharapkan.

Jika karakter-karakter ini tertanam kuat dalam jiwa peserta didik, maka akan terwujud harapan besar di negeri ini. Orang-orang sukses akan lahir dari generasi “emas” Indonesia yang tidak lagi banyak bergantung dengan negara lain, tapi mampu mandiri dengan karya-karya besar yang mampu bersaing dengan dunia internasional. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia