Minggu, 20 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Obat Anti Stagnan untuk Siswa Nonkreatif

18 Maret 2019, 12: 40: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

Umi Farida, S.Kom. MM.; Guru Multimedia SMK Negeri 1 Purwodadi

Umi Farida, S.Kom. MM.; Guru Multimedia SMK Negeri 1 Purwodadi (dok pribadi)

Share this      

BAHASAN tentang kreatif sangat menarik bagi mereka yang memiliki rasa keingintahuan yang besar. Juga mereka yang mempunyai ide atau pemikiran yang beda dari hal yang biasa atau hal yang sudah ada sebelumnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata kreatif adalah memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan. Sedangkan hasil dari daya cipta tersebut adalah kreativitas. Menurut Conny R Semiawan (2009: 44) kreativitas adalah modifikasi sesuatu yang sudah ada menjadi konsep baru. Dengan kata lain, terdapat dua konsep lama yang dikombinasikan menjadi suatu konsep baru. Sedangkan menurut Utami Munandar (2009: 12 ) kreativitas adalah hasil interaksi antara individu dan lingkungannya, kemampuan untuk membuat kombinasi baru, bedasarkan data, informasi, atau unsur – unsur yang sudah ada atau dikenal sebelumnya. Yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya. Baik itu di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari lingkungan masyarakat.

Stagnan dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya dalam keadaan terhenti. Selalu tetap tanpa adanya suatu kemajuan yang berarti. Seperti sedang berjalan, tetapi sesungguhnya hanyalah berjalan di tempat. Hal ini terjadi dalam proses pembelajaran di paket keahlian multimedia SMK Negeri 1 Purwodadi. Pada mata pelajaran teknik animasi tiga dimensi di mana mata pelajaran ini membutuhkan kreativitas dari siswa. Mata pelajaran teknik animasi tiga dimensi ini mengajarkan siswa mengenal konsep objek tiga dimensi. Bagaimana memodifikasi objek tiga dimensi tersebut sampai membuat gerakan pada objek tiga dimensi yang dikenal dengan animasi. Akan tetapi kondisi saat ini siswa cenderung hanya meniru hasil yang sudah ada.

Pada dasarnya anak adalah seorang peniru yang ulung. Sebenarnya perilaku tersebut tidaklah salah. Karena meniru adalah proses pembelajaran alami semua makhluk hidup. Kesalahan yang terjadi adalah ketika proses meniru tersebut terbawa menjadi sebuah karakter yang dimiliki anak hingga mereka memasuki jenjang sekolah lebih tinggi. Terutama pada siswa-siswi di lingkungan SMK Negeri 1 Purwodadi.  Kebiasaan meniru ini menjadikan daya kreativitas siswa sangat berkurang atau dapat dikatakan stagnan. Karena perhatian siswa fokus pada bagaimana membuat objek yang sama atau yang sudah ada.

Daya kreativitas siswa yang stagnan tersebut selain karena kebiasaan meniru, juga karena sikap yang kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Perkembangan teknologi yang pesat baik di bidang hiburan, periklanan maupun perfilman, belum mampu menggugah atau memotivasi mereka untuk dapat bersaing dengan membuat karya – karya baru. Selain itu daya dukung dari sekolah juga kurang. Baik dari segi sarana dan prasarana maupun kegiatan yang menunjang kreativitas siswanya terutama di mata pelajaran teknik animasi tiga dimensi.

Di sini dibutuhkan cara bagaimana menggali kreativitas siswa. Sehingga akan muncul karya – karya baru baik dari modifikasi hasil yang sudah ada sebelumnya atau hasil baru dari ide orisinil siswa.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Di antaranya memberikan rasa nyaman ketika siswa belajar di sekolah. Yaitu dengan keramahan guru dan rukun bersama teman- teman mereka di kelas.

Kedua memberikan kepercayaan kepada siswa – siswinya untuk mengembangkan hasil yang sudah ada sebelumnya. Sesuai dengan imajinasi dan ide kreatif mereka. Apapun hasilnya tidak pelit untuk memberikan pujian atau mengapresiasi hasil karya siswa dengan memberikan reward.

Ketiga memberikan wadah berupa kegiatan yang dapat memperdalam pengetahuan siswa tentang teknik animasi tiga dimensi. Ini bisa berupa kegiatan ekstrakurikuler, festival karya animasi tiga dimensi, dan kegiatan lain yang menunjang kreativitas siswa khususnya di mata pelajaran teknik animasi tiga dimensi.  

Oleh karena itu penulis mengajak rekan guru untuk dapat memberikan perasaan nyaman pada saat proses pembelajaran. Mengapresiasi apapun karya yang dihasilkan siswa sehingga dapat memupuk rasa percaya diri siswa. Dan memberikan kegiatan tambahan yang dapat mewadahi karya-karya siswa, sehingga akan muncul hasil kreativitas yang beraneka ragam dari siswa. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia