Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Kurangi Perilaku Off Task dengan Positive Reinforcement

18 Maret 2019, 12: 16: 28 WIB | editor : Ali Mustofa

Sudardjo, S.Pd.; Guru BK SMK Negeri 1 Purwodadi

Sudardjo, S.Pd.; Guru BK SMK Negeri 1 Purwodadi

TERDAPAT beberapa masalah perilaku peserta didik dalam proses belajar di kelas. Perilaku tersebut biasa disebut dengan off task behavior. Beberapa ahli menggambarkan perilaku peserta didik yang dikehendaki (off task behavior) di kelas. Di antaranya perilaku impulsif (impulsiveness). Tidak memperhatikan (intenttion). Tidak menyelesaikan tugas (non compelatition of task). Meninggalkan tempat duduk (out of seat). Berbicara tanpa permisi (talking without permissions). Tidak mempunyai motivasi belajar (unmotivated to learn). Tidak siap mengikuti kegiatan di kelas (umprepared for class). Dan menunggu (disruption). Jika perilaku yang tidak dikehendaki ini terus menerus dilakukan oleh peserta didik ketika proses belajar mengajar berlangsung maka dapat mengakibatkan pada kegagalan akademik. Seperti rendahnya prestasi peserta didik pada pelajaran, tinggal kelas, bahkan tidak lulus dalam ujian akhir.

Sekolah memiliki tanggung jawab besar membantu peserta didik berhasil dalam belajar. Untuk itu di sekolah layanan bimbingan dan konseling sangat penting dilaksanakan. Guna membantu peserta didik mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.

Beberapa siswa saat ini ditemukan melanggar aturan dan norma. Banyak pertengkaran, perkelahian, bullying, begal bahkan pembunuhan. Semua itu menjadi fenomena memprihatinkan. Untuk itu diperlukan niat semua komponen pendidikan dan masyarakat guna mengurangi perilaku menyimpang siswa.

Penyebab munculnya perilaku siswa yang tidak dikehendaki adalah strategi pembelajaran yang diberikan oleh guru kurang bervariasi. Guru umumnya menggunakan strategi pembelajaran tradisional. Seperti ceramah yang monoton. Tidak mempertimbangkan kemampuan masing–masing siswa. Kurang mampu menciptakan suasana belajar dan lingkungan yang mendukung siswa agar tertarik terhadap pembelajaran di kelas. Hal tersebut memicu munculnya perilaku siswa yang tidak dikehendaki di kelas.

Gibson & Mitchel (Nursalim, 2011) mengemukakan beberapa peran utama konselor di sekolah. Yakni sebagai konselor, konsultan, koordinator, agen perubahan, asesor, pengembang karir, dan agen pencegahan. Dalam penanganan masalah perilaku siswa yang tidak dikehendaki konselor berperan sebagai konsultan. Di mana konselor berkolaborasi dengan guru kelas dan guru mata pelajaran untuk membantu menangani perilaku siswa yang tidak dikehendaki. Adapun pendekatan yang digunakan dalam menangani perilaku siswa yang tidak dikehendaki adalah pendekatan modifikasi perilaku melalui positive renformacent.

Guru memberikan positive reinforcement yang dapat berupa pujian. Hadiah kepada peserta didik memiliki banyak tujuan. Antara lain meningkatkan perhatian peserta didik terhadap mata pelajaran yang sedang diajarkan. Mengembangkan rasa percaya diri peserta didik untuk belajar dan mengajarkan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Sehingga motivasi peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran dapat meningkat karena peserta didik akan merasa diperhatikan dan dihargai oleh guru di dalam proses pembelajaran. Selain itu pemberian positive reinforcement dapat mengubah tingkah laku peserta didik yang kurang baik dan mempertahankan bahkan meningkatkan tingkah laku peserta didik yang sudah baik. Kolaborasi antara konselor dengan guru mata pelajaran dalam menerapkan positive reinforcement. (*)                

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia