Senin, 23 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Features
Lia Ayun L, Tunarungu-wicara yang Berprestasi

Dapat Penghargaan Berkat Tari Kretek

20 Maret 2019, 08: 57: 13 WIB | editor : Ali Mustofa

IKUTI LOMBA: Lia Ayun Lestri sedang menari dalam lomba FLS2N tingkat Provinsi Jawa Tengah baru-baru ini.

IKUTI LOMBA: Lia Ayun Lestri sedang menari dalam lomba FLS2N tingkat Provinsi Jawa Tengah baru-baru ini. (DOK PRIBADI)

Share this      

Melestarikan budaya bisa dilakukan siapa saja. Tak terkecuali penyandang tunarungu dan tunawicara. Lia Ayun Lestari salah satunya. Meski memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, siswa SMALB Sunan Muria Kudus ini, mampu menari dengan lincah. Karena kepiawaian itu, gadis ini pernah menyabet juara III FLS2N Provinsi Jawa Tengah khusus untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) pada 2016 lalu. Juga menjadi juara harapan I dalam kompetisi yang sama di tingkat Jawa Tengah pada 2017.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Kudus

 TANGANNYA mengayun-ayun mengikuti irama musik. Kadang lemah gemulai. Kadang dipercepat. Dalam empat ketukan setelah menggerakkan tangan, perempuan itu mulai memutar badan. Tangannya terampil membawa tampah (nampan berbahan bambu) sambil memainkannya. Seolah mengayak sesuatu. Bibirnya menyungging dan terus berlenggak-lenggok. Penampilan gadis itu cukup menghibur.

BELAJAR MENARI: Lia Ayun Lestari (kanan) sedang belajar menari didampingi Nyna Adhitama, wali kelasnya baru-baru ini.

BELAJAR MENARI: Lia Ayun Lestari (kanan) sedang belajar menari didampingi Nyna Adhitama, wali kelasnya baru-baru ini. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

Namanya Lia Ayun Lestari. Dia seorang tunarungu-wicara berusia 18 tahun yang berasal dari Kudus. Meski tunarungu, Lia -sapaan akrabnya- menari seolah mengikuti suara rancak dari tarian Kretek.

Lia memiliki tinggi sekitar 160 cm, bertubuh langsing, dan berparas manis. Meski memiliki keterbatasan, Lia selalu tampil percaya diri dan ceria. Bahkan dia tak segan mengajari temannya menari.

Di sekolah, dia tergolong siswa yang pandai. Lia selalu mendapat nilai di atas rata-rata dalam setiap mata pelajaran. Tak heran, gadis ini selalu mendapat peringkat II di kelas. Kadang justru peringkat I. ”Saya suka semua pelajaran,” kata Nyna Adhitama, wali kelas XII SMALB Sunan Muria Kudus menerjemahkan berdasarkan bahasa isyarat yang diperagakan Lia.

Lia menjelaskan melalui Nyna, sejak usia delapan tahun mulai senang menari. Kala itu, dia melihat acara tari di Kudus. Kagum dengan gerakannya, dia mencoba menari sendiri. ”Sejak saat itu saya mulai tertarik menari. Saya bertekad, jika ada kesempatan akan menari,” katanya.

Benar saja, setelah masuk SMPLB, dia mulai diajari menari. Berlatih cukup lama, Lia akhirnya menjadi juara I menari dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) khusus anak berkebutuhan khusus (ABK) tingkat kabupaten pada 2016 lalu. Dia pun melaju ke FLS2N tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dia menyabet juara III. Baginya itu awal yang cukup baik.

Lomba pun berlanjut di tahun berikutnya. Dalam ajang yang sama dia mampu menjadi juara I lagi tingkat kabupaten dan menjadi juara harapan I di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Gadis yang berdomisili di RT 3/RW 3, Desa Pasuruhan Kidul, Jati, Kudus, ini mengaku, memang menyukai tari tradisional. Baginya, tari tradisional dapat melatih kesabaran, konsentrasi, dan membuat bahagia. ”Semakin banyak saya menari, semakin banyak pula kebahagian yang saya dapat,” tuturnya. Tak heran, dia mengaku akan tetap konsisten menari.

Selain tari Kretek, Lia juga menguasai tari Jenang, tari Gambyong, dan beberapa tari tradisional lain. Selain menarik, tari tradional memang perlu dilestarikan. Jika tidak, tari-tari itu bisa direbut negara lain atau punah begitu saja. ”Seni dan budaya berhak dilestarikan siapa saja. Meski oleh saya yang berkebutuhan khusus,” katanya.

Bagi anak tunarungu-wicara sepertinya, menari memang suatu hal yang sulit dilakukan. Tetapi menjadi mudah jika sudah terbiasa. Lia menjelaskan, setiap kali menari selalu menggunakan rasa dan insting. Dia juga dibantu dengan hitungan dan ketukan untuk berganti gerakan. ”Awalnya memang sulit. Namun lama-lama terbiasa. Butuh kesabaran,” terangnya.

Ufin Nada, guru tari Lia mengaku, sejak lama sudah menyukai tari. Baginya, dengan tari hidup menjadi lebih berarti. Maka, dia pun memutuskan menjadi guru tari. Lama menjadi guru tari anak normal, dia pun tertarik mengajar anak berkebutuhan khusus. Meski sulit, dia terus berusaha mengajar.

Untuk mengajar anak berkebutuhan khusus, dia memiliki trik tersendiri. Biasanya anak diajari hitungan. Kemudian Ufin mulai mempraktikkan satu tarian dan anak didiknya diminta meniru. Setelah mampu meniru, anak akan diajari ketukan. Ketukan itu disesuaikan dengan musik. ”Awalnya memang sulit. Komunikasi yang berbeda membuatnya ekstra sabar. Beruntung Lia memiliki bakat tari yang cukup baik,” ungkapnya.

Selain mengajar tari, guru tidak tetap (GTT) di SD Kramat Kudus ini, juga ingin mengenalkan tari tradisional sekaligus melestarikannya. Sebab, tidak banyak anak muda yang menyukai tari tradisional. Kebanyakan lebih senang modern dance. Maka anak didiknya selalu dididik untuk mencintai seni dan budaya. Melestarikan seni sama saja menjaga seni. Baginya, itu tugas mulia sebagai warga Indonesia.

Suwasto, 44, ayah Lia mengaku sejak usia tujuh tahun, gendang telinga anaknya didiagnosis bermasalah. Kata dokter Kris, putrinya itu memiliki kelainan gendang telinga. Dia sempat frustasi. Lia diajak berobat ke mana-mana. Di Kudus sendiri hingga ke Semarang. Namun, usahanya itu sia-sia. Lia tak sembuh dan harus menggunakan alat bantu dengar. ”Seminggu setelah lahir, anak saya demam tinggi. Saya begitu khawatir. Makanya saya mencoba berobat kemana-mana. Namun tidak berhasil,” tuturnya.

Suwasto pun disarankan dokter Kris memasukkan Lia ke SLB saat besar nanti. Sebab Lia memiki kecerdasan seperti orang normal. Hanya pendengarannya terganggu.

Mulai beranjak dewasa, Lia muali aktif. Dia sering kedapatan meniru tarian di televisi. Lia juga pandai menggambar. Untuk itu, Suwasto dan istri mendukung penuh anaknya berkembang. ”Saya perbolehkan menari atau menggambar. Semua saya dukung penuh,” katanya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia