Senin, 23 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Features
Siswa MAN 1 Kudus Peraih Perunggu di Thailand

Ciptakan Robot Pendeteksi Gunung Meletus

19 Maret 2019, 10: 24: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

RAIH MEDALI: Dari kiri, guru pembimbing dari MAN 1 Kudus Ahmad Edi Darmawan, Alfi Fatimatuz Zahro, Azzalira Alayya Zahwa, dan guru pembimbing Arif Noor Adiyanto saat menerima medali perunggu dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok IPITEx.

RAIH MEDALI: Dari kiri, guru pembimbing dari MAN 1 Kudus Ahmad Edi Darmawan, Alfi Fatimatuz Zahro, Azzalira Alayya Zahwa, dan guru pembimbing Arif Noor Adiyanto saat menerima medali perunggu dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok IPITEx. (MAN 1 KUDUS FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro, dua siswa MAN 1 Kudus mengharumkan nama Indonesia di Thailand. Mereka meraih medali perunggu di Thailand Inventors Day dan Bangkok Internastional Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPTEx). Prestasi tersebut, didapat berkat membuat robot pendeteksi gunung meletus.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 DUA siswi kelas X MIPA-3 MAN 1 Kudus, Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro begitu bersemangat saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus di sekolahnya kemarin. Mereka saling bergantian menceritakan pengalaman pertamanya terbang ke luar negeri dan ikut kompetesi tingkat internasional.

Kesan bertemu dengan banyak teman dari berbagai negara menjadi pemicu semangat mereka untuk terus berprestasi. Melalui karya robot Masugemo (monitoring suhu, getaran, dan karbon monoksida) dua siswi MAN 1 Kudus itu, mewakili Indonesia dalam lomba internasional di Bangkok, Thailand pada Sabtu (2/2) hingga Rabu (6/2) lalu.

Mereka berhasil meraih medali perunggu dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition (IPITEx) di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand.

Karya inovatifnya juga berhasil meraih Special World Invention Intelectual Properly Associations (WIIPA) dari Taiwan. Pencapaian tinggi ini, tak terlepas dari keprihatinan mereka terhadap fenomena gempa bumi dan gunung meletus yang memakan korban jiwa di Indonesia.

Azzalira menceritakan pengalaman saat mengikuti lomba. Mereka terheran-heran. Sebab, peserta yang mengikuti lomba itu, karya-karyanya luar biasa. Seperti mimpi, kali pertama pergi ke luar negeri dan harus bersaing dengan orang-orang pintar dari negara lain.

Dia juga memaparkan, awal mula tercerus ide membuat robot mendeteksi gempa bumi. Mengingat Indonesia akhir-akhir ini sering mengalami musibah gempa bumi, khususnya kejadian di Palu.

”Ide ini kami utarakan kepada pembimbing kami, Pak Arif Noor Adiyanto dan Pak Ahmad Edi Dermawan. Melalui diskusi dan pertimbangan bersama, kami kemudian mencari-cari referensi terkait dengan cara kerja robot. Lalu merancang robot itu,” terangnya.

Kemudian, untuk mendeteksi gunung meletus butuh deteksi suhu. Maka dua siswa tersebut, juga melakukan uji coba suhu dan gas monoksida, sehingga robot tersebut bisa bekerja deteksi gunung meletus.

Setelah melalui uji coba berulang-ulang dengan arahan guru pembimbing, Azzalira dan Alfi berhasil merakit robot yang diberi nama Masugemo dengan baik. Kerja robot tersebut juga dijelaskan Alfi, yakni indikator meningkatnya aktivitas gunung berapi dapat diketahui dari meningkatnya suhu, getaran, dan gas karbon monoksida.

Alat ini terdiri dari beberapa komponen sensor yang bisa menangkap peningkatan getaran, suhu, dan gas monoksida. Di dalam robot juga dipasang alat yang bisa mengirimkan pesan singkat ke ponsel berisi peringatan-peringan sesuai tangkapan sensor dalam robot.

Kemudian, alat tersebut diletakkan di lereng gunung berapi. Nantinya, dari alat itu akan mengirimkan pesan bila terjadi peningkatan suhu, getaran, dan gas karbon monoksida sebagai peringatan dini bencana meletus berbasis short message service (SMS).

Alfi menambahkan, sebelum mengikuti lomba tingkat internasional ini, robot buatannya sebenarnya telah lebih dulu meraih juara I Madrasah Aliyah The Best and Simple Construction Rancang Bangun Mesin Otomatis Bencana oleh Kementerian Agama pada 2018 lalu.

Meski pernah disertakan dalam lomba, namun robot ini telah mengalami pengembangan, seperti ditambah miniatur gunung, pemanas, dan pemberi getaran. ”Pada even Thailand Inventors Day tersebut, karya yang disertakan memang harus sudah pernah meraih juara di tingkat nasional,” terang Alfi.

Salah satu pembimbing Ahmadi, menambahkan, setelah juara di lomba Kementerian Agama, robot ini ditambah dengan inovasi baru atau penyempurnaan. Untuk bisa mengikuti even internasional, produk inovatif buatan siswa harus mengikuti seleksi tingkat nasional.

”Dari ratusan karya, tim MAN 1 Kudus berhasil lolos bersama tim lain dari beberapa SMA ternama dan perguruan tinggi di Indonesia. Tim yang mayoritas lolos berasal dari universitas terkemuka di Indonesia. Untuk itu, kami sangat bersyukur dan sangat mengapresiasi siswi MAN 1 Kudus ini,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia