Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Sepekan Jelang Kirab Banyu Kauripan, Pembuatan Gentong Dipercepat

18 Maret 2019, 14: 46: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

MEMPOLES GENTONG: Pekerja sedang menambahkan motif pada gentong. Gentong itu nantinya akan dikirim ke desa yang mempunyai mbelik.

MEMPOLES GENTONG: Pekerja sedang menambahkan motif pada gentong. Gentong itu nantinya akan dikirim ke desa yang mempunyai mbelik. (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/ Radar Kudus)

Share this      

KOTA – Sepekan menjelang kirab Bayu Kauripan, pembuatan gentong dipercepat. Hingga kemarin pengerjaan sudah mencapai 80 persen. Nantinya gentong tersebut akan dikirim ke beberapa desa yang memiliki sumber mata air atau mbelik. Sepekan lagi desa yang memiliki mbelik mengikuti kirab Bayu Kauripan di Alun-alun Simpang Tujuh.

Divisi Artistik Ta’asis Menara Kudus, Aris mengatakan, pihaknya menargetkan gentong tersebut selesai pada hari Kamis. Setelah itu, akan dilakukan pengiriman ke beberapa desa yang ikut dalam kirab Banyu Kauripan. Sedangkan untuk tahap pengiriman ke desa baru dilakukan 30 persen.

Aris menuturkan, gentong tersebut sepenuhnya sudah selesai dibuat di perajin. Namun pengerjaan yang dilakukan di Menara Kudus hanya untuk mempercantik. Pihak panitia memberikan goresan corak dan warna pada gentong tersebut.

”Untuk satu gentong biasanya dikerjakan dua orang. Sedangkan waktu pengerjaan bisa mencapai 4 jam,” tuturnya.

Aris juga membentuk tim khusus, guna menyosialisasikan tentang kirab banyu kauripan tersebut. Dengan dikerahkannya tim tersebut, ia berharap bisa mempersatukan pemangku mbelik. Sehingga mereka bisa ikut berkontribusi mengikuti kegiatan kirab di tanggal 25 Maret nanti. ”Ini ibarat ngumpulke balung kecer untuk dapat memeriahkan acara kirab nantinya,” katanya.

Sementara itu Abdul Jalil mengatakan, sebelum sumber mata air diarak menuju Menara Kudus akan dibarengi dengan khataman alquran sebanyak 19 kali. Tepat pada pembacaan doa khataman alquran itu, dijadwalkan air yang diarak sudah sampai di Menara Kudus.

Tujuan dari kegiatan itu, Jalil, menjelaskan, sebagai pengenalan tentang prasasti, baik teks dan konteksnya. Untuk menggali instrumen penggerak budaya berupa air dan makanan, termasuk situasi sosial-politik saat didirikannya ‘negeri’ Kudus. Juga sebagai upaya refleksi, untuk senantiasa mempertahankan Kudus tetap pada khiththanya. ”Nanti akan dibahas lebih lanjut pada Jagong Gusjigan, di tanggal 24 Maret,” katanya. (gal)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia