Senin, 23 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Features
M Zufron, Tunanetra yang Pentas di 6 Negara

Ajarkan Pendidikan Budaya Melalui Gamelan dan Rebana

19 Maret 2019, 12: 41: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

MENCINTAI SENI DAN BUDAYA: Penyandang tunanetra Muhammad Zufron dan Fatkhur Rohman di ruang gamelan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Pendawa Kudus.

MENCINTAI SENI DAN BUDAYA: Penyandang tunanetra Muhammad Zufron dan Fatkhur Rohman di ruang gamelan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Pendawa Kudus. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

Share this      

Di tengah keterbatasan, Muhammad Zufron, seorang tunanetra asal Kudus itu terus mengajarkan seni dan budaya sekaligus melestarikannya. Pernah melakukan pertunjukan di enam negara, kini Imron –sapaan akrabnya –memilih mengajar musik untuk tunanetra. Mulai dari alat musik petik, tekan, hingga gesek. Bahkan dia juga mengajarkan Gamelan dan Rebana sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dijaga.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Kudus

NING nong neng gung ning nong neng gung. Alunan melodi dari lempengan saron, demung, bonang, dan kenong terdengar bersahutan. Merdu sekali. Tak ketinggalan, suara gong dan rancak kendang membuat suasana kian semarak pagi itu.

LATIHAN GAMELAN: Meski dalam keterbatasan, penyandang tunanetra latihan gamelan dipandu oleh Muhammad Zufron yang juga guru tunanetra.

LATIHAN GAMELAN: Meski dalam keterbatasan, penyandang tunanetra latihan gamelan dipandu oleh Muhammad Zufron yang juga guru tunanetra. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

Kebo giro mengalun dengan mulus. Getaran suaranya masuk ke daun telinga dengan baik. Melodinya mengalun indah. Suaranya menyelinap dibalik kelas-kelas kosong. Merambah ke segala penjuru ruangan. Terus mengalun seperti menunggu mempelai laki-laki bertemu dengan mempelai perempuan.

Siapa sangka kemerduan suara itu berasal dari gamelan yang dimainkan penyandang tunanetra di Panti Pelayanan Disabilitas Netra Pendowo Kudus. Meski memiliki keterbatasan, mereka mahir memainkan gamelan.

“Ayo pakai slendro. Siji, loro, telu (satu, dua, tiga) mulai,” kata Muhammad Zufron, guru gamelan saat memulai pertunjukannya kembali.

Mendengar aba-aba, siswa tunanetra pun mulai mengetuk saron, bonang, dan alat gamelan lainnya sesuai ketukan. Dua bait dimainkan, salah satu dari mereka salah mengetuk alat. Iramanya pun mulai tidak senada. Namun beberapa menit kemudian mulai seirama lagi. Kompak.

Usai Kebo Giro, gamelan ditabuh kembali dengan lagu ‘Gugur gunung’. Lagunya lebih atraktif daripada kebo giro. Menurut Muhammad Zufron atau Imron gugur gunung memiliki arti persatuan dan kesatuan dalam bekerja. “Ayo mulai lagi,” Imron mulai memberi aba-aba.

Pagi itu cuaca cerah. Matahari cukup bersahabat. Tak heran, usai bermain gamelan, penyandang tunanetra berhamburan keluar ruangan. Mereka menuju tempat favorit. Ada yang ke taman, duduk di depan asrama hingga ruang gamelan.

Guru mereka, Muhammad Zufron atau yang biasa dipanggil Imron itu berjalan di belakang muridnya. Dia juga tunanetra. Meski sudah familiar, dia nyaris membentur kayu penyangga. Beruntung, tangannya tanggap dan meraih kayu terlebih dahulu. Setelah itu, menaiki tangga. ”Yang jatuh jempalikan ya sudah biasa. Saya juga sering terjatuh,” kata lelaki berusia 51 tahun ini. Maklum, jalanan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Kudus seperti rumah sakit. Panjang dan berkelok.

Imron mengaku, sudah sepuluh tahun mengajar seni. Baik seni musik, gendhing, maupun rebana. Meski tunanetra dan mengajar tunanetra, Imron tetap senang menjalani profesi ini. Bahkan, dia ingin mengajak anak didiknya mencintai seni dan budaya.

Lelaki kelahiran Kudus, 11 April 1968 mengatakan, mulai mencintai musik sejak duduk dibangku SDLB. Saat itu, Imron kecil senang mendengarkan musik. Baru saat duduk dibangku SMPLB di Pemalang, Imron mulai belajar bermain gitar. Rupanya kesenangannya akan musik terus berlanjut. Hingga dia memutuskan sekolah musik di Bandung.

Saat di Bandung kemampuannya pun bertambah. Dia sudah mampu bermain drum, piono, bass, gamelan, hingga rebana.

Memiliki musikalitas dan minat yang tinggi, Imron membentuk grup band. Dia dan temannya mulai show di beberapa kafe di Bandung. Group band ini laris manis. Show dari stau kafe ke kafe lainnya. Tak heran, beberapa saat kemudian, Imron beserta teman-temannya dikontrak salah satu restoran untuk manggung selama tiga tahun. ”Kalau dulu, sekali manggung saya digaji Rp 150 ribu. Cukup mahal pada 1993,” ujarnya.

Meski tunanetra, pergaulan dengan band asal Bandung cukup banyak. Misalnya saja group band Noah yang saat itu bernama Peterpan. Selain  itu, dia juga mengenal Naff, Rika Roeslan, dan sederet pemusik papan atas lainnya.

Tak cukup manggung di kafe, Imron pun mengambil kesempatan untuk manggung di Papua. Gajinya lumayan. Sekali manggung, Imron bisa mengantongi bayaran sejuta. Kariernya semakin mulus saat dia show di beberapa negara. Mulai di Singapura, Australia, Beijing, Maroko, Italia, hingga Spanyol. Ini salah satu pembuktian, dia masih diperhitungkan.

”Di dalam grup band saya kala itu, tidak semua tunanetra. Ada yang normal. Jadi saya bersyukur bisa mewakili para tunanetra dalam show tersebut,” katanya. Show itu berlangsung sejak 1993 hingga 1998.

Karena suasana politik tidak kondusif, Imron pulang ke Kudus. Sempat menolak mengajar, akhirnya pada 2006 dia memulai mengajar musik di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Pendawa Kudus.

“Saya belajarnya empiris. Diskusi dengan teman dan langsung praktik. Usai krisis  moneter, saya sempat ditawari mengajarkan musik. Namun saya tolak. Alasannya karena kesulitan komukasi. Apalagi muridnya sama-sama tunanetra. Namun belakangan benteng pertahan saya runtuh juga. Saya justru termotivasi untuk mendidik anak tunanatra yang sering dipandang sebelah mata. Makanya, saya bersyukur bahwa apa yang saya pelajari dulu rupanya berguna sampai sekarang,” katanya.

Tak hanya mengajar musik, dia juga konsen mengajar gamelan. Baginya seni tradisional ini mulai terpinggirkan. Tidak banyak sekolah yang melestarikan seni satu ini. Selain peralatannya mahal, tidak banyak guru yang serius mendalami gamelan. Padahal gamelan harus dilestarikan sebagai warisan budaya.

“Budaya itu milik semua orang. Tak terkecuali tunanetra. Salah satu cabang budaya  yakni kesenian gamelan. Untuk itu, visi saya mengajar karena kami semua ini penerus kebudayaan. Penerus tidak hanya yang normal saja. Kami yang memiliki keterbatas juga wajib melestarikan,” terangnya.

Selama tiga belas tahun mengajar, sekolah ini telah mengantarkan anak didiknya menjadi juara. Salah satunya menjadi juara I musik tingkat Jawa Tengah. Selain itu, peserta didiknya sering diundang ke acara pengajian untuk bermain rebana. ”Lumayan untuk pengalaman,” paparnya.

Ditanya tentang mendidik anak tunatera, dia mengaku sering mengalami kesulitan. Khususnya dalam berkomunikasi. Sebab dia dan anak didiknya sama-sama tunanetra.

“Saya memulainya dengan teori seni dan budaya terlebih dalu. Sekaligus menjelaskan apa pentingnya seni dan budaya untuk kehidupan ini. Setelah paham, anak-anak saya jelaskan jenis-jenis alat musik. Kemudian saya ajak mereka memilih alat musik yang disuka. Lalu mereka saya minta untuk meraba alat musik seperi saron, gong, hingga peking. Setelahnya saya ajak mereka memainkan satu per satu alat musik. Ketika sudah mahir, anak-anak saya minta untuk menghafal not suatu lagu. Saat sudah hafal, baru memainkan alat musik masing-masing. Prosesnya lama dan rumit. Jadi memang harus sabar,” tuturnya.

Kendala mengajar juga sering dirasakan Imron. Terlebih memainkan gamelan harus kompak. Ketika satu orang tidak fokus, maka suaranya pasti sumbang. ”Kemampuan siswa memang beda-beda. Ada yang cepat menghafal. Ada pula yang lama. Makanya saya selalu menekankan pada anak-anak untuk menjadi diri sendiri dan fokus dalam melakukan apa saja,” katanya.

Seperti guru musik di sekolah umum, Imron juga mengalami pergantian personel. Setiap tahunnya ada saja personel gamelan yang berganti. Penyebabnya karena anak-anak sudah lulus. Makanya setiap tahunnya, Imron memulai pengajaran dari nol. “Ya memang kondisinya begitu. Namun saya betul-betul menikmatinya. Itulah asyiknya menjadi guru musik,” akunya lantas tersenyum. 

Fatkhur Rohman, salah satu peserta didik mengatakan, senang bermain musik sejak sekolah di sana. Awalnya hanya bisa satu alat musik saja, namun lama-lama ingin mencoba alat musik lainnya. Tak heran, dia menguasai berbagai alat musik seperti gitar, drum, piano, hingga bass. Selain itu, dia mampu memainkan gamelan dan rebana. ”Kalau rebana sejak kecil saya sudah belajar di musala dekat rumah. Jadi sudah terbiasa. Untuk gamelan baru saya pelajari di sini,” katanya bersemangat.

Ketertarikan Fatkhur akan seni tumbuh seiring dengan perkenalannya dengan Imron. Imron yang selalu bermain musik rupanya mencuri perhatiannya. “Seringnya mendengar alunan musik dari pak Imron membuat saya ingin belajar musik. Setelah belajar memang menyenangkan,” katanya.

Kata Imron, Fatkhur tergolong murid yang cerdas dan memiliki bakat bermusik cukup baik. Ketika diajari satu alat musik, Fatkhur meminta diajari yang lain dengan waktu relatif singkat. “Dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dengan kemahirannya ini, saya yakin Kudus masih memiliki penerus kebudayaan sepeninggal saya nanti,” imbuh Imron. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia