Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Penanaman Disiplin melalui Apel Pagi

19 Maret 2019, 09: 46: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

Tri Sulastri , S.Pd.; Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMKN 1 Purwodadi

Tri Sulastri , S.Pd.; Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMKN 1 Purwodadi (dok pribadi)

DISIPLIN merupakan kata yang sederhana. Namun sangat syarat makna. Makna yang luar biasa dari kata ini seperti yang disampaikan salah seorang ahli, Jamal Ma’mur (2013: 99). Dia mengungkapkan dimensi dari disiplin adalah disiplin waktu, menegakkan aturan, sikap, dan menjalankan ibadah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan keseluruhan pemaknaan disiplin mencakup segala hal di kehidupan kita. Penanaman disiplin bisa berasal dari diri sendiri. Mulai lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, bahkan lingkungan sekolah.

Terkait dengan  penanaman disiplin, SMK Negeri 1 Purwodadi berupaya menanamkan sikap disiplin sebagai salah satu bentuk penanaman karakter pada peserta didik. Program kegiatan apel pagi di sekolah itu suatu upaya pembentukan karakter pada peserta didik, dari aspek kedisiplinan.

Disiplin waktu sebagai salah satu bentuk penanaman disiplin di lingkungan SMK itu. Pada situasi ini, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai kedisiplinan yang tertuang pada aturan sekolah, yaitu program kegiatan apel pagi yang diikuti seluruh warga sekolah. Dimulai pukul 06.45 WIB sampai pukul 07.00 WIB.

Pada awalnya kegiatan ini dirasa berat oleh sebagian besar peserta didik. Terutama peserta didik yang bertempat tinggal jauh dari sekolah atau luar kota. Hal ini tampak pada kenyataan yang terjadi masih sebagian peserta didik terlambat masuk sekolah.

Untuk menangani hal tersebut memberikan tugas kepada guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraa (PPKn) dan guru bimbingan konseling sesuai kelas yang diampu.  Penulis sebagai salah satu guru PPKn menerapkan strategi pemberian punishment bagi peserta didik yang terlambat, yaitu dengan menyanyikan lagu nasional di depan kelas pada waktu pembelajaran. Jika peserta didik mengulangi hal itu kembali maka diperlakukan sama tetapi dengan lagu yang berbeda.

Hal ini membawa dampak yang positif. Pertama, penerapan program ini menimbulkan pengurangan jumlah peserta didik yang terlambat. Kedua, semua warga sekolah memiliki waktu yang lebih untuk mempersiapkan diri dalam pembelajaran. Ketiga, hal ini merupakan strategi gethok tular artinya peserta didik yang terlambat akan termotivasi untuk datang lebih awal karena peserta didik yang datang dapat hadir lebih awal.

Keempat, kegiatan ini membuat seluruh warga sekolah lebih bisa mengatur waktu. Semua warga sekolah akan bisa mengatur waktu dengan baik, serta menahan diri untuk melakukan hal yang tidak perlu di pagi hari. Selain itu, persiapan lebih pagi juga akan membuat pikiran peserta didik menjadi lebih segar. Strategi yang dilakukan tersebut membawa dampak secara umum bahwa semua warga sekolah mengikuti apel pagi yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran diri tanpa ada paksaan yang dirasakan.

Penerapan program ini mampu membuat peserta didik menjadi individu yang berkarakter. Sehingga setiap individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang dilakukan. Meskipun pada awal pelaksanannya menimbulkan kontroversi, namun pada praktik yang terjadi di lapangan warga sekolah mulai terbiasa dengan program tersebut.

Melalui program kegiatan apel pagi diharapkan semua warga sekolah bisa memiliki dan menerapkan karakter disiplin. Selain itu, melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik mampu mewujudkan prestasi yang gemilang menuju sekolahnya juara.

Oleh karena itu, peserta didik harus mampu untuk memulai hidup dengan kesiplinan. Hal tersebut sesuai dengan sebuah pepatah ”Tulang punggung negara tetap bangun pagi, untuk membangun mimpinya”.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa melalui program kegiatan apel pagi,  kegiatan belajar mengajar di sekolah berjalan lebih kondusif. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia